Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 16

“Rupanya pertemuan ini memang dirancang Agung Sedayu agar Anda mempunyai rasa iba  padanya,” kata penggenggam Kiai Plered yang jelas mendengar percakapan dua orang di depannya. “Saya tidak memiliki kemauan untuk menyerahkan tombak ini meski Ki Juru menghendaki. Tombak yang terlampau berharga dan tidak sebanding dengan kemampuan Mas Jolang. Raden Mas Jolang tidak sepatutnya mempunyai keinginan memulangkan Kiai Plered ke bangsal pusaka. Belum, maksud saya, Mas Jolang tidak berada pada kedudukan sepantasnya bersanding dengan Kiai Plered. Ki Juru berdua sedang menyaksikan kesempurnaan senjata ini. Kalian dapat melihatnya?” Sehasta Kiai Plered terulur maju dan perasaan bangga menyertai lelaki yang mungkin seumur dengan Ki Widura.

Ki Tunggul Pitu setapak bergeser ke samping, lebih dekat pada pemimpin pasukan khusus, lalu  berkata, “Aku kira engkau cukup beruntung, Agung Sedayu. Sangat bernasib baik masih dapat berada di dekat Kiai Plered, dan itu terjadi karena Ki Juru belum mengatakan persetujuannya atas keterangan kami.”

”Bagaimana Ki Sanak dapat menyangka itu sedangkan kalian masih menutup diri dariku?” ucap Ki Patih Mandaraka. “Seharusnya, bila kalian sungguh-sungguh menginginkan Agung Sedayu mengakui kesalahannya, setidaknya sesuatu dapat kalian tawarkan dengan cara yang baik.”

PPKM Level 4

Lelaki yang berdiri di sebelah Ki Tunggul Pitu tersenyum. “Sungguh menarik mendengar Anda melunak, Ki Juru. Meski menyisakan heran, setidaknya aku dapat menerima kemajuan ini,” katanya kemudian sambil menghitung waktu untuk menguasai keadaan. Tentu saja segala sesuatu tidak dapat  berlangsung tepat seperti yang direncanakan, tapi perubahan sikap Ki Patih Mandaraka mempengaruhi jalan pikirannya. “Pria tua yang selicik rubah. Bagus. Mungkin ia tengah menyiapkan rencana tertentu. Aku tunggu ledakan pikirannya,” katanya dalam hati.

Ketika Agung Sedayu tengah memikirkan Panembahan Hanykrawati sambil mengendapkan perasaan yang terguncang, serangkum tenaga tengah menggetar di dalam tubuhnya, menderum dan seolah-olah hendak meledak lalu menjalari setiap pembuluh darahnya. “Aku tidak dapat membiarkan Ki Patih memberi kelonggaran pada mereka. Namun begitu, apa yang dapat aku perbuat agar lepas dari jerat waktu yang ditebarkan Ki Tunggul Pitu?” bertanya Agung Sedayu pada dirinya. Ia tidak dapat menghentikan dua penghadang itu dari kata-kata buruk yang masih terlontar sangat baik. Dan menjadi kesulitan tersendiri baginya untuk mencegah Ki Patih Mandaraka agar berhenti menerima ucapan mereka. Sebenarnya, bila tak lagi mengindahkan paugeran sebagai orang muda dan bawahan, Agung Sedayu ingin menarik lengan patih Mataram lantas secepatnya meninggalkan tempat itu.

