Padepokan Witasem
arya penangsang, jipang, penaklukan panarukan, panderan benawa
Bab 1 - Serat Lelayu

Serat Lelayu 25

Namun Arya Penangsang cukup waspada. Meski tidak melihat cara lawan saat akan menyerang dari belakang, Arya Penangsang menggeser kaki sebelah, sedikit menekan lutut, lantas menerjang Nyi Poh Gemrenggeng dengan daya dorong yang sangat kuat! Sebenarnya saat menyerang Nyi Poh Gemrenggeng, Arya Penangsang telah menjauh dari jangkauan serang Ki Ajar Wit Sunsang. Sekejap berikutnya, ketika Nyi Poh Gemrenggeng terhuyung mundur sambil disertai keterkejutan yang luar biasa, sebelah kaki Arya Penangsang menyambar dada Lembu Jati.

Walau sempat terpana dengan tata gerak Adipati Jipang yang dahsyat, Lembu Jati masih dapat menghindari tendangan yang menyambarnya secepat kilat. Lembu Jati cepat menyusun kembali kuda-kuda lalu berancang-ancang melepaskan serangan balik.

Dalam waktu itu, terkaman Ki Ajar Wit Sunsang hanya menemui sasaran kosong. Arah gerakan Arya Penangsang berada di luar dugaannya. Sejenak dia mengamati perkembangan serangan Adipati Jipang tersebut pada Lembu Jati, tapi kemudian yang terjadi sungguh mengejutkan!

Bila setiap bagian kehidupan berjalan cukup wajar, maka tidak ada yang janggal atau aneh dari sikap maupun pemikiran Arya Penangsang. Dia sudah merasa cukup untuk menahan diri ketika mendengar penculikan Pangeran  Benawa. Dia sudah merasa cukup mengendapkan gejolak kegeraman saat  memasuki gelanggang perkelahian yang melibatkan Mas Karebet. Namun sewaktu ingatannya membuka lembaran peristiwa memilukan yang menimpa Raden Trenggana serta orang-orang yang menjadi pendukung latar belakang, Arya Penangsang seolah menjadi sosok yang berbeda. Menghadapi Lembu jati serta dua pembantunya yang berkelahi dengan cara yang tidak selazimnya ditempuh oleh seorang lelaki, Arya Penangsang bertarung sangat garang. Dia merasa bahwa tidak akan ada lagi hari esok bagi Demak dan dirinya.

loading...

“Tidak seharusnya kalian menantangku di tempat sesunyi ini,” kata Arya Penangsang dengan suara lantang.

“Apakah kau ingin berkelahi di tengah kerumunan lalu menjadi tontonan banyak orang? Apakah Arya Penangsang telah putus urat malu jika kalah? Mungkin kau lebih suka mati di dalam pasar lalu dikenang sebagai kucing kelaparan di lumbung pakan?” tukas Lembu Jati mencoba melepas kendali diri murid salah seorang berjiwani tinggi di tlatah Jawa tersebut.

“Bagus… Bagus bila kau merasa sangat yakin dengan ucapanmu itu,” sahut Arya Penangsang tanpa mengendurkan serangan yang dilepaskan bergantian pada Lembu Jati dan Nyi Poh Gemrenggeng.

Yang berkembang selanjutnya adalah Arya Penangsang terkekeh dengan nada yang mengerikan. Meski begitu, raut wajah keponakan Raden Trenggana itu justru menampakkan kegembiraan seperti anak-anak yang sedang bermandi cahaya rembulan benderang.

Ki Ajar Wis Sunsang yang berada di dekat garis lingkaran perkelahian mengira Arya Penangsang sedang menuju titik lemah. Saat dia tertawa, bukankah itu adalah saat pertahanannya terbuka? pikir Ki Ajar Wit Sunsang. Maka segeralah dia menggeser langkah, menyisir garis pertempuran setengah lingkaran, lalu menerkam dengan disertai tenaga inti pada sepasang tapak tangannya. Ki Ajar Wit Sunsang bermaksud mengambil tangan untuk dihancurkan!

Bersamaan dengan lompatan Ki Ajar Wit Sunsang yang terpantau dari perubahan arus udara, Arya Penangsang menunda serangannya pada Lembu Jati, lalu memutar tubuh secepat kilat sambil mendorongkan sekepal tangan yang mendesing kuat.

Dua tenaga berbenturan. Udara mendentum tanpa gelegar lalu Arya Penangsang yang bergerak nyaris seperti bayangan terlihat mengalihkan perhatian pada Lembu Jati. Yang terjadi adalah Ki Ajar Wit Sunsang tidak mampu menahan laju tenaga lawannya yang merangsek maju, menyusup melalui pembuluh darah hingga menggedor jalur pernapasannya. Napas Ki Ajar Wit Sunsang terhenti untuk sesaat. Dia terjatuh dengan pandangan mata gelap lalu terkulai tanpa ada gerakan sedikit pun.

Pada waktu itu, Arya Penangsang bergerak lincah dan meliuk-liuk seperti elang mengunci mangsa. Serunya, “Teluk? Atau kau ingin menyusulnya kemudian?”

Lembu Jati mengumpat dalam hati. Ini di luar dugaan, batinnya. Dia mengira kehadiran Ki Ajar Wit Sunsang – yang terkenal sebagai orang berilmu tinggi di tempatnya – akan dapat memberinya kemenangan. Namun justru Ki Ajar Wits Sunsang menjadi orang pertama yang pergi ke alam baka. Keadaan itu sudah pasti berbeda dengan serangan yang ditujukan pada Mas Karebet di tepi hutan wilayah Pajang. Kyai Rontek seakan menjadi penjamin keberhasilan sebelum kedatangan Pangeran Parikesit dan Ki Getas Pandawa.

“Kucluk!” maki Lembu Jati. “Apa kau kira kematian orang itu akan menjadi awal bencana bagi kami? Kau bermimpi, Arya Penangsang!” Meskipun dia tahu bahwa kepandaian Arya Penangsang hampir tidak terukur, tapi menyerah bukanlah bagian dari hidupnya. Apalagi Lembu Jati sering terlibat di dalam pembicaraan rahasia mengenai peralihan tahta Demak. Tidak hanya sebatas itu, Lembu Jati pun sudah menempatkan cita-cita di dalam istana Demak. Maka, dia harus mampu  mengatasi Arya Penangsang yang bertarung trengginas dan sering melakukan gerakan-gerakan janggal.

 

 

#teluk = menyerah (jawa)

#kucluk = gila (jawa)

Wedaran Terkait

Serat Lelayu 9

kibanjarasman

Serat Lelayu 8

kibanjarasman

Serat Lelayu 7

kibanjarasman

Serat Lelayu 6

kibanjarasman

Serat Lelayu 5

kibanjarasman

Serat Lelayu 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.