Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 83

Sebatang pohon besar yang terletak di tepi parit sepertinya sedang menawarkan tempat yang lebih baik bagi Agung Sedayu. Bila ia bergeser mendekati pohon lalu merapatkan diri pada lereng parit maka itu bukanlah keputusan terbaik, pikir Agung Sedayu. Saat itu bukan waktu yang tepat untuk menguji kecepatan atau kemampuan yang lain. Sepenuhnya Agung Sedayu sadar atas kesiagaan lawan. Mereka sedang saling mengintai dan menunggu lawan melakukan kesalahan. Dalam keadaan itu, hanya terpisah sebuah jalan yang lebar, Agung Sedayu akan dapat melewati gerbang keraton, lalu berjalan memutari taman di halaman depan, kemudian menyusur jalan setapak maka dalam selemparan anak panah, ia akan tiba di ruang yang ditentukan untuk pertemuan rahasia.

Di seberang persembunyian Agung Sedayu, Raden Mas Rangsang masih berada di sekitar gerbang keraton sambil mengawasi keadaan sekeliling. Lantas ia tersenyum sendiri – tanpa menurunkan kewaspadaan – saat mengetahui orang yang bergerak di kegelapan justru menjauh darinya. “Besar kemungkinan, orang itu bertugas membuka jalan bagi Agung Sedayu,” desis Raden Mas Rangsang dalam hati. Pangeran Mataram itu berharap utusan Ki Patih Mandaraka dapat membaca keadaan yang sedang berjalan atau perkembangan dari waktu ke waktu di sekitar alun-alun.

Harapan Raden Mas Rangsang mendapatkan jawaban ketika Kinasih beringsut pelan, mundur, menjauh dari dinding keraton setapak demi setapak. “Aku tidak dapat memaksakan diri dengan tetap menjalankan rencana Ki Patih dan juga guru. Segalanya tidak memungkinkan,” ucap Kinasih dalam hati. Sehingga kelanjutan rencana, yaitu pertemuan Agung Sedayu dengan Raden Mas Rangsang, sepenuhnya bergantung pada sikap saling mengerti dan penguasaan keadaan dari dua orang tersebut. Pikiran serta perasaan Kinasih penuh dengan harapan supaya pembicaraan yang diinginkan Ki Patih serta Panembahan Hanykrawati tetap terwujud. “Semoga Ki Rangga dan aku yakin beliau dapat menahan diri hingga segalanya terukur,” bisik Kinasih dalam hati.

Saat Kinasih – utusan yang belum dapat dijumpai oleh Raden Mas Rangsang – semakin jauh, Agung Sedayu telah mendapatkan perhitungan mengenai jarak waktu antar peronda. “Begitu rapat,” desisnya dalam hati, “walau aku dapat mengabaikan keberadaan prajurit jaga Mataram di gardu jaga, tapi siapa di antara mereka yang telah berganti baju menjadi lawan?”

loading...

Sebenarnyalah Raden Mas Rangsang dapat menduga kesulitan yang sedang dihadapi oleh Agung Sedayu. Dengan kemampuan dan kecepatannya yang luar biasa, Agung Sedayu sudah barang tentu sangat mudah menembus perondaan dan penjagaan di sekeliling benteng keraton, pikir Raden Mas Rangsang. Sambil mempercepat langkah-langkah yang berayun di jalan pikirannya, pangeran Mataram itu kemudian melangkah ke selatan gerbang. Ia menimbang bahwa Mataram masih mempunyai waktu yang cukup untuk menjaga Panembahan Hanykrawati dari ancaman yang sudah cukup lama memanasi udara kotaraja. Hingga langkah kaki Raden Mas Rangsang tiba di sudut persimpangan maka ia mendapatkan pemecahan masalah untuk Agung Sedayu. Ada empat kelompok yang silih berganti melintasi bagian depan halaman keraton, salah satu dari kelompok tersebut akan bergerak menuju arah yang berlawanan. Akan timbul celah saat mereka beradu punggung, pikirnya. Dalam pada itu, para penjaga regol atau gerbang keraton harus memberi jalan pada senapati pasukan khusus agar dapat masuk dengan mudah. “Itu akan menjadi perhatianku selanjutnya,” ucap Raden Mas Rangsang dalam hati sambil manggut-manggut. Sejenak kemudian, ia berbalik arah menuju gerbang keraton.

Seolah terjadi pembicaraan yang tak terdengar dan pertemuan yang tak terlihat, Agung Sedayu pun memikirkan hal yang sama. “Aku dapat menerobos ruang sempit di antara punggung-punggung para peronda, tapi… penjaga gardu?” Agung Sedayu pun memutuskan, dalam penyamarannya, untuk menampakkan diri agar terlihat oleh orang yang sedang berjalan menuju gerbang. Dari bentuk tubuh dan caranya berjalan, Agung Sedayu dapat mengenali jati diri orang tersebut walau hanya sebentar saja bertemu di masa lalu. “Aku tidak perlu menyapanya. Aku hanya perlu menempuh arah berlawanan lalu mengatakan sandi sesuai pesan Ki Patih,” ucap senapati tangguh Mataram tersebut.

