Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra ing Pungkasan 33

“Medan yang kita lalui adalah jalur belukar, terjal dan cukup tajam. Kita berangkat dini hari nanti dan secepatnya tiba di wilayah padesan Lumajang sebelum dua pekan,” kata Ki Danupati. “Barangkali sebagian orang akan mencemooh dan mencibir kalian. Biarlah, mereka berhak untuk berkata yang mereka suka seperti mereka punya hak untuk diam. Hanya saja, aku dapat pastikan keengganan mereka akan menjadi penyesalan yang menjadi payung kelam sepanjang hidup mereka. Pemimpin kita, Arya Dipangga dan Arya Adiwangsa sudah membuat perkiraan bahwa sesuatu yang buruk dapat terjadi di Panarukan. Dan, selama kita berada di sini, kita belum menerima berita kemenangan angkatan laut Demak. Apa yang sebenarnya terjadi di samudera? Kita tidak boleh mempunyai hati yang berlapis tipis. Dasa Manah akan menjadi semboyan dan nama baru pasukan kita.”

“Kami akan turut menyertai Ki Rangga,” ucap seorang lurah prajurit lantas beranjak berdiri, “apakah persiapan dapat kami lakukan wayah bocah sirep?”

“Itu sepenuhnya tergantung pemimpin kalian,” jawab Ki Danupati. Sejenak kemudian, ia membubarkan pertemuan sambil meluangkan waktu agar dapat memungkinkan terbuka kesempatan bicara dengan Arya Dipangga.

“Keadaan tidak semakin meruncing, namun kita tidak dapat pula berkata bahwa suasana jiwani pasukan Demak sedang baik-baik saja,” jawab Arya Dipangga ketika ditanya Ki Danupati mengenai perkembangan terakhir di perairan Panarukan. “Aku mendapat laporan bahwa Gagak Panji sedang menyiapkan pertemuan yang bertujuan untuk membahas gagasan damai.” Arya Dipangga mendengus gusar. “Ki Danupati, engkau tahu bahwa kesepakatan damai dengan Blambangan akan meneguhkan kedudukan Arya Trenggana. Ini akan menjadi berita buruk.”

“Apakah itu berarti kita akan datang untuk mengacaukan pertemuan?”

Arya Dipangga menggeleng. “Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin Arya Trenggana semakin membesar kepalanya. Tentu sambutan hangat dan puji-pujian akan datang baginya dari seluruh pelosok wilayah yang berada di bawah pengaruh Demak. Kalangan brahmana dan pendeta akan melihat kenyataan itu dengan dahi berkerut. Sementara pada bagian lain, orang-orang akan bungkam lalu melupakan perbuatan Pangeran Prawata.”

“Benar, kita tidak dapat hidup dengan kekecewaan karena kesalahan yang tidak pernah berakhir dengan hukuman. Raden, apakah hubungan di antara mereka begitu rumit?”

“Ya. Apabila kita bicara mengenai hubungan antara Arya Trenggana dan keluarga Arya Penangsang, maka yang terlihat hanyalah padang yang tandus. Orang-orang bicara tentang kesejukan jiwani pada satu sisi, namun mengosongkan sisi yang lain. Apakah itu kesengajaan? Aku tidak tahu. Engkau pun tidak akan tahu,” Arya Dipangga berkata sambil beranjak bangkit dari tempat duduknya. Kemudian lanjutnya, “Pertimbangan Arya Trenggana, sebelum meluaskan wilayah dan pengaruh, tentu lebih baik daripada Adipati Unus, kakaknya. Kita dapat melihat bahwa Arya Trenggana tidak mengambil jalan yang sama dengan kakaknya, menyerang bangsa bermata biru di negeri seberang. Ki Danupati seharusnya tahu penyebabnya.”

Ki Danupati manggut-manggut lalu menyandarkan punggung pada pohon ketapang yang cukup besar. Semilir angin malam yang turun dari Gunung Semeru tidak sanggup menghalau suasana percakapan yang semakin hangat.

“Arya Trenggana cukup tajam membuat perbandingan. Ya, tentu saja, dengan memperhatikan hasil buruk Adipati Unus maka Raden Trenggana sudah memperkirakan kekuatan orang-orang dari negeri seberang. Terlepas dari tujuan yang dianggap mulia oleh sebagian orang, namun kekecewaan adalah sebuah keniscayaan. Aku kira, itulah salah satu sebab yang mendorong hasratnya untuk melakukan gerakan bersenjata ke wilayah-wilayah yang berada di sebelah timur Demak,” kata Ki Danupati.

“Sebuah perpaduan yang memang akhirnya membuahkan hasil gemilang bila perolehan itu diukur dari luasnya pengaruh,” ucap Arya Dipangga. “Meski demikian, masih saja belum menjadi jaminan bahwa tunduknya sejumlah daerah pada Demak akan langgeng. Seorang penguasa wilayah dapat saja menerima pinangan Demak bila melihat ada kepentingan yang dapat diusungnya, lalu berbalik menikam setelah peluang untuk itu telah terbuka. Kita telah banyak melewati sejarah yang menyatakan seperti itu. Raden Wijaya adalah pengecualian. Prabu Jayakatwang adalah kerabat Prabu Kertanegara, tetapi kita mengetahui akhir dari hubungan mereka berdua.”

Ki Danupati dapat menerima alasan-alasan yang kemudian dikemukakan oleh Arya Dipangga. “Satu-satunya jalan yang dapat kita tempuh adalah memasuki ruang pertemuan yang akan digelar Gagak Panji,” potong Ki Danupati. “Bilakah pertemuan itu diadakan?”

“Apakah kita, terutama untuk Ki Danupati sendiri, dapat menerima kesepakatan damai jika itu dapat dicapai Arya Trenggana dan Gagak Panji?” bertanya Arya Dipangga.

“Aku kira, segala kemungkinan dapat muncul dari pertemuan itu. Kita tidak pernah tahu yang dipikirkan oleh Hyang Menak Gudra, meski begitu, aku pikir, keberadaan Pangeran Tawang Balun akan menjadi penentu hasil akhir,” kata Ki Danupati seolah menghindar untuk menjawab langsung pertanyaan Arya Dipangga.

Arya DIpangga dapat menilai bahwa Ki Danupati termasuk orang yang sulit dikendalikan, terlebih bila hasil perundingan tidak sesuai dengan kehendaknya. Itu akan menjadi persoalan yang cukup rumit apabila Pangeran Parikesit maupun Ki Patih Matahun justru memandang perdamaian dari sudut yang berlainan. Mungkin dalam pendapat Ki Patih Matahun, pikir Arya Dipangga, perdamaian dapat terjadi bila Jipang dapat berdiri dengan daulat penuh. Arya Dipangga mempunyai pemikiran lain yang telah disepakatinya bersama Arya Adiwangsa. Jika Blambangan dan Demak dapat berdamai atau mengakhiri perang, sebuah rencana telah mereka siapkan di masa mendatang.

Related posts

Lamun Parastra Ing Pungkasan 9

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 8

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Leave a Comment