Padepokan Witasem
senja langit mataram, cerita silat jawa
Bab 1 Senja Langit Mataram

Senja Langit Mataram 28

Hari pertama pelaksanaan penjaringan prajurit di Mataram itu tidak dapat berjalan sementara waktu. Apalagi seperti yang mereka saksikan, meskipun dua orang di antara pengikut Panembahan Pulangsara itu telah binasa di tangan orang tua itu sendiri,  namun Penembahan Pulangsara telah mampu lolos dan melarikan diri. Setidaknya itu yang telah di ketahui oleh seluruh orang-orang yang berada di halaman alun-alun itu. Mereka tidak tahu bahwa sebenarnyalah Panembahan Pulangsara itupun telah tertangkap oleh Pangeran Purbaya yang diam-diam mengejarnya, dan terpaksa membinasakan pimpinan pengacau itu di sekitar hutan sekitar Prambanan.

Oleh karena itu saat menjelang senja gelar penjaringan calon prajurit itupun di tutup dan menunggu perintah lebih lanjut kapan gelaran itu akan di lanjutkan.  Meski ada sedikit rasa kecewa,  para peserta yang terdiri dari orang-orang utama di perbagai perguruan,  kademangan bahkan dari Tanah Perdikan itu harus kembali ke tempat persinggahan mereka masing-masing di Mataram sembari menunggu hari gelaran itu di mulai lagi.

Demikian juga anak-anak perguruan Sekar Jagad, juga perguruan Randuwangi terlihat berjalan keluar dari halaman alun-alun yang cukup luas itu.

“Bagaimana ini paman?,” terdengar suara Wirantaka, murid pertama perguruan Sekar Jagad itu pada paman gurunya.

“Apa boleh buat kita terpaksa menunggu wara-wara lebih lanjut,” jawab Ki Resa Demung.

“Akan tetapi tampaknya gelaran itu tidak akan dilakukan barang satu atahu dua hari kedepan paman,” timpal Jaladara. Murid perguruan Randuwangi yang berjalan bersama mereka.

“entahlah, mudah-mudahan gelaran itu dihentikan tidak dalam waktu yang terlalu lama,” desis Ki Resa Demung, “dan panggraitaku memang tidak akan terlalu lama.

“Paman yakin?,” sahut Wirantaka.

“Mudah-mudahan. Karena persoalan membangun kekuatan prajurit ini tampaknya menjadi sesuatu yang amat penting dan mendesak untuk segera di wujudkan”

“Apakah kita akan kembli dulu ke kediaman Syeh Winong, paman?”

“Aku rasa tidak Wirantaka. Jarak kediaman Syeh Winong tentu terlalu jauh dari sini. Kita tidak akan bisa mendapat pemberitahuan dengan cepat mana kala gelaran itu akan dibuka kembali.”

Wirantaka mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya sebaiknya kita cari rumah penduduk untuk dapat kita bersinggah beberapa hari.”

“Bagaimana kalau kita mencari Ki Lurah Meranti,” sahut Jaladara tiba-tiba.

“Jangan ngger, jangan sampai kita di sini membuat repot siapapun, meskipun kita tahu Ki Lurah Meranti tentu akan mengusahakan tempat untuk kita,”  tukas Ki Resa Demung.

Demikianlah rombongan kecil itupun berbincang-bincang sambil berjalan lamban tanpa arah yang pasti. Sampai pada jalan persimpangan beberapa puluh tombak jarak dari alun-alun itu mereka serempak terhenti sesaat setelah seorang penunggang kuda menghampiri mereka.

“Ki Lurah?” desis Ki Resa Demung.

“Kalian hendak ke mana?” orang itu tidak lain adalah Ki Lurah Meranti.

“Entahlah Ki Lurah. Aku belum tahu akan senggah kemana. Atahu mungkin sementara waktu aku menunggu waktu di Prambanan. Hanya itu tempat paling dekat dimana kami punya kenalan untuk bisa kami bersinggah di tempatnya.”

