Padepokan Witasem
senja langit mataram, cerita silat jawa
Bab 1 Senja Langit Mataram

Senja Langit Mataram 29

Sesaat suasana menjadi hening. Sementara dua orang itu kini terlihat diam seperti berbincang-bincang sendiri  dalam batin masing-masing. Apalagi Layungpati yang hanya menjadi pendengar.

Keheningan kemudian pecah ketika Pangeran Purbaya berucap, “Baiklah, Bapa Syeh, tampaknya malam akan semakin larut,  aku harus kembali ke Mataram untuk melaporkan apa yang terjadi tentang perusuh-perusuh itu pada Ananda Panembahan. Oleh karena itu aku akan mohon diri.”

“Apakah keadaan Anakmas sudah benar-banar pulih?”

“Pengestu Bapa, rasanya sudah cukup bagiku untuk berjalan sendiri ke kotaraja.”

“Silahkan, Anakmas. Dan perihal tentang apa yang baru saja kita perbincangkan, bapa mohon hanya Anakmas Pangeran Purbaya saja yang boleh tahu tentang ini.”

“Baiklah, Bapa, aku janji. Meski sebenarnya aku juga ingin mendengar cerita banyak tentang kedua orang murid Bapa itu.”

“Hamba tidak pernah mempunyai murid, Anakmas.”

“Baiklah Bapa, aku undur diri.” Senyum Pangeran Purbaya mengembang.

“Silahkan, Anakmas.”

Orang tua itu masih termangu-mangu. Pandangan matanya masih mengarah pada bayangan Pangeran Purbaya yang kemudian lenyap di kegelapan malam.

Hal yang disinggung oleh Pangeran Purbaya dalam perbincangan malam itu seakan masih belum sirna di benak Syeh Winong. Sesekali orang tua itu menarik napas panjangnya diiringi ucapan ampunan pada Sang Pencipta dalam hatinya. Hampir saja Syeh Winong terbawa arus perasaan untuk larut dalam perjalanan hidupnya di masa-masa silam. Masa-masa di mana segala persoalan lebih banyak diselesaikan melalui pertarungan yang acap kali membawa kematian bagi lawan-lawannya, meskipun dengan dalih untuk membela sebuah kebenaran. Namun ternyata ketetapan hati orang tua itu demikian kuat. Apalagi ketika mengingat usianya yang semakin senja. Adalah satu langkah yang mulia untuk tidak lagi melibatkan diri pada urusan-urusan yang penuh dengan aroma hawa nafsu.

Atas petunjuk-petunjuk dari mendiang Pangeran Benawa yang pada akhir hidupnya hanya berserah pada kebesaran Illahi.  Syeh Winong yang dulu seorang tokoh kanuragan pilih tanding itu telah mampu menyerap hakikat ilmu kehidupan yang sempurna. Baik yang berhubungan dengan sesama titah maupun yang berhubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu di masa-masa senjanya itu Syeh Winong lebih memilih hidup jauh dari hiruk pikuk urusan keduniawian, hingga mampu lebih khusuk untuk mengenal lebih dalam dengan apa yang disebut ilmu agama yang dianutnya. Bahkan pada akhirnya Syeh Winong memiliki banyak santri-santri lepas, oleh karena memang orang tua itu tidak mempunyai pondok yang cukup untuk menampung para cantriknya.

Cukup lama Syeh Winong mematung di gelap malam yang semakin merangkak jauh itu, sampai pada akhirnya bagai terjaga dia pun membalikkan badan, berjalan memasuki surau kecilnya.

“Beristirahatlah. Malam sudah semakin jauh, kau tentu lelah setelah seharian berjalan mengiringi aku,” kata Syeh Winong pada Layungpati yang masih terdiam dalam duduknya.

“Aku belum mengantuk, Kyai,” jawab anak itu.

“Tapi sebaiknya kau istirahatlah di gandok itu.”

“Terima kasih Kyai, tapi biarlah aku di sini saja.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, Kyai, aku cuma tak biasa tidur sebelum lewat tengah malam.”

“Baiklah,” kata Syeh Winong yang memperlihatkan sedikit senyumnya. “Jika demikian aku akan mengawanimu.”

“Jangan, Kyai,” sahut Layungpati, “Kyai saja yang beristirahat, biarlah aku meronda di sini.”

Kini Syeh Winong tertawa kecil, lalu katanya, “Kau kira aku juga tidak mampu bertahan untuk tidak tidur?”

“Ampun Kyai, bukan itu maksud ucapanku, ampun Kyai… Ampun,” ucap anak itu serta merta.

“Sudahlah. Tidak ada yang salah, kenapa minta maaf?” jawab Syeh Winong yang masih terlihat tertawa kecil itu. Sebenarnyalah Syeh Winong semakin menyukai perangai yang aneh dengan anak itu. Dan sekilas orang tua itu melihat ada sesuatu yang mungkin hendak dikatakan anak itu sehingga dia berucap, “Adakah sesuatu yang ingin kau katakana, Ngger?”

“Tidak, Kyai,”  jawab Layungpati singkat.

