Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 8

Kesigapan lelaki asing itu mengejutkan Pangeran Purbaya. Tentu bukan seorang petani atau orang biasa, pikir Pangeran Purbaya. Lelaki itu membalas serangan Pangeran Purbaya dengan terjangan yang tidak kalah hebat. Sejenak dalam penglihatan, mereka belum terlihat bertarung dengan sungguh-sungguh.

Sukra pun tiba di tempat perkelahian. Segenap daya penglihatannya diarahkan pada lingkar pertarungan yang belum menunjukkan peningkatan. Sepertinya mereka masih saling melakukan penjajagan, Sukra berpikir demikian. Lelaki asing itu mampu mengimbangi pergerakan Pangeran Purbaya yang cukup cepat. Sekali waktu mereka saling mengadu tendangan, menjauh dengan loncatan pendek, lalu kembali saling menggebrak dengan tata gerak yang terbilang sederhana.

Tanpa ada suara, tiba-tiba Pangeran Purbaya melentingkan tubuh ke udara, berputar-putar dalam keadaan melayang, lalu menghunjam seperti batu yang terlontar dari ketinggian. Laki-laki yang menjadi lawannya mendongak dengan tatap mata setajam elang, menyilangkan tangan di atas kepala, kemudian menyambut serangan yang menukik tajam padanya.

Benturan terjadi. Walau tidak dilambari sepenuh tenaga cadangan tetapi cukup mengejutkan kedua belah pihak. Mereka saling menjauh sambil beradu pandang.Mereka sama-sama mengatur napas dengan tetap mencari jawaban penyebab perkelahian serta jati diri lawan masing-masing.

Sekejap dalam pengamatan, dua orang itu seperti sedang berusaha menyatukan desahan napas. Akankah terjadi sesuatu pada mereka? Mungkinkah mereka segera meningkatkan perkelahian melalui cara yang luar biasa? Perubahan dapat dirasakan di sekitar mereka. Keadaan meningkat sedikit lebih tegang.

Kerut mata Pangeran Purbaya seolah menebar kekuatan yang cukup perkasa, kekuatan yang sanggup menundukkan hati seseorang. Namun wajah Pangeran Purbaya memperlihatkan air muka yang ganjil. Dalam waktu itu, ia sedang menimbang sebuah perbincangan dengan lelaki asing yang ada di depannya. “Jika seseorang bergerak di dalam gelap, di sebuah wilayah yang jarang dirambah manusia, apakah engkau mempunyai kata yang tepat untuk menyebut orang itu?

Dari balik kain penutup, terdengar suara lirih. Tidak begitu jelas yang diucapkannya.

“Aku dapat membiarkanmu pergi bila engkau bersedia membuka diri lalu kita duduk berbincang,” lanjut Pangeran Purbaya setelah ia tidak mendapatkan tanggapan walau sudah merasa memberi waktu yang cukup.

“Untuk apa? Apakah kita sudah mengenal sebelumnya?” kata lelaki itu. Pangeran Purbaya memang tidak sepenuhnya menampilkan diri, sebagian rias penyamaran masih melekat pada wajahnya. Suaranya pun tidak mewakili kenyataan sesungguhnya.

“Begitukah?” Pangeran Purbaya bergeser selangkah ke samping sambil memiringkan tubuh.

Sementara lelaki itu telah bersiap menerima atau mendahului menyerang Pangeran Purbaya.

Meski pada awal perkelahian dua orang itu belum mengerahkan segenap kemampuan, tetapi keduanya mengerti bahwa masing-masing memiliki dasar yang sangat kuat. Sangat berbahaya jika terlena dengan segala macam tata gerak yang sederhana.

Pangeran Purbaya masih menunggu, demikian pula orang yang menjadi lawannya.

Waktu berjalan semakin lambat, serasa seperti itu bagi Sukra dan dua pengawal Sangkal Putung.  Dalam pandangan mereka dan yang ada di dalam benak tiga orang yang sedang menyaksikan, keadaan itu sudah cukup mencekam. Mereka seperti dua rajawali yang sedang memburu mangasa.  Dua pasang mata yang beradu kekuatan untuk saling menancapkan pasak agar lawannya membeku dan diam. Ini adalah keadaan yang menyiksa, sebetulnya, tetapi mungkin kekuatan mereka berimbang maka siksaan itu pun berhamburan, menerkam Sukra dan dua orang lainnya.

Ya, tiga punggung orang itu merasa seperti disayat benda tajam tetapi mereka tidak mampu bergerak. Tiga orang pengikut Pangeran Purbaya menjadi tidak berdaya dan diam membeku.

“Ini perkelahian yang aneh,” ungkap Sukra dalam hati. “Tidak ada senjata yang berkelebat, tidak pula terasa udara yang berganti tekanan yang mampu membelah dahan dan ranting.” Sesaat kemudian Sukra membandingkan dengan perkelahian Nyi Ageng Banyak Patra ketika meladeni Ki Manikmaya.

“Luar biasa,” desis Pangeran Purbaya. Ia menjadi tertarik dengan jati diri lawannya.

Namun, sebelum Pangeran Purbaya tuntas dengan kesimpulannya di dalam hati, lelaki itu bergerak secepat kilat yang membakar langit. Ia berupaya menarik Pangeran Purbaya pada lapisan tempur yang lebih tinggi. Maka, dengan mengerahkan segenap tenaga, lelaki asing itu mulai mengeluarkan tata gerak yang meningkat rumit. Dalam waktu itu, Pangeran Purbaya mengambil sikap yang berlainan. Pangeran Purbaya justru memutar keadaan dengan gerakan-gerakan yang hanya bertujuan untuk mengimbangi usaha lawan.

