Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra ing Pungkasan 34

Seorang perwira tingkat rendah terlihat mengayun langkah lebar mendekati Ki Danupati dan Arya Dipangga. “Pasukan telah usai berbenah. Kami siap menerima perintah selanjutnya,” lapor perwira itu. Sejurus kemudian, Ki Danupati telah membawa pasukannya yang bergerak dengan perbekalan yang cukup ringkas. Arya Dipangga akan menyusul mereka setelah ayam berkokok yang kedua kali.

Satuan perang yang dipimpin Ki Danupati bergerak meninggalkan himpunan besar angkatan darat Demak. Mereka berjalan beriringan menjauh dari pandang mata orang-orang yang melihat perkembangan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Kegaduhan yang terjadi karena perbedaan pendapat di antara perwira pun segera terjadi. Sebagian perwira ingin menghentikan keputusann yang mereka anggap sebagai penyimpangan dengan segala cara. Membenturkan senjata? Itu dapat dilakukan asal dapat menghentikan Ki Danupati. Sejumlah orang berpendapat bahwa keputusan Ki Danupati, meskipun salah, wajib dihormati karena memang tidak ada kepastian hasil dari pertempuran yang terjadi di perairan Panarukan.

Arya Dipangga menengahi perbedaan pendapat yang semakin tajam terjadi di antara perwira-perwira yang mempunyai pengaruh besar di angkatan perang Demak. Ia meredam gejolak mereka dengan mengatakan, “Kita akan tutup jalur kepulangan pasukan Ki Danupati. Bila dipandang perlu, Anda sekalian mendapat izin untuk menumpas habis para pembangkang. Namun, untuk sementara waktu, agar kegaduhan ini tidak meluas hingga mencapai pendengaran orang-orang kebanyakan, maka kita diamkan saja keputusan Ki Danupati.”

Tidak ada seorang pun yang membantah saran Arya Dipangga. Arya Dipangga bukan orang yang berkedudukan tinggi dalam angkatan perang Demak tetapi mempunyai hubungan yang luas dan kuat di kotaraja. Kekuatan itulah yang membuat para senapati enggan memanjangkan perbedaan.

Kiai Rontek yang cukup seksama mengamati perkembangan pasukan Ki Danupati dari waktu ke waktu akhirnya mendapatkan waktu untuk bicara empat mata dengan Arya Dipangga. “Gerakan ini mungkin akan permulaan yang tidak pernah berakhir. Orang-orang yang mempunyai pengertian pada tujuan Raden Trenggana mungkin akan memberi perlawanan, termasuk di situ adalah keturunan mereka. Ki Tumenggung, setiap orang yang berada dalam pasukan itu tentu mempunyai harapan dan cita-cita tersendiri. Dasa manah  berlalu dari tempat ini tanpa kesedihan yang mengiringi.”

Dasa manah,” gumam Arya Dipangga mengulang ucapan Kiai Rontek.

Lanjut Kiai Rontek, “Kepergian pasukan Ki Danupati akan meninggalkan kekosongan yang tidak akan dapat dimanfaatkan lebih baik oleh panglima angkatan darat Demak.”

“Namun kita tidak boleh terburu-buru memotong jalur Jepara, Kiai,” ucap Arya Dipangga. “Kita  tidak boleh gegabah mendudukkan Arya Penangsang di singgasana Demak. Jepara dan Pajang adalah kekuatan yang tidak dapat diabaikan. Mereka harus tetap mendapatkan perhatian.”

Kiai Rontek bergumam, kemudian katanya, “Selama Pangeran Parikesit, Ki Kebo Kenanga dan Ki Getas Pendawa masih berada di Pajang, memang sulit bagi kita untuk memotong hubungan yang ada di antara Pajang dan Jepara. Bagaimanapun, Ki Tumenggung Arya Adiwangsa dapat mengambil peran penting bila Ki Danupati mampu meleburkan diri dalam pertemuan yang tentunya akan timbul gelombang-geombang kepentingan yang sangat besar.”

