Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem
Bab 3 Pendadaran

Pendadaran 5

”Apakah ia mengatakan itu, Kakang?”

”Tidak. Aku tahu dari tatap matanya.”

”Dan Kakang akan membiarkannya?”

”Aku mengerti watak anak perempuanmu, Nyi. Ia dapat merajuk dan mungkin saja akan menguji kemampuannya dengan para pengawal. Bukankah larangan itu akan menyurutkan perkembangan yang sudah dicapai?”

Nyi Demang menutup wajah dengan kepala tertunduk.

”Besok Ki Sarwa Jala akan datang. Sepertinya kita dapat sedikit tenang jika beliau hadir, dengan begitu, Siwagati dapat dipastikan berada di dalam perlindungannya.”

”Tetapi…” ucap Nyi Demang dengan bibir bergetar, ”sebaiknya Ki Demang juga meminta pengawal kademangan untuk bersiap. Saya ada pikiran buruk, orang-orang asing itu dapat berubah pendirian.”

”Aku kira mereka akan tetap pada pendirian semula. Mereka menemuiku untuk bekerja.”

Nyi Demang merasakan sedikit kesejukan mendengar alasan kedatangan orang-orang yang akan menjadi tamunya. Meski demikian, ia meminta suaminya supaya tetap berhati-hati.

Keesokan paginya, di dalam kedai Ki Samarta telah duduk lima orang asing melingkari meja. Kesungguhan mereka terlihat jelas dari raut wajah dan bahasa tubuh mereka. Mereka ingin memberi kesan baik pada pertemuan pertama dengan Ki Juru Manyuran, pemimpin Kademangan Grajegan. Pakaian mereka tampak bersih dan berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka mengenakan pakaian seperti yang biasa dipakai di negeri mereka. Kain bersulam warna emas dan merah menghiasi pakaian mereka. Dalam waktu sepemakan sirih, mereka berbicara dengan Ki Samarta seusai makan pagi.

”Bekerjalah sendiri. Aku akan kembali ke sini setelah kunjunganku di rumah Ki Demang,” kata Ki Samarta sambil menitip beberapa pesan kepada pelayan kedai. Sejenak kemudian mereka berlima keluar dari kedai menuju rumah Ki Demang.

Hari itu pasar mulai ramai dengan kerumunan orang, sehingga kehadiran orang-orang asing itu memukau perhatian dengan pakaian dan senjata yang disandang. Berulang-ulang Ki Samarta menjelaskan pada orang yang bertanya bila orang-orang yang bersamanya itu adalah tamu Ki Demang.

Beberapa orang merasa bangga dan takjub pada pemimpin mereka.

”Aku tidak mengira jika kemajuan kademangan ini telah mengundang orang-orang seberang pulau datang di dusun ini. Aku mendengar mereka datang dari negeri yang jauhnya berbulan-bulan berlayar.” Ia berdecak kagum dan memuji Ki Demang dalam hatinya.

”Ki Demang dan anaknya ternyata sungguh-sungguh memikirkan rakyatnya,” kata lelaki yang berdiri di sebelahnya.

Seorang lagi menyahut, ”Kita mungkin akan menyamai Pajang. Kita harus bekerja lebih giat.”

Kedua teman bicaranya menganggukkan kepala. Mereka menyapa ramah Ki Samarta yang melintas di depan mereka. Sepanjang jalan menuju rumah Ki Demang, lima orang itu tiada henti membalas senyum dan sapa setiap orang yang berpapasan.

”Aku lelah dengan sandiwara ini.” Toa Sien Ting bersungut–sungut.

”Benar-benar aku merasakan hari ini dalam topeng boneka,” geram Liem Go Song dengan tangan terkepal.

”Redakan gejolak kalian. Kita sedang merancang landasan di tanah ini,” desah Tung Fat Ce. Toa Sien Ting mendengus panjang, sedangkan Liem Go Song menumpahkan kekesalannya dengan meninju angin. Feng Kong Li menutup mulut, menyembunyikan tawa saat melihat raut wajah Toa Sien Ting yang mengingatkannya pada boneka kayu yang sering ditampilkan di negerinya sebagai penghibur.

Akhirnya mereka tiba di depan regol halaman rumah Ki Juru Manyuran lebih awal. Ki Sarwa Jala agaknya telah datang terlebih dahulu, Ki Juru Manyuran telah menunggunya saat fajar mulai merekah.

”Ki Demang sebaiknya melihat persoalan ini secara keseluruhan. Mungkin saja penguasaan pengawal menjadi lebih tinggi, tetapi Ki Demang patut memikirkan dari segi yang lain. Pengawal-pengawal ini tentu saja tidak dapat menunggu hasil panen. Apalagi jika mereka harus meninggalkan keluarganya untuk masa yang sedikit panjang,” kata Ki Sarwa Jala. Tatap mata yang jernih dan putih rambutnya menambah kegagahan tersendiri bagi setiap orang yang memandang.