“Sebaiknya jangan terlalu jauh Ki Resa Demung,” sergah Ki Lurah Meranti seraya turun dari punggung kudanya. “Aku rasa pendadaran itu akan kembali di laksanakan tidak dalam waktu terlalu lama. Aku khawatir kalian akan terlambat mengikutinya”

Ki Resa Demung menarik nafasnya dalam lalu katanya, “Baiklah Ki Lurah,  jika demikian aku dan anak-anak ini akan tetap berada di sekitar alun-alun. Aku rasa akan banyak pos parondan atahu surau-surau yang bisa kami minta palilah sekedar beristirahat.”

“Ki Resa Demung. Jika kalian mau kalian bisa singgah di gubukku,” sahut Ki Lurah Meranti.

“Jangan Ki Lurah, kami tidak ingin mengganggu ketentraman keluarga Ki Lurah atas kedatangan kami yang cukup banyak ini”

Ki Lurah Meranti justru tersenyum mendengar alasan Ki Resa Demung itu lalu katanya, “Kau jangan cemaskan itu Ki Resa Demung. Gubugku di kotaraja ini kosong. Hanya ada dua orang yang bekerja menjaga rumah itu agar tidak menjadi lusuh tak terawat”

“Maksud Ki Lurah?”

“Ya.. Gubugku itu kosong dan sementara tidak aku tinggali. Bukankah aku ini prajurit yang di tempatkan di Bendo. Tentu sementara waktu keluargaku juga tinggal di daerah itu”

“O,” sahut Ki Resa Demung termangu-mangu.

“Marilah aku antar kalian ke gubugku, namun jangan kecewa kalau gubugku hanya gubug kecil dan tidak begitu bagus. Meskipun masih mampu menampung kalian  delapan orang”

“O.. Trimakasih Ki Lurah, tidak layak kiranya kami menilai hal yang bukan menjadi hak kami untuk menilai itu. Di beri palilah untuk singgah itu sudah sangat berarti bagi kami”

“Baik mari ikut aku,” sahut Ki Lurah Meranti.

***

Sementara itu suasana hening telah menyelimuti kediaman Syeh Winong yang berada di pedalaman hutan kecil jauh dari hunian penduduk itu. Gelapnya malam yang baru saja bergulir seakan menambah kesunyian di sana. Apalagi suara-suara binatang malam yang mulai rancak melantunkan teriakan-teriakan khas mereka masing-masing, seakan menambah suasana hening dan sesekali mendesirkan hati larut dalam suasana temlawung.

Dalam keremangan cahaya senthir yang tidak terlalu terang itu  cukup membiaskan bayangan tiga sosok orang yang susuk tenang dalam ruang yang tampaknya paling luas daripada ruang-ruang yang ada dalam bangunan itu. Ruang itu adalah sebuah surau dimana ketiga orang yang tidak lain Pangeran Purbaya,  Syeh Winong sendiri dan seorang remaja yang tidak lain adalah Layungpati terlihat duduk selepas menjalankan kewajiban mereka sebagai seorang titah pada Sang Penciptanya.

Namun terlihat beberapa saat kemudian anak remaja yang tidak lain adalah Layungpati itu tampak beringsut mundur dari duduknya lalu turun mengambil tempat yang lebih rendah dari papan lantai surau itu,  sehingga terlihat menjauh dari Pangeran Purbaya dan Syeh Winong sendiri.

“Kau mau kemana ngger?,” tukas Syeh Winong pada anak itu.

“Tidak kemana-mana Kyai. tapi biarlah aku di sini saja,” jawab anak itu, sesekali tatapan mata lembutnya sekejap mencuri lihat Kearah Pangeran Purbaya lalu menunduk kembali.

Gelagat itu di lihat pula oleh salah satu dari putra Panembahan Senapati tersebut. Pangeran Purbaya itupuj tampak tersenyum meski tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Kemarilah, duduklah mendekat ke sini, jangan kau menjauh duduk di bawah tludakan itu,” kata Syeh Winong kemudian.

“Ampun Kyai biarlah aku di sini saja.” Layungpati semakin dalam menundukkan wajahnya. Sampai pada saatnya dadanya berdebar-debar mendengar suara Pangeran Purbaya.

“Siapa namamu anak muda?”