Demikianlah Agung Sedayu berangsur-angsur menunjukkan keberadaannya. Ia menyusur parit, lalu perlahan-lahan berjalan di tepi jalan sejauh belasan langkah sebelum benar-benar menampilkan diri agar terlihat oleh banyak orang. Agar dapat berjarak sejengkal dari jalur jalan Raden Mas Rangsang, Agung Sedayu lantas menyeberang. Ia akan berhadapan langsung dengan putra Panembahan Hanykrawati sehingga dapat membisikkan sapaan rahasia yang diperintahkan Ki Patih Mandaraka. menyerang dari arah depan, menghadap langsung pintu gerbang padukuhan Jati Anyar.

Pergerakan Agung Sedayu segera menarik perhatian Raden Mas Rangsang. Betapa seseorang tampak  berjalan dari bagian yang tidak terlihat jelas, lalu berada di tepi jalan kemudian menyeberang kemudian lurus berada di depannya. “Apakah itu Agung Sedayu?” tanya Raden Mas Rangsang pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia tidak lupa pada wajah maupun perawakan murid utama Kiai Gringsing, tapi orang yang berjalan pada arahnya sama sekali tidak mencerminkan segala yang diingatnya tentang Agung Sedayu. Tentu saja ia sedang menyamar, tebaknya dengan disertai perubahan air muka dengan kewaspadaan tinggi. Setiap orang dapat menyamar dan setiap saat dapat menyerangnya secara mendadak, atas pemikiran itu, Raden Mas Rangsang segera dikelilingi tenaga sakti yang dapat menjadi pertahanannya yang pertama.

Mereka semakin dekat.

“Jaka Belek,” bisik  Agung Sedayu.

Raden Mas Rangsang melambatkan langkah, kemudian berbisik pula, “Banyak Angkrem.” Lalu menyusulkan perintah yang diucapkan cepat, “Berputarlah dan kau akan berada di dalam sesegera mungkin.”

Agung Sedayu pun lurus berjalan. Ia akan memutari alun-alun lalu memotong jalan sambil memperhatikan segala yang akan dilakukan pangeran Mataram tersebut.

Raden Mas Rangsang berjalan tanpa tergesa-gesa menghampiri gardu jaga. Pakaian dan kepangkatan yang dikenakannya bukanlah tanda yang seharusnya tersemat pada pangeran, tapi prajurit setingkat  lurah dalem. Dengan demikian, Raden Mas Rangsang dapat mempengaruhi suasana penjagaan tanpa memancing kecurigaan mata-mata lawan yang pasti berada di sekitar keraton.  Dari kejauhan tampak pangeran Mataram tersebut berbincang dengan seorang prajurit jaga. Sesaat kemudian, ia beralih ke depan gerbang mencegat sekelompok peronda lalu menunjuk pada suatu arah sambil menggerak-gerakkan tangan.

“Ini saatnya!” seru Agung Sedayu dalam hati. Murid utama Perguruan Orang Bercampuk itu pun bergerak secepat kilat, menerobos ruang yang lolos dari pantauan mata pengawas yang dialihkan Raden Mas Rangsang. Agung Sedayu melesat dengan cara lari yang seakan-akan terbang di atas rerumputan  halaman kemudian berhenti di tempat yang telah ditetapkan oleh Ki Patih Mandaraka – di samping kanan bangunan induk keraton.

“Bagus!” sambut Raden Mas Rangsang dengan kekaguman luar biasa. “Kecepatan yang sangat dahsyat. Mungkin setara dengan Eyang Pangeran Benawa!” Namun Raden Mas Rangsang tidak segera menyusul Agung Sedayu. Sesuatu masih harus dilakukan oleh pangeran Mataram tersebut agar tidak muncul kecurigaan dalam diri peronda maupun para penjaga. Pertemuan mereka adalah rahasia yang harus tetap terjaga dan tersembunyi. Bila mereka curiga, itu berarti sudah tidak dapat disebut sebagai sesuatu yang rahasia, demikian pendapat Raden Mas Rangsang yang terpatri dalam pikirannya. Ketajaman nalar dan keluasan wawasan Raden Mas Rangsang membuatnya telah bersiap dengan segala alasan yang masuk akal. Ia tidak mengatakan ada kelompok atau orang yang patut dicurigai di bagian timur dan selatan keraton, tidak pula mengatakan ada kericuhan dengan gudang perbekalan. Raden Mas Rangsang mempunyai cara yang kemudian diungkapkannya di depan peronda dan penjaga lalu mereka tidak lagi bertanya-tanya. Ketika mereka berlalu dari depannya, putra Panembahan Hanykrawati pun menghimpun bahan-bahan yang sudah tersedia di dalam pikirannya. “Akan sangat mudah bila bertemu lalu bicara empat dengan murid Kiai Gringsing. Aku banyak berharap dan percaya padanya seperti eyang Panembahan percaya padanya pula,” kata Raden Mas Rangsang pada dirinya dengan berbisik.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.