Padepokan Witasem
KBA

Namaku Tobil (Katanya) – Tamat

Tobil beralih tempat. Ia bersandar pada sebatang pohon mangga, dengan bibir bergetar kemudian ia berkata, “Peristiwa yang dilewati oleh Pandawa adalah buah dari cinta. Mungkin engkau bakal tertawa. Mungkin engkau akan menanyakan bagaimana cinta dapat membunuh atau kejam dalam menyiksa, kini aku katakan padamu bahwa cinta adalah sebab dari segala perbuatan. Meski pun ia seorang pembunuh atau pemuka agama, walau pun ia adalah lintah darat atau pejabat, tetapi cinta selalu mendapatkan tempat untuk tumbuh berkembang.

“Sengkuni merencanakan perbuatan yang engkau anggap jahat, tetapi Sengkuni memandangnya sebagai kesungguhan dalam membuktikan cintanya pada Gandari, adiknya. Sengkuni tidak pernah berencana untuk melakukan perusakan secara tersembunyi agar tahta beralih padanya. Tidak ada niat itu di dalam hatinya. Sengkuni adalah Bhisma pada sisi yang berseberangan.

“Apabila Bhisma bersungguh-sungguh menjaga warisan dari ayahnya, demikian pula Sengkuni. Arya Sengkuni dengan sepenuh hati mengerahkan segalanya agar tahta tetap berada pada jalur Drestarata. Tetapi orang selalu memandang buruk wajah Sengkuni. Culas, kejam dan berhati besi adalah gambaran yang ada di benak banyak orang mengenai Sengkuni. Aku tidak sedang membela Sengkuni. Aku bicara tentang cinta.

“Namaku adalah Tobil. Orang berkata bahwa aku adalah pengemis berwajah rembulan. Mereka menebar ucapan sebenarnya aku adalah malaikat berparas api. Sekumpulan orang mengatakan bahwa aku adalah penjahat berkelamin ganda. Lalu, sekarang, aku memberitahumu bahwa mereka semua berkata benar.”

Kali ini aku ingin mengatakan sesuatu namun pesona Tobil telah membungkamku. Membuatku terbenam ke dasar kawah Candradimuka.

“Sebelum kematianku melambaikan tangan, aku ingin mengakhiri perbincangan ini dengan sesuatu yang sangat buruk. Seburuk wajah batu cadas yang telah menjalani bedah kulit.” Sorot mata Tobil sedikit meredup tetapi tidak mengurangi getar yang mengiris lapisan kulit ari.

“Cinta adalah sebuah pertunjukan yang tidak boleh dilukai dengan kemarahan. Sengkuni tidak pernah mempunyai rasa marah pada seratus keponakannya. Ia juga tidak pernah marah pada Pandawa. Ia hanya seorang lelaki yang teguh meraih tujuan. Ia tidak pernah merasa terhina karena perbuatan anak-anak Drestarata.  Ia mengerti bahwa mereka hanya belum matang dalam berpikir. Sengkuni dengan  cintanya telah mengawal Kurawa menggapai mimpi meski mereka gagal.

“Ketika engkau marah lalu menghakimi orang yang bersalah, sebenarnya engkau telah berbuat lebih keji daripada Sengkuni. Penghakiman yang tidak pernah engkau meminta penjelasan atau alasan atau segala yang terkait dengan perbuatannya. Itu sesuatu yang sangat buruk. Pembenaran dapat engkau lakukan berdasarkan pengamatan tetapi itu tidak berarti engkau menjadi benar. Kebenaranmu adalah kepalsuan yang berbungkus sutra. Sengkuni tidak pernah menyebarkan keburukan lawannya pada orang lain. Kelemahan Yudhistira atau Bhisma itu semuanya dapat ditutup Sengkuni dengan sangat baik. Ia tidak pernah membicarakan itu dengan Gandari atau Drestarata. Tetapi aku, engkau dan kamu ternyata lebih memilih memakan daging orang mati, sedangkan aku, engkau dan kamu belum berpindah ke negeri kematian.

“Ketika engkau memakan daging orang mati, apakah ia dapat membela diri?”

Tobil menghilang. Seperti kabut yang tersapu angin ribut, kepergian Tobil mengundang prahara dalam hatiku. Aku mengaku kalah. Ini kesaksianku untuknya, lelaki renta berparas balita, yang mengaku bernama Tobil.

Related posts

Wong Edan

Ki Banjar Asman

Tanpa Tudung

Ki Banjar Asman

Satu Kata Saja

kibanjarasman

Rengkuh Ombak Panarukan

Ki Banjar Asman

Leave a Comment