“Hamba pangeran,” jawab Layungpati dengan suara bergetar, “hamba Jaka Tole”

“Jaka Tole?” sahut Pangeran Purbaya

“Hamba Pangeran, dalam lingkungan hamba semua memanggil Jaka Tole.”

“Maksud Pangeran bertanya nama aslimu, Ngger,” potong Syeh Winong.

“iya, eh ampun Pangeran. Nama hamba Layungpati,” anak itu terlihat gugup.

“Layungpati? Namamu sangat bagus. Kenapa menjadi Jaka Tole?”

“Ampun Pangeran, hamba sendiri tidak tahu kenapa orang-orang memanggil hamba Jaka Tole”

“Baiklah Layung. Ya, bolehkah aku memanggilmu Layungpati?” tukas Pangeran Purbaya

“Hamba Pangeran, apapun kehendak Pangeran hamba sendika dawuh”

“Baiklah, sekarang kemarilah,  duduklah di sini”

“Hamba tidak berani Pangeran”

“Kenapa?”

“Hamba hanyalah anak penggembala kambing, tidak sepantasnya duduk sejajar dengan Pangeran”

“Kau tahu dimana saat ini kita berada?”

“Hamba Pangeran, ini kediaman Kanjeng Syeh”

“Yang aku maksudkan ini ruang apa?”

“Surau, Pangeran”

“Oleh karena ini duduklah di sini,  bukankah di hadapan Yang Maha Agung itu semua manusia sama? Tidak ada bedanya baik itu seorang raja sekalipun,  kecuali ketakwaan masing-masing”

“Hamba Pangeran,” sekejap Layungpati menatap wajah Pangeran Purbaya lalu kembali menunduk dalam.

“Kau boleh merasa lebih rendah atahu lebih tinggi dari orang lain pada ruang bebrayan agung. Akan tetapi di surau ini semua sama,  setara di hadapan Gusti Allah. Karena itu kemarilah, jangan menjauh seperti itu.”

“Hamba Pangeran,” perlahan Layungpati kembali beringsut mendekati kedua orang itu, lalu duduk di antaranya.

“Apakah keadaan Anakmas Pangeran sudah jauh lebih baik?,”  “ucap Syeh Winong membuka percakapan baru.

“Pangestu Bapa Syeh dan tentu atas kehendak Yang Maha Agung aku merasa tubuhku mendekati pulih”

“Syukurlah. Bapa tahu tentu pukulan Panembahan Pulangsara tidak akan cukup berarti untuk melukai Pangeran”

“Bukan begitu bapa. Di tanah jawa ini siapa yang tidak mengenal Panembahan Pulangsara? Salah satu diantara tokoh perguruan yang dijuluki Lima Tokoh Sakti yang berilmu sangat tinggi. Mungkin hanya keberuntungan saja aku dapat selamat”

“Sudahlah pangeran, sedikit banyak bapa mengenal siapa pangeran Purbaya sesungguhnya,” tukas Syeh Winong seraya tersenyum.

“ya bapa Syeh,  dan sedikit banyak aku juga tahu siapa satu di antara Tokoh Sakti dari timur itu yang mempunyai kemampuan paling tinggi, tapi juga berwatak paling andap di antara mereka”

“Maksud Pangeran?”

“Ya, Satu diantara lima tokoh sakti dari timur yang paling luar biasa kemampuannya”

“Oh…Maafkan bapa Pangeran. Mungkin karena bapa tidak pernah keluar dari gubug sehingga tidak mampu melihat luasnya dunia. Karenanya tidak mengerti tokoh yang Anakmas maksudkan,” tukas Syeh Winong.

Sementara Pangeran Purbaya terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedikit menyunggingkan senyumnya yang terlihat samar dikeremangan cahaya. Di sisi lain Layungpati hanya diam membisu namun begitu tajam mendengarkan perbincangan yang sama sekali tidak dimengertinya dari kedua orang itu.