“Barangkali engkau sedang menahan diri untuk tidak mendahului menggempur kami,” kata kawan Ki Tunggul Pitu dengan tatap mata pada Agung Sedayu. “Ki Rangga, boleh jadi Raden Mas Jolang tengah menggunakan gayung untuk mengambil dua keuntungan dengan menyuruh pria tua itu mendatangi Sangkal Putung. Kemudian ia menyiapkan tempat bagimu sebagai pengganti Ki Juru. Itu sangat mudah bagi Raden Mas Jolang. Wawasanmu tidak kalah dari Ki Juru, sedangkan kemampuanmu masih dapat ditingkatkan dalam sejumlah masa ke depan. Tentu berbeda dengan Ki Juru yang beranjak menghampiri senja. Oleh karena itu, Ki Juru dan Agung Sedayu, aku sarankan agar kalian berhenti di sini kemudian berbalik arah menuju Sangkal Putung.dari masa perkabungan Anda. Atau, engkau yang bernama Agung Sedayu, segera menghabisi Ki Juru, lalu kami akan membantumu  di hadapan Raden Mas Jolang untuk membahas pergantian patih. Terbunuh sekarang atau mati esok hari sebenarnya tidak menjadi masalah besar bagi Ki Juru Martani. Usai semua itu, engkau dapat melemparkan tuduhan pada Swandaru.”

“Kami akan bekerja sepenuhnya untukmu,” sahut Ki Tunggul Pitu, “sementara Kitab Kiai Gringsing akan aku berikan padamu. Kitab itu sedang dalam pengawasanku, dan hanya aku yang tahu keberadaannya. Pikirkan ini, Sedayu.” Ujung mata Ki Tunggul Pitu melirik bagian atas, katanya, “Lakukan dengan tepat, cepat dan senyap. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”

“Kecemasan tidak semestinya mendapatkan tempat pada pikiran dan perasaanmu, Agung Sedayu. Perintah Mas Jolang sangat jelas dan terang berisi pesan : melakukan pergeseran kedudukan dan orang. Ki Juru Martani akan digantikan oleh Agung Sedayu. Lompatan yang dilandasi wawasan sangat panjang. Seorang patih baru dengan tenaga lebih kuat, tentu, akan membuat rencana Mas Jolang lebih mudah dilakukan. Ki Juru tidak akan menolak penilaian itu. Ki Juru pasti bertindak benar dengan merelakanmu sebagai penggantinya. Bila engkau menunda waktu, walau sekejap, aku pasti menyesali pertemuan ini jika Ki Rangga terlambat lalu menjalani hari dengan gelisah,” ucap kawan Ki Tunggul Pitu. Sejenak ia mengambil napas lalu menghembuskan panjang. Katanya lirih, “Sesuatu yang sangat buruk dapat menimpa keluarga Anda, Ki Rangga.”

Memulai kehidupan sebagai prajurit di masa hidup Panembahan Senapati, Agung Sedayu mengatakan bahwa ia menghargai jerih payah Ki Tunggul Pitu dan kawannya yang telah berpikir untuknya. “Saya akan menimbang saran dan pendapat-pendapat yang memenuhi udara sekitar tempat ini,” ucap Agung Sedayu sambil sedikit membungkuk dan wajah benar-benar menghadap permukaan tanah.

Ki Patih Mandaraka tertawa perlahan, lantas katanya, “Sungguh menyenangkan ketika mengetahui engkau setuju dengan mereka. Aku tidak akan menghalangimu, Ngger. Baiklah, bila engkau kembali, engkau dapat mengurus mereka berdua.”

Dua pengikut Raden Atmandaru bertukar pandang. Perkataan Ki Patih Mandaraka dan sikap Agung Sedayu berada di luar jangkauan mereka. Pada waktu itu, keduanya masih menduga-duga perkembangan yang benar-benar tidak dimengerti. Agung Sedayu sama sekali tidak membantah atau menyusun tata gerak dasar serangan. Bahkan, sikap tubuh Agung Sedayu seolah menunjukkan bahwa senapati itu telah merelakan hidup dan matinya pada mereka.

Namun, dua penghadang itu segera membuat persiapan karena Agung Sedayu sangat paham setiap jengkal tanah Sangkal Putung.

Ucapan Ki Patih Mandaraka tiba-tiba seperti pedang bermata dua.

Sedikit waktu yang dapat digunakan oleh dua penghadang untuk berunding.

Dua penghadang itu serempak berpikir sama : Agung Sedayu adalah senapati terkuat di Mataram!

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment