Padepokan Witasem
Panembahan Tanpa Bayangan

Sayoga 13

Ki Wijil  beserta anak istrinya masih menundukkan kepala dan berdiam diri. Tak sepatah kata pun yang keluar dari bibir mereka. Agaknya mereka memahami jika kabar yang akan dikatakan oleh Ki Bekel sudah tentu bukan kabar yang menyenangkan.

Sayoga mencoba untuk mengerti di dalam hatinya, ”Apa yang telah terjadi?”

“Beberapa lama saya di sana, sebenarnya keadaan Menoreh sangat jauh dari kata aman. Setiap hari selalu ada orang yang mencoba mengusik ketenangan hidup orang-orang disana. Dan saya juga tidak dapat membantu apapun, pedukuhan ini juga masih belum lepas dari kawanan tidak bertanggung jawab itu,” Ki Bekel menuturkan.

Dengan wajah sungguh-sungguh ia beringsut maju setapak kemudian katanya, ”Agaknya gema suara orang yang mengaku sebagai keturunan Panembahan Senapati telah tiba di lereng Menoreh. Apalagi Ki Gede pernah mengatakan padaku bahwa keamanan mulai mendapat gangguan yang mengarah pada bahaya semenjak gema suara itu memantul di setiap tebing bukit.”

Kening Ki Wijil berkerut lalu ia melihat Nyi Wijil. Ia setengah tidak percaya.

Ia mendesis, ”Keturunan Panembahan Senapati?”

“Ki Wijil dapat saja tidak mempercayai berita itu dan itu juga menjadi hak setiap orang. Saya belum dapat sepenuhnya percaya pengakuan orang itu. Tetapi, jika itu benar maka kita semua benar-benar berada dalam masalah besar.” Ki Bekel menjawab keraguan Ki Wijil.

“Apakah Ki Gede telah mengetahui siapa orang yang menyebarkan pengakuan itu, Ki Bekel?” tanya Ki Wijil.

“Kita semua masih diombang-ambing oleh berita yang berkeliaran tertiup angin. Sama halnya dengan keadaan pedukuhan Dawang sekarang ini,” keluh Ki Bekel lalu katanya, ”setiap gangguan segera menghilang begitu saja. Namun agaknya telah muncul dugaan yang sebenarnya tidak ingin diungkapkan oleh Ki Gede.”

Ki Wijil mengerutkan kening, sementara Sayoga mulai berani menduga dalam hatinya.

“Apakah Ki Gede Menoreh sempat memberikan keterangan? Maksud saya, sedikit keterangan yang dapat dijadikan landasan bagi kita disini untuk keluar dari jerat persoalan yang ada sekarang ini,” tanya Ki Wijil.

Ki Bekel Dawang menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang sebuah persoalan kepada Ki Wijil akan tetapi ia urungkan niatnya.

”Lebih baik aku menunggu Ki Jagabaya agar setiap persoalan dapat dirangkai dan akhirnya menjadi lebih terang,” desah Ki Bekel dalam hatinya. Namun Ki Bekel lambat laun menyadari bahwa suasana temaram yang melingkupi mereka dapat membawa dirinya semakin terlarut dalam kebingungan. Lalu ia berkata, ”Marilah kita berbuat sesuatu yang baik bagi pedukuhan ini.” Senyum kembali merekah namun belum sepenuhnya dapat menggeser kebingungan yang mencengkeram di hatinya.

“Ki Wijil, apakah Ki Wijil sekeluarga mengalami kejadian yang janggal di pedukuhan ini?” tanya Ki Bekel.

“Saya akan menceritakan sejak kedatangan kami sekeluarga kemari, Ki Bekel. Tetapi, sebelumnya saya minta Ki Bekel dapat memaklumi dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan,” jawab Ki Wijil yang sebelumnya sempat bertukar pandang dengan Nyi Wijil.

“Tentu tidak. Silahkan Ki Wijil!” Ki Bekel membetulkan letak duduknya dan mendengarkan Ki Wijil yang menceritakan rincian peristiwa yang terjadi di pedukuhan sejak kedatangan keluarganya. Ki Bekel mendengarkan penuh perhatian, sesekali ia manggut-manggut dan menghela nafas panjang. Ia tidak melewatkan satu bagian pun dari penuturan Ki Wijil.

“Ki Tanu Dirga?” tanya Ki Bekel dengan alis berkerut.

“Kejadian itu berlangsung cepat sekali. Ki Jagabaya pun tidak mengetahuinya jika seorang pengawal tidak mendatanginya,” Ki Wijil menjawab sambil menggeleng. Ia masih kesulitan mengerti latar belakang kejadian yang begitu cepat terjadi semenjak ia dan keluarganya memasuki pedukuhan.

“Apakah pada saat Ki Wijil mendengar tangis bayi itu,” ucap Ki Bekel, ia terdiam sejenak kemudian lanjutnya,” Kiai juga melihat seorang perempuan muda di rumah Ki Tanu Dirga?”

“Aku melihatnya. Akan tetapi tidak banyak yang dapat dilakukan oleh kami berdua bersama Ki Jagabaya.”

“Nanti malam saya mengundang Ki Wijil dan keluarga untuk menikmati hidangan sekedarnya di rumah. Siang ini saya akan melihat dulu keadaan pedukuhan,” kata Ki Bekel.

Related posts

Leave a Comment