“Maafkan saya bapa Syeh,  mungkin tidak seharusnya aku membahas tentang orang-orang dunia kanuragan di hadapan bapa. Bahkan seandainya bapa Syeh tahu sekalipun tentu bukan satu hal yang menarik untuk di perhatikan. Termasuk salah satu tokoh  dari Lima tokoh sakti tanah jawa itu”

“Tidak ada salahnya anakmas Pangeran,” sahut Syeh Winong seraya tersenyum. – – “lagi pula hamba baru saja melihat satu dari tokoh itu binasa di tangan anakmas Pangeran. Dan tentu sekarang hanya ada empat tokoh sakti dari tanah jawa itu”

“mungkin tinggal tiga bapa”

“kenapa bisa? Bukankah tadi anakmas menyebut ada lima? Jika mati satu bukakah tersisa empat?”

“benar, memang seharusnya masih ada empat orang berkemampuan tinggi itu, namun sayang, satu dari mereka telah melepas segala urusan dunia, tidak lagi mau masuk dalam  lingkungan dunia kanuragan. Dia telah menyerahkan sisa hidupnya hanya untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, dan lebih condong mengajarkan pesan-pesan surgawi dari pada berkelahi,” ucap Pangeran Purbaya.

Orang tua itu mengangguk-angguk lalu berkata, setelah melepaskan nafasnya yang panjang,  – – “Menurut hamba mungkin itu sebuah hal yang wajar pangeran. Mana kala orang sudah merasa mencapai batas pada perjalanan keduniawian dan mencari hal yang lebih berharga di akhir hidupnya, yaitu satu ruang yang sebenarnya lebih agung dari pada urusan dunia. Maka bersyukurlah orang yang punya kesempatan seperti itu sebelum ajal menjemput”

“Tapi bukankah seperti itu akan menjadikan mereka-mereka yang berperilaku angkara murka menjadi leluasa bapa?, tanpa ada lagi orang yang mampu menahannya?”

Syeh Winong menarik nafasnya sejenak lalu katanya,  – – “Nakmas Pangeran, hamba percaya bahwa segala apa yang ada di dunia ini selalu ada perimbangan dan tidak selalu bergantung pada satu orang yang mampu menyelesaikan sebuah persoalan. Dan sekalipun tiga tokoh yang anakmas Pangeran sebutkan itu berprilaku jahat, tentu ada banyak orang di dunia ini yang akan mampu mencegahnya. Bukankah baru saja Pangeran mencontohkan, dan satu dari tokoh berkemampuan tinggi itu telah binasa di tangan anakmas Pangeran?”

“bapa terlalu menyanjungku,” tukas Pangeran Purbaya seraya tersenyum, “bagiku apa yang baru saja aku lakukan itu merupakan kebetulan belaka. Meskipun aku mampu mengungguli Panembahan Pulangsara sehingga nyawaku pun hampir melayang.”

“Apapun itu kenyataannya satu dari gegedhug tanah Jawa itu binasa di tangan anakmas,” tukas Syeh Winong seraya tersenyum pula.

“Sekali lagi semua hanyalah kebetulan belaka oleh karena Panembahan Pulangsara itu membuat rusuh di Mataram hingga aku melihatnya, lalu bagaimana jika terjadi di tempat lain?”

“Percayalah, Anakmas, di mana pun perimbangan itu pasti ada, dan pastilah ada orang lain lagi yang mampu mengendalikannya. Karena tidak ada sesuatu yang paling sempurna, atahu paling digdaya di bumi ini. Dan diatas langit pasti masih ada langit.”

“Lalu bagaimana dengan Bapa sendiri?”

“Maksud anakmas?”

“Tentu Bapa Syeh pun tidak serta merta memutuskan untuk selesai dengan urusan dunia?”

“Jalan kehidupan hamba tidaklah terlalu bagus untuk dibicarakan, Nakmas,” jawab orang tua itu seakan menghindar dari arah pembicaraan.

“Mungkin itu bagi bapa. Tapi bagi orang lain tentu akan berpandangan berbeda,” Pangeran Purbaya menarik nafasnya, “Bapa Syeh adalah orang yang sangat di kenal, khususnya kalangan sentana dalem Mataram. Dan sedikit banyak akupun pernah mendengar sepak terjang di masa lalu, meskipun tidak melihat secara langsung.”

