Padepokan Witasem
arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak
Bab 10 Lamun Parastra Ing Pungkasan

Lamun Parastra Ing Pungkasan 7

Tidak ada jalan bagi Gending Pamungkas untuk menahan kekuatan Gagak Panji yang sangat dahsyat. Ia sedang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana orang ini dapat mencapai tingkat sedemikian tinggi? Sebelumnya, ia mendengar bahwa kemampuan Gagak Panji mungkin setara dengan seorang panji. Walau begitu, banyak suara yang mengatakan padanya agar waspada dengan setiap yang didengar bila berkaitan dengan Gagak Panji.

Agak jauh dari garis pantai, Gending Pamungkas telah terseret arus kekuatan Gagak Panji. Hatinya bergetar dan semangatnya menggelepar seperti ikan melompat keluar dari kolam. Namun, bagaimana ia dapat mengatakan takut? Sedangkan jalan untuk menghindar telah tertutup. “Aku bukan pengecut!” tegas Gending Pamungkas dengan hati gusar. Namun kegusarannya tidak dapat mengalihkan keadaan bahwa tubuhnya timbul tenggelam di permukaan laut.

Hempasan tenaga Gagak Panji benar-benar di luar jangkauan akal sehat.

Di tengah perkelahian yang benar-benar membetot banyak perhatian orang, Gagak Panji masih dapat mengamati sekelilingnya. Pertempuran sedikit demi sedikit mulai memudar seiring matahari beranjak tenggelam. “Aku tidak dapat membiarkan keadaan ini berlangsung lama. Jika itu terjadi dan peperangan masih berlanjut esok hari, maka daya juang pasukan akan terjun bebas,” kata Gagak Panji dalam hati. Pikirnya, Blambangan harus dapat menghemat tenaga tanpa mengorbankan banyak orang. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri dengan membiarkan Gending Pamungkas tetap hidup. Dengan begitu, Gagak Panji menaruh harapan agar Gending Pamungkas akan sedikit melunak ketika bertempur pada sayap yang lain. Kemampuan Gending Pamungkas telah diketahuinya dan menurut Gagak Panji, itu akan mendatangkan kesulitan bagi pertahanan Blambangan.

“Aku akan memberimu pelajaran bagaimana menghargai hidup, Gending Pamungkas!” seru Gagak Panji sambil memukul permukaan air. Gelombang bergulung-gulung melibas tubuh Gending Pamungkas, membelitnya lalu membawanya ke arah kapal Raden Trenggana.

Ketika itu, Gending Pamungkas sungguh-sungguh merasakan sendiri kekuatan yang selama ini mengendap dalam diri Gagak Panji. Ia tidak dapat mengerahkan tenaga inti karena air laut benar-benar memberinya tekanan yang dapat meledakkan dadanya. Yang dapat dilakukannya hanyalah menahan napas dan membiarkan tubuhnya hanyut oleh gelombang di bawah permukaan laut.

Lawan Gagak Panji tergulung ombak lalu timbul tenggelam karena Gagak Panji terus menerus memukul permukaan air dengan ilmu yang diajarkan oleh Mpu Badandan. Kapal Raden Trenggana terangkat tinggi, mengikuti aliran ombak yang berawal dari pukulan Gagak Panji, lalu terbanting, tetapi benda besar itu masih dapat mengapung sangat baik. Hantaman gelombang hanya mampu membuat kapal perang itu terayun-ayun. Meski demikian, beberapa orang terlempar ke laut karena guncangan begitu keras! Sejenak kemudian, Gending Pamungkas tampak mengapung di sisi lambung. Dengan bantuan sejumlah prajurit, Gending Pamungkas dapat menaiki geladak dengan tubuh serasa remuk pada bagian dalam.

Hampir bersamaan dengan itu, Gagak Panji memberi tanda agar pasukannya menjauh dari lingkar perkelahiannya. Sebenarnya mereka berada cukup jauh, tetapi Gagak Panji tidak ingin sesuatu yang buruk melanda prajuritnya. Bentang ombak akan dapat menjangkau kedudukan kapal-kapal mereka. Tenaga inti Gagak Panji yang menyertai gelombang akan terbawa serta, maka dengan demikian, prajuritnya pun terancam bahaya yang sama.

Selarik bayangan tiba-tiba melesat dari kedalaman!

“Kita mundur sampai garis pertahanan!” tegas Semambung yang tiba-tiba berada di geladak yang sama dengan Ki Banyak Kitri. Lelaki setengah baya berwajah tenang hanya terperangah menatap Semambung yang basah.

“Maaf, Kiai. Maaf,” kata Ki Banyak Kitri yang belum mengerti alasan Semambung meminta mereka mundur. “Tidak ada perintah mundur dari Ki Rangga.”

“Aku tahu,” sahut Semambung. “Apakah kalian membutuhkan perintah beliau?”

“Demi kepatuhan kami,” jawab Ki Banyak Kitri.

“Baiklah,” kata Semambung lalu bersuit nyaring dengan nada tertentu.  Parau tapi melingking sangat tinggi.

Gagak Panji berpaling pada sumber lengkingan, lalu melihat Semambung berdiri di atas anjungan sambil menggerakkan tangan. Dari atas sebatang papan, Gagak Panji membalasnya dengan seruan, “Mundur!”

“Nah, kau pasti mendengar perintah Pangeran. Marilah, kita bergerak mundur,” ajak Semambung yang sebenarnya mengkhawatirkan keadaan anak buah Gagak Panji yang semakin terombang-ambing oleh gelombang tinggi. Setiap saat perahu dan kapal mereka akan terbalik, pikirnya.

“Lalu, bagaimana dengan Ki Rangga?”

“Ki Rangga akan baik-baik saja. Percayalah!”

Benar yang dikatakan oleh Semambung. Para prajurit Blambangan kemudian mendapati kenyataan baru : bahwa Gagak Panji berloncatan dari sebuah papan ke papan yang lain. Begitu ringan hingga sekilas terlihat seperti seekor burung camar yang melayang-layang dengan sayap membentang. Sebagian prajurit Blambangan mengatakan bahwa Gagak Panji sedang melakukan tarian kemenangan di depan mata Raden Trenggana. Namun Semambung segera mengingatkan agar mereka tidak bersikap sombong karena pertempuran belum selesai.

Related posts

Lamun Parastra Ing Pungkasan 9

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 8

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 6

kibanjarasman

Lamun Parastra Ing Pungkasan 5

kibanjarasman

Leave a Comment