Pertempuran meningkat lagi selapis lebih tinggi. Pada pergumulan di tingkat yang lebih tinggi, dua orang itu masih mengandalkan kecepatan namun tidak dengan tenaga cadangan. Mereka hanya meningkatkan kekuatan wadag setiap kali membenturkan kekuatan. Sepasang lengan mulai terasa nyeri, sepasang betis terasa patah tetapi mereka bergeming dengan keadaan yang cukup janggal itu.

Namun, pada akhirnya, Pangeran Purbaya membuat keputusan untuk secepatnya menguak orang yang masih merahasiakan diri. Pangeran Purbaya berusaha mengambil kendali pertarungan, menyeret lawannya dalam pergumulan yang semakin sengit.

Berulang-ulang lelaki asing itu mengerutkan kening. Memeras ingatan yang mungkin lama tertutup oleh lembaran-lembaran kehidupan yang telah dijalaninya. Siapakah yang menjadi lawannya? Mengapa ia benar-benar merasa asing dengan segala tata gerak yang mengalir cepat di sekitarnya? Pikirnya, mula-mula perkelahian ini berlangsung seperti dua orang yang baru mengenal olah kanuragan, lalu?

Perkelahian benar-benar terjadi sedemikian sengit untuk kemudian Tenaga cadangan mulai terungkap walau masih berjalan sangat lambat. Meski begitu, lelaki asing itu harus mengakui kematangan tempur yang dimiliki lawannya. Perhitungan cermat ditunjang gerakan yang sangat gesit sudah cukup membuatnya basah oleh keringat. Mungkin lawannya sedang berbelas kasih padanya hingga ia tetap dapat bertahan di tengah amuk badai Pangeran Purbaya.

Sepasang tangan lelaki asing itu mulai bergetar. Ia didera kegalauan : apakah akan sepenuhnya mengeluarkan tata gerak yang mematikan dan berlambar tenaga cadangan sepernuhnya? Namun ia tidak sampai hati karena Pangeran Purbaya sama sekali tidak pernah mengarahkan serangan pada bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Terlebih ledakan-ledakan kejutan yang terjadi di dalam jiwani lelaki asing itu kian membesar ketika kulitnya serasa melekat setiap menangkis serangan Pangeran Purbaya. Bagaimana dapat terjadi kulitnya seolah menempel ketat pada sepasang lengan musuhnya? Ilmu apakah ini?

Yang lebih mengherankannya adalah sama sekali tidak ada kelanjutan dari Pangeran Purbaya untuk melukai dirinya. Setiap kali lengan mereka melekat, setiap ia merasakan nyeri, seketika itu pua Pangeran Purbaya menarik mundur ilmunya. Ini sangat aneh, aneh sekali. Lelaki ini merasa seakan berkelahi dengan manusia karet yang cukup lengket. Ini adalah ilmu langka dan ia jarang atau tidak pernah berkelahi dengan ilmu-ilmu yang serupa dengan kemampuan lawannya. Bisa jadi, lawannya adalah orang kuat yang jarang menyusuri jalanan yang ramai tetapi menyimpan kedahsyatan yang sukar dibandingkan. Lelaki ini terlena oleh pikirannya, satu tendangan menggapainya lalu mendorong tubuhnya keluar dar gelanggang.

Namun sekejap kemudian, ia bangkit, melesat secepat bayangan setan berkelebat dan perkelahian kembali menyalakan api yang membakar daya tahan dan semangat juang.

Ketika lelaki itu melihat celah sempit di bagian bawah lengan Pangeran Purbaya yang sedang berayun, ia menyusupkan pukulan. Namun, tidak disangka-sangka, Pangeran Purbaya mengubah arah serangan, menggeliatkan tubuh, kemudian membalasnya dengan sebuah tamparan.

Lawan Pangeran Purbaya tidak dapat mengelak. Ia memejamkan mata sambil membayangkan kulit wajahnya terkelupas karena daya lekat lawan atau hancur karena hantaman lawan!

Sukra menguatkan hati untuk melihat kekalahan lawan Pangeran Purbaya, namun siapa sangka jika Pangeran Purbaya hanya menarik kain penutup wajah lawannya saja?

“Engkau? Glagah Putih? Kakang!” seru Sukra dengan raut wajah membuncah lega. Daya jangkau penglihatan Sukra memang meningkat tajam meski keadaan gelap, maka ia segera mengenali paras pucat yang tak jauh darinya.

Glagah Putih belum dapat menguasai diri sepenuhnya ketika ia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia berpaling lalu melihat seorang anak muda berjalan cepat menghampirinya. “Sukra?” desisnya.

Pangeran Purbaya sigap mengulurkan tangan, lalu katanya, “Bagaimana keadaanmu, Ngger?”

Ia seperti merasa kenal suara itu, tetapi siapakah orang yang berdiri tegak dengan bahasa tubuh yang hangat itu? Glagah Putih terombang-ambing oleh keadaan. “Seperti…seperti yang Ki Sanak lihat sekarang ini,“ jawab Glagah Putih dengan nada gugup. Ia tidak tahu dan benar-benar tidak mengerti terhadap perubahan mendadak yang menyergap perasaannya.

Related posts

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 7

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 6

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 5

kibanjarasman

Leave a Comment