“Tentu itu  terlalu dibesar-besarkan,”  tukas Syeh Winong, “mungkin yang pernah Anakmas dengar tidak seperti kenyataan yang hamba jalani.”

“Tidak ada yang mampu membesar-besarkan sesuatu yang memang sudah besar bapa karena langit tidak pernah meminta disebut tinggi,” tukas Pangeran Purbaya dengan senyumnya. “Mungkin tidak semua orang tahu yang sebenarnya tentang bapa Syeh. Tapi Bapa jangan lupa bahwa aku adalah keluarga istana Mataram yang tentu saja tahu meski sedikit tentang Syeh Winong.”

“Hanyalah masa lalu yang sudah lama terkubur, Pangeran.” Orang tua itu diam sesaat,  tatapan matanya sejurus keluar ruangan seakan menembus pekatnya malam untuk mengingat bayang-bayang masa lalunya.

Sesaat Syeh Winong menarik nafas yang teramat dalam. Lalu berdesis dalam suara yang hampir tak terdengar,  “Mungkin yang Anakmas maksud adalah bekas Lurah Prajurit Pajang itu?,” Syeh Winong kembali diam sesaat, lalu tukasnya, “Orang itu sudah mati. Sudah tidak ada lagi”

“Mungkin dia telah mati,” sahut Pangeran Purbaya seraya mengngguk-anggukkan kepalanya, “Bapa benar ,mungkin dia sudah mati meskipun hanya namanya atau jiwanya. Tapi tidak dengan wadagnya dengan jiwa yang lahir kembali setelah mati. Lahir dengan warna yang lebih putih.”

“Nakmas Pangeran memang luar biasa dan mampu memaksa hamba yang telah renta ini untuk kembali sekedar menengok masa yang telah mati itu,” sambung Syeh Winong, “sayangnya hamba telah lupa dengan semua itu”.

“Maaf Bapa, bukan maksudku mengungkit kembali masa lalu Bapa Syeh, melainkan hanya rasa ingin tahu apakah yang selama ini aku dengar dalam lingkungan istana itu benar,” tukas Pangeran Purbaya seraya memandang wajah teduh orang tua itu. Syeh Winong tidak menjawab,  akan tetapi terlihat mengangguk kecil.

“Sehubungan dengan mendiang pamanda Pangeran Benawa?” lanjut Pangeran Purbaya.

“Begitulah,” desis Syeh Winong, “dan beliaulah yang membukakan ruang menuju jalan yang begitu damai yang hamba rasakan saat ini.”

“Lalu nama Tarmuji itu?”

“Apalah arti sebuah nama anakmas Pangeran?. Tidak ada, Ki Lurah Sarju,  Ki Tarmuji ataupun panggilan Syeh Winong., atahu Ki Singa Lawu sekalipun. Semua itu hanyalah sebuah tetenger kita hidup di dunia ini. Bagi hamba yang terpenting hanyalah bersyukur dapat menjalani hal yang paling agung di sisa-sisa umur yang mungkin tidak seberapa lama lagi ini. Yaitu samarah maring hyang suksma, Gusti Allah Yang Maha Agung.”

Related posts

Senja Langit Mataram 9

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 8

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 7

Ki Ras Haris Ph

Senja Langit Mataram 6

kibanjarasman

7 comments

Ozhi Gunawan 25/02/2022 at 13:57

Aku suka dengan cerita layungpati ini bagus

Reply
kibanjarasman 25/02/2022 at 20:50

matur nuwun, ki

Reply
Ozhi Gunawan 01/03/2022 at 06:07

Ki lanjutan nya terbit tiap brp hari?matursuwun

Reply
kibanjarasman 01/03/2022 at 08:00

wah Layungpati niki tergantung Ki Haris Ph selaku pengarang, KI..

Reply
Ozhi Gunawan 02/03/2022 at 14:03

Semoga ada lanjutan nya Ki biarpun 1 bulan sekali tetap di tunggu

Reply
Naryana 21/03/2022 at 08:47

Suwe men terusane mbah……..?

Reply
kibanjarasman 21/03/2022 at 14:15

nggeh..sami sabar nunggu wedaran..

Reply

Leave a Comment