Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 14

“Ki Jagabaya akan mengajak kami berbicara tentang peristiwa  yang terjadi, Ki Bekel. Di belakang banjar nanti kami akan bertemu,” Ki Wijil memberi tahu Ki Bekel tentang rencana Ki Jagabaya.

Alis Ki Bekel sedikit berkerut, lalu katanya, ”Baiklah. Saya akan mengundang Ki Jagabaya dan Anda sekalian untuk berbincang mengenai persoalan itu di rumah.”  Lalu ia meminta seorang pengawal untuk menemui Ki Jagabaya dan menyampaikan pesannya.

Ki Bekel bangkit lalu meminta diri untuk kembali melakukan kegiatan yang cukup lama ditinggalkan. Ki Wijil disertai keluarganya lalu mengiringkan Ki Bekel sampai regol banjar.

Pada malam itu seperti yang direncanakan Ki Bekel, mereka bertemu di rumah Ki Bekel dan berbincang mengenai berbagai persoalan selepas makan malam. Sementara Nyi Wijil menyempatkan diri untuk membantu Nyi Bekel mengemasi dan membersihkan peralatan makan. Tetapi Ki Bekel dan Ki Jagabaya meminta Sayoga untuk tetap berada di pendapa.

Ki Jagabaya pun mengurai satu demi satu peristiwa janggal yang terjadi sepeninggal Ki Bekel. Keterangan yang dipaparkan oleh Ki Jagabaya membuat Ki Wijil dan keluarganya menjadi lebih jelas untuk melihat titik terang.

“Di sebelah selatan pedukuhan ini, kalau kita berjalan ke belakang banjar terus ke selatan kita akan bertemu sungai kecil. Beberapa puluh tombak kemudian ada sebuah hutan. Sebenarnya hutan itu tidak pernah dijamah oleh manusia, tetapi beberapa pekan terakhir seperti ada sejumlah orang yang mendirikan perkampungan kecil. Lalu ada salah seorang dari mereka sempat meminta waktu untuk berbicara dengan saya,” Ki Bekel berhenti sejenak seperti berusaha mengingat sesuatu.

Sambil memijat dahinya, ia berkata, ”Saya lupa nama orang itu. Pada dasarnya ia meminta izin membuka hutan menjadi sawah dan pategalan. Ia mengatakan sesuatu tentang padepokan yang bernama Tunggul Bawana. Tentu saja saya menolak untuk memberikan bagian hutan yang mereka inginkan.

“Kemudian terjadilah peristiwa yang sulit diterima oleh nalar sehat, setiap kejadian berlangsung begitu cepat dan selalu hampir tidak ada orang yang menjadi saksi mata,” Ki Jagabaya menambahkan.

“Lalu apakah Ki Bekel dan Ki Jagabaya telah mencoba mendatangi perkampungan kecil itu?” Ki Wijil bertanya dengan nada rendah.

“Kami berdua berdua telah datang ke tempat itu. Hanya sekali dan itu yang terakhir kali, Ki Wijil,” berkata Ki Bekel lalu menyandarkan punggungnya seolah-olah ingin meletakkan beban berat di pundaknya.

Ki Wijil menatap bergantian kedua orang tetua pedukuhan yang duduk di depannya, lalu ia menoleh pada Nyi Wijil dan terus menggilirkan pandang matanya bergantian.

Ki Bekel yang mengerti pertanyaan yang tersimpan di dada Ki Wijil, kemudian beringsut sejengkal, ”Kami berdua datang dengan cara baik-baik sebagaimana layaknya tamu memasuki rumah. Namun justru mereka menantang kami berdua untuk berkelahi.”

Ki Bekel mengusap wajah dan membetulkan ikat kepalanya, ia melanjutkan, ”Sebenarnya kami berdua telah menolak untuk bertempur.” Ia menoleh Ki Jagabaya.

“Kami tidak mempunyai pilihan. Mereka mengepung kami berdua. Salah seorang dari mereka yang mengaku bernama Ki Lambeyan memberi janji akan melepaskan kami jika kami bersedia berkelahi. Aku masih ingat ia berkata ‘aku minta kalian hanya berkelahi dan aku lepaskan kalian’,” kata Ki Jagabaya meneruskan penuturan Ki Bekel.

Ki Wijil kemudian memejamkan mata dan memijat-mijat keningnya. Kemudian katanya, ”Saya tidak mengenal nama yang disebutkan Ki Jagabaya.”

Ki Jagabaya mengangguk. Ujarnya, “Saya hanya dapat membuat dugaan yang mungkin dapat membantu Ki Wijil sekeluarga untuk menyegarkan ingatan. Cara mereka memegang senjata menunjukkan jika mereka bukan orang biasa atau kelompok orang yang mengungsi. Mereka memegang senjata lebih baik daripada memegang cangkul. Kemudian aku mengamati jika mereka berkelahi dan menata gerak juga memberikan gambaran apabila mereka terbiasa bertempur,”

Ki Jagabaya melanjutkan, ”Jika mereka datang berkelompok dengan luka-luka, apakah saya dapat mengartikan jika mereka lari dari sebuah peperangan? Ki Wijil datang dari selatan pedukuhan ini dan berasal dari tanah perbukitan Menoreh sudah tentu dapat memberikan gambaran untuk kemungkinan itu.” Ki Jagabaya melontarkan pertanyaan yang secara tepat menuju ingatan Ki Wijil dan keluarganya tentang murid-murid Perguruan Kedung Jati..

Related posts

Leave a Comment