Padepokan Witasem
Bab 7 Gerbang Pasukan Khusus

Gerbang Pasukan Khusus 2

“Saya tidak dalam kedudukan membela Ken Arok, Ki Tumenggung. Saya hanya ingin Ki Tumenggung dapat mendengar. Maka dari itu, untuk bertemu di tempat ini karena saya  sedang membela diri sendiri,” berkata Toh Kuning.

“Kesempatan yang akan datang menghampirimu adalah selalu berada di sisi Sri Baginda pada saat kami semua telah berada di desa Ganter,” berkata Gubah Baleman dengan wajah tegang. “Kau dapat membuktikan pada Sri Baginda bahwa keputusan menyerang Tumapel adalah kesalahan besar. Kau dapat melakukan itu setiap saat karena satu-satunya lawan yang harus kau hadapi saat ini adalah dirimu sendiri.”

“Baiklah, Ki Tumenggung,” kata Toh Kuning kemudian, ”saya tidak dapat mencampuri keputusan raja yang sudah dianggap seperti dewa oleh sebagian rakyatnya. Tetapi saya mengerti bahwa saya selalu mempunyai pilihan dan kesempatan luas untuk menjalankan setiap pilihan..”

“Ya, kau selalu mempunyai waktu untuk menerima akibat dari pilihan yang telah kau tentukan,” berkata Gubah Baleman penuh pengertian.

Toh Kuning membungkuk hormat kemudian ia memandang wajah Ki Gubah Baleman yang berdiri tegak dihadapannya. Pada saat itu menyeruak perasaan haru yang kemudian membayang wajah orang yang pernah merawatnya. Ki Sunu, Begawan Bidaran, ayah dan ibunya yang semua itu terlihat melekat pada wajah Gubah Baleman. Toh Kuning tidak dapat menahan perasaannya lalu ia memeluk erat Ki Tumenggung Gubah Baleman.

Lama kemudian Toh Kuning tenggelam dalam bayang-bayang masa lalunya lalu Gubah Baleman melepas pelukan Toh Kuning pelan-pelan. Sejenak kemudian mereka berpisah dan mengambil jalan yang berbeda untuk kembali menuju barak.

“Pamekas,” panggil Toh Kuning perlahan dari balik sekat bambu bilik Pamekas sesaat setelah memasuki bangsal pasukannya yang terletak di ujung barat barak pasukan khusus.

Mendengar namanya disebut oleh seseorang, Pamekas keluar dari biliknya lalu melihat Toh Kuning berdiri tegak di sudut bangsal. Ia mengajak Pamekas menjauh dari bangsal. Setelah berada di tempat yang cukup tersembunyi dan aman dari jangkauan peronda, Toh Kuning bertanya lirih, ”Apakah aku mendapatkan kesetiaan dari teman-temanmu seperti kesetiaanmu padaku?”

Pamekas memandang pemimpinnya dengan dahi berkerut. Ia terkejut dengan pertanyaan yang dirasakannya seperti sambaran kilat. Setelah dapat menguasai perasaannya, Pamekas menjawab, ”Mereka bangga bertempur di sampingmu. Bahkan mereka lebih setia padamu  melebihi seorang raja.”

“Apa pendapatmu apabila aku memintamu membawa pasukan memasuki Alas Kawitan?”

Kembali Pamekas dikuasai rasa terkejut yang hebat. Darahnya seperti berhenti mengalir, sedikit gelagapan ia bertanya, ”Apa yang Ki Lurah rencanakan?”

“Pasukan kita tidak turut serta ke desa Ganter dan aku pikir cukup baik bagi kita untuk membangun pertahanan di Alas Kawitan,” jawab Toh Kuning.

Pamekas memandang tajam wajah Toh Kuning. Sorot matanya seolah dapat menjenguk isi hati pemimpinnya. “Aku selalu diingatkan oleh guruku bahwa kejujuran merupakan puncak yang selalu ingin digapai para resi dan brahmana,” berkata Pamekas.

Toh Kuning menarik napas dalam-dalam. Ia berkata dengan tatapan mata tajam menghunjam jantung Pamekas,”Aku akan menarik diri dari pertempuran yang aku tidak melihat ada sesuatu yang pantas diperjuangkan.”

“Oh,” Pamekas berseru tertahan sambil menutup wajahnya. Pamekas memang menaruh hormat yang tinggi pada Toh Kuning sejak lelaki muda itu menjadi pemimpin pasukannya. Setiap hari ia bertemu dan berbicara dengan Toh Kuning sehingga ia dapat mengenali watak dan sifat utama yang dimiliki Toh Kuning. Sehingga ketika ia mendengar Toh Kuning akan membawa pasukan keluar dari barak, Pamekas telah mempunyai dugaan bahwa Toh Kuning mempunyai perbedaan mendasar dalam melihat peperangan yang akan segera terjadi dalam waktu dekat.

“Ki Lurah, aku akan menyertaimu di setiap medan. Tetapi aku harus sampaikan keputusan Ki Lurah pada kawan-kawan,” kata Pamekas menanggapi rencana Toh Kuning.

“Lima puluh orang adalah jumlah kekuatan kita. Dan besok siang kita semua akan dinyatakan sebagai sekelompok pengecut yang melarikan diri dari medan perang,” Toh Kuning mengingatkan Pamekas mengenai akibat yang mungkin akan mereka terima.

“Saya mengerti, Ki Lurah. Namun saya yakin Ki Lurah sudah menyiapkan jalan lain yang tentu saja tidak akan Ki Lurah katakan,” kata Pamekas sambil menganggukkan kepala. Kemudian ia kembali memasuki bangsal kemudian membangunkan kawan-kawannya.

Related posts

Leave a Comment