Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 3 Membidik

Membidik 52

“Ki Wasana,” kata Agung Sedayu. Ia tidak segera meneruskan ucapannya, tetapi pandang matanya mengitari halaman sebelah kanan rumah Ki Demang. Sejenak Agung Sedayu terlihat menggigit bibirnya, lalu tajam menatap wajah Ki Wasana yang masih pucat pasi, katanya kemudian,”Kita tidak dapat gegabah mengabarkan adanya ancaman, meski pada pemimpin pengawal.”

Dalam waktu itu, anak-anak muda yang biasa berjaga di depan regol rumah Ki Swandaru belum menampakkan kehadiran mereka. Udara yang begitu dingin menusuk tulang bisa menjadi sebab keterlambatan para peronda memulai tugas.

“Ki Wasana, aku meminta kesediaan Anda untuk menjadi orang yang dapat menyampaikan pesan-pesanku pada sejumlah orang,” ucap Agung Sedayu. “Dengan satu tambahan, Anda harus mengambil jalan memutar untuk mencapai rumah Ki Gatrasesa.”

Meskipun lega ketika mengetahui Agung Sedayu telah membuat rencana, tetapi Ki Wasana mengerutkan kening. Jalur yang dimaksud Agung Sedayu adalah jalanan yang sulit dilewati. Itu berarti harus melewati jalan setapak yang lebih mirip lorong. Satu-satunya jalan yang akan membawanya ke bagian samping rumah Ki Gatrasesa.

“Bukankah ada jalan lain yang lebih singkat, Ki Rangga?”

“Hanya jalan itu yang akan menyamarkan pergerakan kita. Persiapan tidak lagi dapat dikatakan memadai mengingat sempitnya waktu. Dan yang penting, jika mereka mengetahui seseorang sedang berjalan menuju rumah pemimpin pengawal, apakah mereka akan menunda serangan?”

Ki Wasana dapat melihat kebenaran dari pendapat Agung Sedayu lalu mengangguk. Agung Sedayu berkata pelan di dekat telinga Ki Wasana. Tampak Agung Sedayu menggerak-gerakkan tangan seolah memberi gambaran dari bagian rencananya. Sesekali Ki Wasana menghela napas, menggeleng, dan tak jarang menganggukkan kepala. Selepas itu, KI Wasana pun mengambil jalan pintas dengan memotong pategalan Swandaru agar segera tiba di jalur yang diminta Agung Sedayu.

Setelah punggung Ki Wasana menghilang dari pandangannya, Agung Sedayu masuk ke dalam rumah lalu memberikan sejumlah perintah pada Pandan Wangi dan Sekar MIrah.

Beberapa saat kemudian terdengarlah suara dari regol.

“Mereka telah datang.” Agung Sedayu menarik senyum lebar.

“Siapa, Kakang?”

“Siapa lagi jika bukan akan-anak muda yang biasa bergerombol di gardu dan regol?”

Sekar Mirah beradu pandang dengan Pandan Wangi dan sepertinya mereka telah paham maksud senapati pasukan khusus itu.

“Mereka telah mengadakan kesepakatan tentang ladang, sawah dan pategalan. Mereka pun tidak tertinggal dari prajurit-prajurit Mataram. Begitu terlatih dan mempunyai kewaspadaan tinggi. Aku minta kalian tidak bersikap ceroboh maupun gegabah saat menjalankan perintahku.” Agung Sedayu mengatakan itu di depan para peronda yang masih berusia muda ketika ia telah menggabungkan diri dengan mereka.

“Ki Rangga, apakah Ki Swandaru sudah mengetahui itu?”

“Meski Ki Swandaru tidak sedang berada di Sangkal Putung, tetapi rencana dan persiapan orang-orang itu telah diketahuinya.”

Raut gembira segera memenuhi udara di sekililing Agung Sedayu. Sosok Swandaru adalah guru sekaligus pelindung bagi anak-anak muda Sangkal Putung. Keteguhan dan ketegasan Swandaru ketika menggelar latihan dan berbagai kegiatan meninggalkan kesan mendalam pada mereka. Oleh karena itu, Agung Sedayu merasa bersyukur karena telah dimudahkan oleh adik seperguruannya dengan kerja keras.

“Lalu, sekarang, Ki Rangga. Kami ingin mendengar perintah dari Ki Rangga sebagai orang yang tentunya telah mengambil alih tanggung jawab Ki Swandaru.” Seorang anak muda yang bertubuh sedang mengacungkan jari sambil mengatakan itu. Sepertinya ia telah disepakatisebagai pemimpin di kalangan mereka.

Satu demi satu wajah para peronda dipandang bergantian oleh Agung Sedayu.

“Aku sudah mengira bahwa kalian mempunyai semangat yang sama dengan KI Swandaru,” ucap Agung Sedayu. Sambil tersenyum, Agung Sedayu bertanya, “Apakah latihan-latihan pun masih kalian lakukan selama Ki Swandaru tidak ada?”

Serempak mereka menjawab singkat, “Ya. Tentu saja.”

“Setelah ini, kalian dapat menyampaikan pesan secara berantai. Namun ingat, jangan lakukan serentak. Kalian akan mempunyai bagian dan wilayah yang akan aku paparkan. Kalian dengar dulu pesan dan perintahku.” Agung Sedayu menegaskan seolah sedang berhadapan dengan lurah-lurah pasukan khusus.

Agung Sedayu pun membagi mereka menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok tidak berjumlah sama dan mereka mengemban tugas yang berbeda pula.

Related posts

Membidik 9

kibanjarasman

Membidik 8

kibanjarasman

Membidik 7

kibanjarasman

Membidik 61

kibanjarasman

Leave a Comment