Namun sebenarnyalah Syeh Winong dapat melihat ada sesuatu yang ditahan dalam benak anak itu. “Baiklah jika demikian, hanya pesanku jika ada sesuatu yang bergejolak di hati dan pikiranmu sebaiknya kau utarakan. Jika mungkin ada pertanyaan yang menggumpal di benakmu sebaiknya kau tanyakan. Di situlah arti seseorang mau membuka diri, bahkan dari situ pulalah jalanmu untuk mengenal jati dirimu.”  Syeh Winong menarik napasnya lalu kembali berucap, “Jika demikian aku akan beristirahat dulu. Dan jangan kau terlalu larut dalam kesendirianmu sehingga lupa untuk sekedar merebahkan badan.”

“Kyai…,” tukas Layungpati sebelum orang tua itu beringsut.

“Ada apa, Ngger?”

“Tidak, Kyai, tidak jadi.”

Syeh Winong mengerutkan kening, dan memandang Layungpati yang dirasanya semakin aneh itu. Lalu menarik napasnya, “Baiklah.”

Anak itu tidak menjawab namun mengangguk kecil. Tapi orang tua itu justru kembali berucap sebelum kakinya melangkah, “Katakanlah jika sesungguhnya ada yang ingin kau katakan. Tidak perlu takut.”

“Aku hanya ingin bertanya, kenapa Kyai sendirian di sini? Sedangkan menurut Pangeran Purbaya Kyai mempunyai dua orang murid,” tukas Layungpati kemudian.

“Ternyata itu yang ingin kau tanyakan?”

“Ya, Kyai.”

“Kenapa kau bertanya hal itu, Layung?”

“Bukankah jika ada orang yang menemani Kyai di sini tidak menjadi kesepian?”

Syeh Winong tertawa kecil. Orang tua itu seakan lupa untuk masuk ke gandoknya dan justru kembali duduk di atas tikar pandan itu.”Apakah aku terlihat kesepian, Ngger? Ada kau di sini, dan beberapa waktu lalu saudara-saudaramupun ada di sini.”

“Tapi bukankah kami tidak selamanya di sini?”

“Benar tetapi jika kalian tidak di sini pun tentu banyak penduduk sekitar pondokku ini datang.”

“Ya, Kyai, tapi mereka lalu pergi dan tidak singgah di sini bersama Kyai, tentu saat seperti itu terasa sunyi.”

“Layung,” tukas Syeh Winong kemudian, “sesungguhnya apa yang kita rasakan itu bermula dari sini, Ngger.” Syeh Winong menepuk lembut dadanya sendiri, kemudian lanjutnya, “Kau akan merasa senang jika hatimu senang, kau akan merasa sedih jika hatimu sedih, dan kau akan merasa sepi jika hatimu kau biarkan larut dalam sepi. Semua tergantung bagaimana kau membawa perasaan itu, Ngger.”

Layungpati terdiam dan semakin menundukkan wajahnya. Namun sangat jelas jika anak yang akan beranjak usia dewasa itu sangat memperhatikan ucapan orang tua itu.

“Dan kau pahamilah lagi, sesungguhnya kita sebagai manusia itu bukan titah satu-satunya di jagad ini. Sehingga hubungan dalam kehidupan itu tidak selalu di antara manusia dengan manusia. Kau bisa melihat indahnya bunga-bunga itu di siang hari, mendengar merdunya nyanyian berbagai macam burung, lalu indahnya pemandangan alam di sekitarmu sehingga tidak menjadi kesepian. Bahkan semua itu justru akan selalu mengingatkanmu siapa yang berkarya tentang itu semua, yang tidak lain dan tidak bukan Gusti Allah Yang Maha Agung.”

“Aku mengerti,” desis Layungpati lirih.

“Dan seperti pertanyaan Pangeran Purbaya itu, sebenarnya aku tidak pernah punya murid. Kecuali dua orang yang memang cukup dekat denganku beberapa tahun lalu, tapi. sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar kabar tentang mereka.”

“Berarti hanyalah sebatas kawan?” sahut anak itu.

“Bisa disebut demikian. Tapi aku menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri.”

“Siapakah mereka itu, Kyai?”

“Ah, kau ini seperti petugas praja yang ingin mengorek keterangan penjahat saja,” tukas Syeh Winong sambil tersenyum.

“Ampun, Kyai. Bukan maksudku. Baiklah aku tidak jadi bertanya.”

Syeh Winong menarik napasnya. Tapi masih terlihat orang tua itu memguntaikan senyumnya lalu menepuk-nepuk pundak anak itu.”Tidak apa-apa. Cuma nasehatku janganlah kau larut pada sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu. Termasuk tentang dua orang yang aku anggap sebagai anakku itu. Bukankah itu satu hal yang tidak ada berhubungan denganmu?”

“Ya, Kyai, aku mengerti”

“Bagus, .jika kau mampu menahan keingintahuan yang tidak terlalu berguna padamu, itulah awal yang baik untuk kau belajar mengendalikan diri. Agar kau tidak terlalu banyak mendapatkan persoalan yang sesungguhnya jauh daripada kehidupanmu.”

“Y,a Kyai.”

“Tapi baiklah, aku akan bercerita sedikit tentang keduanya meski aku tidak akan menyebut nama mereka.”

Related posts

Senja Langit Mataram 9

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 8

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 7

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment