Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem
Bab 3 Pendadaran

Pendadaran 7

Siwagati benar-benar memanfaatkan kelincahan dan kelenturan tubuhnya untuk mengurung Toa Sien Ting. Tangan dan kaki Siwagati bergantian menyengat garis pertahanan musuh. Ketika Toa Sien Ting menghindari satu pukulan,  tiba-tiba sebuah tebasan dari tumit Siwagati menusuk dari arah yang lain.

Namun yang menjadi lawan Siwagati adalah Toa Sien Ting yang telah ditempa pahit getir dalam olah kanuragan di negerinya sendiri. Ia setapak surut lalu membalas dengan lutut yang menghantam ke bagian lambung Siwagati. Melihat serangan datang begitu deras, Siwagati cepat menghindar ke belakang. Sekejap waktu itu segera terpahat oleh Toa Sien Ting. Oleh karenanya, ia putuskan mengulur waktu untuk menilai kemampuan Siwagati lebih mendalam.

Pada saat Toa Sien Ting sedang bersiap diri, Siwagati lagi-lagi membuat kejutan yang tidak disangka-sangka oleh para tetamu dari negeri seberang. Siwagati melompat panjang dan selagi dua kakinya masih di udara, ia membuka dua jalur serangan melalui dua lengan yang mengembang lalu didorongnya ke depan. Dalam waktu itu, salah satu kakinya menekuk ke belakang dan siap menyusupkan tendangan. Toa Sien Ting menggeser tubuh selangkah ke samping, dan dalam waktu bersamaan ia menggerakkan kaki untuk menusuk dari bagian bawah tubuh Siwagati yang sedang melayang. Tetapi dugaannya keliru karena Siwagati justru lebih cepat menjulurkan kaki ke pangkal paha Toa Sien Ting.

“Setan betina!” seru Toa Sien Ting dalam hatinya. Betapa ia mengira serangan Siwagati akan diawali dari kedua tangannya. Mau tidak mau ia harus menerima tendangan kaki Siwagati yang melibas sangat kuat dengan merendahkan tubuh dan menyilangkan lengan menutup celah tubuhnya.

Empat kawan Toa Sien Ting saling berpandangan. Tidak ada satu orang dari mereka yang menyangka kemampuan Siwagati. Mereka baru menyadari di balik kelembutan Siwagati tersimpan daya yang berada di luar nalar mereka. Dengan mulut ternganga, mereka melihat pertempuran dahsyat di tengah halaman.

“Aku tidak mengira sedikit pun bahwa di tanah ini ada gadis muda yang hampir saja menjungkalkan Toa Sien Ting dalam penyesalan,” akhirnya berkata Liem Go Song. Tung Fat Ce menganggukkan kepala mendengar desah dari bibir Liem Go Song. Feng Kong Li memandang Ki Sarwa Jala lurus, Ki Sarwa Jala pun menyambutnya dengan senyum mengembang.

“Setidaknya kita telah mengetahui siapa guru dari gadis itu, dan ia juga dapat menjadi cermin bagaimana gurunya membuka gelaran ilmu,” kata Feng Kong Li.

“Kau benar. Dan agaknya akan menjadi pertarungan yang menggetarkan langit apabila lawannya juga seimbang dengannya,” berkata Tung Fat Ce sambil mengelus jenggotnya.

“Gebrakan pertama ini sedikit banyak memaksa kita untuk bersiap tantang kejutan lain yang mungkin ada,” timpal Chow Ong Oey.

Pada sisi lain, tiga orang pengawal kademangan sesekali bertukar pandang. Hati mereka dicengkeram rasa bangga yang luar biasa.

”Kita tidak pernah melihatnya bertarung seperti ini selama melakukan latihan bersama dengannya,” kata seorang pengawal yang berambut panjang.

”Ternyata Siwagati berada jauh di atas tataran lima kelompok pengawal. Sungguh, tanah ini sangat beruntung memiliki pemimpin seperti Ki Juru Manyuran yang telah berkorban banyak demi kademangannya. Termasuk anak perempuannya yang sering menjadi benteng yang sulit ditembus orang yang berniat jahat di tempat ini,” sahut kawannya sambil manggut-manggut.

Di tengah pertandingan, benturan keras tidak terelakkan dan keduanya terhempas ke belakang satu atau dua langkah.

Rasa cemas mulai merayapi Siwagati ketika dua arus serangannya yang sangat cepat itu belum dapat melumpuhkan lawannya. Tetapi ia belum mempunyai keinginan untuk mengadu ilmu dengan senjata karena ia menyadari bahwa perang tanding ini hanya sebuah pendadaran. Ia menarik napas panjang dan menghembus pelan melalui kedua lubang hidungnya. Perlahan ia menata kembali tata gerak yang diajarkan gurunya. Siwagati akan mencoba dengan sebuah gerakan yang sudah dikuasai namun belum mendapat kesempatan sesungguhnya. Ia kembali menyusur tanah dengan langkah kecil lalu tiba-tiba tubuhnya melenting kencang menerjang Toa Sien Ting. Kaki-kaki Siwagati susul menyusul menerpa ke seluruh bagian depan tubuh Toa Sien Ting. Bergantian dengan kedua tangannya menghantam bertubi-tubi dalam kepalan yang kuat. Seperti badai menerpa hutan di lereng Merapi, sepasang kaki dan tangan Siwagati menghunjam dengan kecepatan seperti bayangan setan.

“Luar biasa!” kata Liem Go Song dengan mata terbelalak. ”Benar-benar serangan yang amat hebat, cepat dan mematikan!”

Kepalan tangan Siwagati lurus menerpa dahi Toa Sien Ting. Satu hantaman yang dapat membuat retak tulang kepala lawannya. Toa Sien Ting cekatan memindahkan berat tubuhnya ke belakang dan mengayunkan lengannya untuk menangkis pukulan Siwagati.  Seruan tertahan keluar dari Toa Sien Ting ketika telapak tangannya seperti membentur batu hitam yang sangat cadas. Ia merasakan seluruh tangannya terasa nyeri hingga ke pangkal bahu.

Related posts

Pendadaran 9

kibanjarasman

Pendadaran 8

kibanjarasman

Pendadaran 6

kibanjarasman

Pendadaran 5

kibanjarasman

Leave a Comment