Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra Ing Pungkasan 2

“Mungkin tidak seorang pun dari senapati Demak yang dapat mengalahkannya,” gumam Raden Trenggana dalam hatinya. Banyak kemungkinan yang dipikirkan, namun satu hal : Raden Trenggana mengabaikan kemungkinan terjadinya perang tanding antara dirinya dengan Gagak Panji. Ia masih berharap bahwa Mpu Badandan atau Hyang Menak Gudra akan datang menghadapinya. Bagi Raden Trenggana, keengganannya berbicara dengan Gagak Panji bukan alasan untuk melukai atau bahkan membunuh Gagak Panji. Sekalipun ia mempunyai pendapat yang berbeda dan berselisih paham beberapa malam sebelumnya, Raden Trenggana masih sayang pada Gagak Panji.

Dalam hati kecilnya, Raden Trenggana menaruh harapan pada Gagak Panji untuk mencegah Arya Penangsang merebut tahta. Kekhawatiran menyusup pada relung kalbu penguasa Demak itu tentang kemungkinan dendam Adipati Jipang, namun ia mempunyai keyakinan bahwa kedekatan Gagak Panji dengan Arya Penangsang akan dapat mempengaruhi hubungan Demak dan Jipang. Selain itu, Raden Trenggana pun mempunyai keyakinan bahwa apabila Gagak Panji mampu bekerja sama dengan Adipati Pajang maka Demak akan menjadi kekuatan yang disegani.

Namun semua yang berkecamuk dalam benaknya segera tertepis oleh pemandangan di hadapannya. Ia sadar bahwa saat ini sedang berhadapan dengan Blambangan dalam pertempuran besar, dan Gagak Panji berdiri pada kubu seberang. Keberanian Gagak Panji beradu siasat dengannya adalah kesulitan yang lain. Pada saat itu, siasatnya untuk menghentikan Semambung menemui kegagalan karena campur tangan Gagak Panji.

Pelepasan ilmu Bumi Handaru memang sangat mendebarkan hati bagi setiap orang. Sekalipun kebanyakan dari ribuan orang yang terlibat perang itu telah berkawan dengan badai di tengah laut, tetapi unjuk kekuatan Gagak Panji ternyata lebih menggetarkan. Mereka terbiasa melakukan persiapan sebelum badai datang, namun pusaran ilmu yang dilontarkan Gagak Panji secara mendadak menghantam semua kapal yang mengapung di sekitar pusat bidikan dan jajar barisan pun porak poranda.

“Ini benar-benar akan menjadi penghalang besar bagi rencana Raden Trenggana!” geram Gending Pamungkas. Segera ia meluncur deras menuju sampan yang terbalik dan menjadi tempat Gagak Panji menjejakkan kaki setelah melepas ilmu Bumi Handaru dengan dahsyat. Tubuh Gending Pamungkas berloncatan di antara papan dan kayu serpihan kapal yang hancur dihantam gelombang yang hebat.

Sementara di bawah permukaan air, Semambung yang meluncur deras akibat dorongan air yang menghempasnya mampu memutar tubuh dan menendangkan kaki untuk mengangkat tinggi tubuhnya melampaui permukaan. Dalam waktu sekejap ia berjungkir balik di udara, dari sekilas ia mengamati keadaan, maka Semambung dapat  membaca perkembangan. Secara tepat ia dapat memperkirakan kedudukan Gagak Panji dan kapal Raden Trenggana, namun ia masih harus melewati Ki Jala Sayuta yang ternyata telah muncul ke permukaan dan berada di atas sebuah kapal perang Demak.

Namun demikian, Semambung seperti tidak menghiraukan perkembangan di permukaan perairan Panarukan. Ia kembali terjun dan menjadikan dasar laut sebagai tumpuan awal untuk membubarkan jajar baris angkatan laut Demak. Meski ia dapat sedikit meraba bahwa lawannya telah menderita luka bagian dalam, tetapi Semambung tetap waspada. Kawan karib Gagak Panji ini memperkirakan Ki Jala Sayuta masih menyimpan satu kekuatan yang luar biasa yang mungkin belum mendapat kesempatan untuk dilepaskan. Untuk itulah, ia bergerak terlebih dahulu agar kekuatan besar Ki Jala Sayuta yang masih tersimpan Sayuta tidak merembes keluar.

Setelah mengisi rongga dadanya dengan udara yang penuh dengan asap, Ki Jala Sayuta lantas melompat ke dalam air mengejar Semambung. Ia mengabaikan luka bagian dalam karena kewajibannya  untuk menghentikan salah satu pilar kekuatan Blambangan.

“Aku tidak pernah menemui kekuatan dahsyat sepanjang kehidupanku sebagai seorang prajurit,” Ki Jala Sayuta membatin. Walaupun ia telah mengukur kekuatan Semambung yang ternyata selapis lebih tinggi darinya, Ki Jala Sayuta masih mempunyai kepercayaan diri tinggi bahwa ia akan mampu menyelesaikan perkelahian luar biasa menghadapi Semambung.

Dalam pertempuran yang terjadi di atas Laut Jawa, hantaman Gagak Panji benar-benar menjadi sebuah peringatan bagi prajurit Demak beserta para senapatinya. Kekuatan Bumi Handaru yang menghempaskan banyak prajurit ke dalam laut serta menimbulkan gelombang tinggi bergulung-gulung telah mendapat perhatian khusus dari Raden Trenggana. Segera ia berdiri di anjungan kapal memperhatikan pergerakan Gagak Panji yang membawa perubahan besar dari gelar yang disusun oleh pasukan Demak. Jajar lapis ketiga tidak lagi bersusun teratur. Selain itu, pasukan sampan Blambangan mulai mencoba membakar kapal-kapal Demak selagi mereka sendiri bertempur di atasnya.

Related posts

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 5

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 4

kibanjarasman

Leave a Comment