”Selain itu, Ki Demang juga harus memperhatikan segala keperluan yang dibutuhkan oleh Ki Wisanggeni di barak. Dengan orang-orang yang datang dan pergi, sudah tentu Ki Wisanggeni akan terus menerus sibuk dengan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan ia bertanggung jawab terhadap kemampuan para pengawal,” sambung Ki Sarwa Jala.

Termangu Ki Demang ketika suara Ki Sarwa Jala menyusup ke dalam jantungnya. Ia menyetujui pemahaman dari guru kedua anaknya. Terkadang pengawal-pengawal kademangan memang harus bepergian jauh mengiringi para saudagar yang berasal dari Kademangan Grajegan. Namun tak jarang mereka juga diminta membantu mengawal saudagar yang kembali ke tempat asalnya.

”Saya sependapat dengan Anda. Agaknya saya harus menunggu Sumba Sena untuk merundingkan persoalan ini,” kata Ki Juru Manyuran setelah terdiam agak lama.

”Ki Demang, agaknya Ki Demang harus menguji orang–orang itu dengan sebenarnya,” kata Ki Sarwa Jala saat ia melihat lima orang memasuki halaman rumah. Lima orang asing itu sedikit banyak menarik perhatian Ki Sarwa Jala. Ia telah mengetahui keperluan orang-orang itu dari Siwagati.

”Apakah itu berarti sebuah pertarungan?” alis Ki Juru Manyuran mengerut.

”Perang tanding hanya salah satu cara. Ki Wisanggeni mungkin dapat mengukur kemampuan serta wawasan  lima orang itu dengan gelar perang.”

Ki Juru Manyuran mengelus janggutnya yang mulai memutih. Dalam hati, ia berkata, ”Aku harap itu adalah pendapat yang benar, jalan pikiran yang masuk akal untuk menguji pengetahuan mereka. Pengalaman para pengawal yang sering bertempur dengan banyak kelompok orang jahat akan menjadi ujian terbaik bagi mereka.”

”Lantas, apakah Ki Sarwa Jala akan meminta Ki Wisanggeni untuk datang ke tempat ini? Biarlah saya suruh seseorang memanggil beliau di barak pengawal,” kata Ki Juru kemudian.

”Tidak hari ini, Ki Demang. Kita cukupkan dengan sedikit latihan sekedar melemaskan otot di halaman pendapa.”

”Jadi Kiai sendiri yang akan menjajaki mereka?”

Senyum Ki Sarwa Jala mengembang. Lalu katanya, ”Kita tunggu saja mereka.”

Sejurus kemudian lima orang berjalan beriringan semakin dekat dengan rumah Ki Juru Manyuran. Mereka berhenti sebentar dan saling bertukar pandang. Ki Samarta segera menyilahkan mereka menaiki pendapa karena pengawal gardu sudah mengizinkan masuk atas nama Ki Juru Manyuran.

Ki Sarwa Jala lantas menuruni tangga dan menyambut mereka. Lima orang itu sempat terkejut ketika Ki Sarwa Jala menyapa dengan bahasa mereka. Dalam kesempatan itu, guru Siwagati ini menjelaskan singkat bahwa dirinya pernah bermukim di negeri seberang sekitar setahun dua tahun. Seraya bercakap-cakap ramah, enam orang itu naik ke pendapa. Tak lama kemudian, orang–orang di pendapa memasuki perbincangan sungguh-sungguh. Ketika Siwagati keluar untuk kedua kali dari pringgitan, ia duduk sebelah menyebelah dengan ayahnya. Ia menggamit lengan ayahnya. Ki Juru Manyuran menyadari keinginan Siwagati, ia pun melihat ke arah Ki Sarwa Jala.

Menyadari karena telah memberikan janjinya, Ki Samarta bangkit lantas meminta diri. ”Saya telah meninggalkan kedai terlalu lama, Ki Demang.”

Ki Juru Manyuran dan Ki Sarwa Jala menyilahkan Ki Samarta kembali ke pekerjaannya. Sepeninggal Ki Samarta, Ki Sarwa Jala berkata, “Tung Fat Ce, agaknya Anda sudah bersiap dengan keadaan yang mungkin akan terjadi.” Ki Sarwa Jala menunggu tanggapan Tung Fat Ce.

Related posts

Pendadaran 9

kibanjarasman

Pendadaran 8

kibanjarasman

Pendadaran 7

kibanjarasman

Pendadaran 6

kibanjarasman

Leave a Comment