Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 4 Tapak Ngliman

Tapak Ngliman 14

Sementara itu, kelompok pimpinan  Ki Gancar Sengon, yang jumlahnya juga berkurang, telah merambah di halaman. Mereka  bergabung dengan rekan-rekannya yang terdesak. Kedatangan kelompok ini disambut sorak sorai gembira para pengawal pedukuhan yang jerih menghadang sepak terjang orang-orang dari Menoreh. Betapa tidak, mulanya pengawal pedukuhan yang menganggap rendah keadaan pengawal Menoreh yang bersenjata sekedarnya di bawah pimpinan Jalutama. Dari para pengawal Menoreh itu, ada yang menggunakan ikat pinggang sebagai senjata. Ada yang berkelahi dengan dada telanjang karena pakaiannya telah dilepas dan digunakan sebagai senjata sederhana tapi sangat mengganggu olah senjata dari lawan-lawannya. Sebagai puncak kekuatan, Jalutama memperlihatkan ketangguhan sesungguhnya. Jalutama bertarung dengan tenang tapi serangannya sangat garang meskipun dikeroyok lima orang kelompok Ki Kalong Pitu. Meski barisna pengawal Menoreh sempat porak poranda, tetapi lambat laun mereka sanggup mengendalikan keseimbangan melalui cara yang mengejutkan.

Dalam waktu itu, ketenangan sekaligus kegarangan Jalutama mampu mendorong orang-orang Menoreh untuk berkelahi lebih mantap dan mapan. Sedangkan Ki Hanggapati yang menggunakan sebatang pedang berkelahi cukup gesit dan tangkas, bahkan berhasil mengikat dua pengawal pedukuhan untuk mengeroyoknya.

Di tempat lain, Ki Sukarta bertarung satu lawan satu dengan bekel pedukuhan. Perkelahian itu cukup seimbang, keduanya sama-sama kuat mempertahankan kedudukan.

”Orang ini akan mampu bertahan hingga senja jika aku hanya bertarung dengan tangan kosong,” desah lirih Ki Bekel. Hingga kemudian Ki Sukarta harus berloncatan menghindar karena Ki Bekel telah menggunakan senjata.

loading...

”Curang!” seru Ki Sukarta.

”Tidak ada kecurangan untuk sebuah tujuan. Apakah menurutmu keberhasilan itu diukur dengan kejantanan?” seringai Ki Bekel tampak seperti dukun sihir terkekeh memamerkan gigi-gigi berwarna hitam. Ki Bekel gencar menghujani Ki Sukarta dengan golok kecil berbahan baja. Golok Ki Bekel menebas mendatar, merobek silang, dan tusukan-tusukan yang mengarah bagian atas Ki Sukarta.

Pada kesempatan itu, orang-orang Sima Menoreh menyadari kebenaran ucapan Jalutama. Mereka bertarung demi kehormatan tanah kelahiran dan kebanggaan sebagai pengawal. Apalagi keberadaan sosok Jalutama sendiri, sebagai putra seorang pemimpin tertinggi Sima Menoreh meskipun berusia paling muda, yang bertempur di sisi mereka semakin membuat pengawal-pengawal Menoreh berani menatap kematian dengan senyum kebanggaan.

Bersamaan dengan sorak sorai gempita pengawal pedukuhan, Bondan melirik arah datangnya kelompok Ki Gancar Sengon. Sekilas juga ia melihat keadaan Jalutama dan Ki Sukarta.

”Orang itu cukup tangguh tapi aku harus segera menyelesaikan perkelahian dengannya,” desis Bondan yang mulai khawatir dengan keadaan pertempuran secara keseluruhan. Ia belum dapat mengukur kemampuan Jalutama secara pasti, namun Bondan memperkirakan Jalutama akan terhimpit jika pengeroyoknya bertambah tiga orang lagi.

”Agaknya mereka yang datang itu dipimpin oleh orang yang kemampuannya mungkin sama dengannya,” desah Bondan menatap tajam Ki Kalong Pitu yang mulai mapan menata gerak. Saat itu Bondan sudah melupakan Ken Banawa dan Ki Swandanu karena ia selalu yakin dan percaya akan dapat mengatasi persoalan tanpa harus berharap bantuan datang. Tetapi pada saat itu ia lebih mencemaskan keadaan Ki Sukarta yang bertarung tanpa senjata.

” Akan aku coba memaksa Ki Kalong Pitu bergeser mendekati banjar,” kata Bondan dalam hatinya.

Perkelahian dalam lingkaran lebih kecil juga terjadi di luar banjar. Ken Banawa dan Ki Swandanu telah berkelahi dengan empat orang dari kelompok yang datang menyusul.

Sebelum benturan kecil itu terjadi Ken Banawa berkata, ”Marilah Ki Swandanu kita percepat menyusul mereka. Kekuatan mereka harus dapat dihambat di luar banjar. Sementara itu kita tidak boleh terlalu jauh dengan kelompok di depan kita.”

”Anda benar, Tuan Senapati. Agaknya Ki Hanggapati dan yang lain sedang menghadapi bahaya lebih besar,” Ki Swandanu pun menyimpang dari jalan utama.

”Kita perlambat mereka, mari bertempur di jalanan,” kata Ken Banawa. Ia ingin memecah kekuatan lawan dengan sebagian orang yang pasti akan berbalik arah menghadapi mereka berdua.

”Saya serahkan pada Kiai.” Ki Swandanu meloloskan kerisnya yang panjang dengan gagang berukiran bunga wijaya kusuma.

Ken Banawa membentak nyaring mengawali serangan. Sambil berlari, ia melepaskan anak panah. Ken Banawa tidak cukup tepat membidik sasaran tapi rencananya berhasil dengan empat orang yang memutar tubuh menyongsongnya dan Ki Swandanu. Sebatang anak panah tergenggam erat di tangan kiri dan sebilah pedang terhunus pada sebelah kanan saat dua orang anak buah Ki Gancar Sengon menyerang. Dalam satu gebrakan, tangan kirinya segera melemparkan anak panah dalam jarak kurang dari dua langkah. Segera saja anak panah itu meluncur menembus leher lawannya yang berkemampuan rendah. Ken Banawa tiba-tiba berjongkok dengan lutut kanan menyentuh tanah dan pedangnya di tangan kanan menghantam lambung lawan yang satunya. Kedua lawannya roboh bersimbah darah dalam satu gebrakan. Sekejap ia melirik keadaan Ki Swandanu yang berhasil merobohkan kedua lawannya juga dalam satu gebrakan.

Wedaran Terkait

Tapak Ngliman 9

kibanjarasman

Tapak Ngliman 8

kibanjarasman

Tapak Ngliman 7

kibanjarasman

Tapak Ngliman 6

kibanjarasman

Tapak Ngliman 5

kibanjarasman

Tapak Ngliman 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.