“Bila Arya Trenggana gagal menempuh jalan pulang, lereng Merapi dan sepanjang Pegunungan Kendeng akan memanas,” ucap Arya Dipangga dengan sinar mata berkilat. “Aku tidak ingin berpanjang angan dengan banyak pengandaian, tetapi itu adalah landasan yang sangat kuat. Ditambah kekuatan dan berlipatnya semangat pasukan Dasa Manah, pasukan yang dipimpin Ki Danupati, maka singgasana Arya Trenggana tidak akan bertahan lama.”

Kiai Rontek menautkan alis mendengar istilah Dasa Manah dijadikan Arya Dipangga sebagai nama pasukan Ki Danupati, lalu mengangguk perlahan. “Aku kira keberadaanku di sini sudah melebihi waktu yang diperkirakan. Kemandulan para pemimpin perang Demak membuat keputusan akhirnya menjadikan segalanya berjalan lambat,” kata Kiai Rontek lantas meminta diri untuk kembali ke Jipang. Arya Dipangga menyetujuinya karena Kiai Rontek menyamar sebagai prajurit rendah, maka ketiadaannya tidak akan menyita perhatian perwira angkatan darat Demak. Selain itu, Kiai Rontek memang harus menyusun persiapan yang luwes agar dapat bersesuaian dengan segala perkembangan di Blambangan.

Pasukan Dasa Manah mengambil jalan memutar. Mereka tidak menyisir kawasan pesisir. Ki Danupati menilai bahwa telik sandi Blambangan pasti banyak tersebar di sepanjang pantai utara. Demikian pula petugas sandi yang ditugaskan Demak. Maka pertimbangan seperti itu mendorong Ki Danupati mengambil arah ke utara lembah Mahameru, meski tidak akan mencapai pesisir tetapi pasukannya dapat tersamar lebih lama. Meski begitu, Ki Danupati sadar bahwa ketajaman telinga dan penciuman telik sandi Blambangan dapat segera mengetahui kehadiran pasukan Dasa Manah.

Sedikit perhatian yang diberikan oleh orang-orang yang berpapasan dengan pasukan Ki Danupati di jalan-jalan kecil antar padesan. Sekali waktu, mereka memotong hutan, ngarai dan lembah. Prajurit Dasa Manah menunjukkan kekuatan watak keprajuritan, maka gerombolan-gerombolan penjahat pun harus menyingkir dari sarang mereka ketika mengetahui bahwa iring-iringan Ki Danupati memasuki wilayah kekuasaan mereka. Itu menyebabkan kegembiraan tersendiri bagi para pedagang serta orang-orang yang kerap menjadi mangsa para penjahat.

Setiap kali rombongan prajurit yang tidak mengenakan lambang keprajuritan melintasi jalan melingkar di luar wilayah padesan, orang-orang segera berdiri berjajar, berderet-deret seolah ingin melepas kepergian sekelompok pahlawan. Mereka merasa perlu memberi penghormatan karena terbantu secara tidak langsung dengan kehadiran mereka di wilayah yang jarang terpantau prajurit peronda.

Pasukan Dasa Manah bergerak tidak terlalu cepat meski perbekalan mereka tidak cukup banyak. Ini sebuah kegagahan yang meninggalkan kesan tersendiri bagi orang-orang padesan.

Walau bergerak senyap di antara lorong-lorong pedesaan, keberadaan pasukan Dasa Manah dapat terpantau oleh para petugas sandi Blambangan. Itu sesuai dengan dugaan Ki Danupati sebelum. Berita kedatangan pasukan yang tidak mengenakan lambang kesatuan segera sampai pada pendengaran kelompok-kelompok kecil para telik sandi Blambangan.

Related posts

Lamun Parastra Ing Pungkasan 9

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 8

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Leave a Comment