Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 48

Kinasih beku dalam kedudukannya. Ia menggunaan semua ruang dalam pikirannya lalu menggores tajam pada benaknya untuk setiap penjelasan gurunya. Dalam waktu itu, keningnya tampak mengembun, dan udara di dalam pondok tiba-tiba meningkat tajam!

Perempuan renta itu bangkit mendadak, menarik lengan Kinasih lalu berkelebat sangat cepat, melintasi pintu, lalu melayang dan tiba-tiba mreka berdiri di atas dahan seukuran lengan. Peristiwa yang berlangsung sangat cepat, bahkan semuanya selesai dalam satu tarikan napas! Hembus angin bergerak turun membawa arus udara dingin dari puncak gunung. Guru Kinasih terus berkata dengan kalimat yang diucapkan sangat lirih dan hanya dapat didengar Kinasih seorang diri. Dalam waktu itu, uap berwarna putih keluar dari sela-sela bibir sepanjang pembicaraaan,  bergulung-gulung, membentuk selubung tebal, menutup tubuh mereka. Dahan bergetar setiap uap menyentuh sedikit dari permukaannya.

Berpegang pada pesan-pesan gurunya, Kinasih membuka diri agar setiap yang terkandung di dalam uap itu dapat menyusup masuk, menyebar lalu berhimpun pada bagian pusar. Ia dapat merasakan kesejukan menjalar di dalam tubuhnya, merasakan adanya kekuatan asing yang berputar-putar di balik dinding perutnya, dan merasakan segumpal tenaga inti mulai mengendap lalu menyebar lebih dalam dari yang dapat dibayangkannya, kemudian melebur lebih dahsyat!

Selimut kabut terurai perlahan, dan pandangan Kinasih menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ia dapat melihat sebuah pekuburan tua yang terletak di sisi utara pondok. Menurut keterangan gurunya, seorang perempuan yang mungkin seusia dengannya berbaring paripurna di bawah gundukan tanah yang terawat baik. Kinasih tidak mengetahui lebih banyak dari yang diterangkan gurunya, yang ia tahu adalah merawat lingkungan sekitarnya. Dan itu telah dilakukannya sepanjang hari sejak tinggal di dalam pondok. Bila gurunya tidak berada di padepokan, maka Kinasih terlihat sering merenung dan berpikir keras ketika berada di dekat makam tua itu. Seakan-akan yang terbaring – secara tidak kasat mata – sedang memberinya wejangan-wejangan. Wejangan yang tidak pernah bertentangan dengan ajaran gurunya ketika ia ungkapkan di hadapan gurunya.

Menjelang akhir malam, sekalipun gurunya tidak memberinya banyak keterangan tentang peristiwa yang terjadi di atas dahan, Kinasih tahu bahwa gurunya sedang mengajarkan sebuah ilmu padanya. Tentang segala yang terkait dengan perawatan Agung Sedayu, tentang cara mengalirkan dan mengungkap tenaga cadangan dan berbagai arahan yang tidak diutarakan melalui kata-kata.

Malam melayang perlahan ketika cahaya secara samar-samar menyeberangi lembah dan padusunan yang lengket pada punggung Merbabu.

Kinasih telah berada bagian depan pondok sambil memegang kendali kuda. “Apakah Guru tidak  kesusahan menempuh jarak panjang ke Mataram?’ Pertanyaan yang dapat dijawabnya sendiri : dengan penguasaan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, tentu mampu meringkas waktu perjalanan. Dua puluh orang penjahat pun mudah dihempaskan dengan sekali kibasan tangan. Namun, begitulah Kinasih yang tetap merasa berat melihat gurunya berangkat seorang diri.

“Aku selalu merasa lega setiap kali mendengarmu mengatakan itu. Tidak ada semilir angin yang lebih sejuk dibandingkan usapan kata-katamu. Dan, sepertinya, aku tidak perlu menjawab itu. Bukan begitu?” Perempuan itu kemudian mengembangkan senyum sambil mengulurkan tangan, membelai kepala murid tunggalnya. “Aku tidak akan lama berada di Mataram. Semoga Ki Patih berkenan melonggarkan waktu setibaku di sana.” Sepasang matanya menerawang jauh, pada arah kotaraja lalu terpaku saat memandang langit yang cerah. Dalam hatinya, ia berharap ada tambahan waktu untuk mengadakan pertemuan yang dianggapnya sangat penting. Sejenak ia menghela napas, kemudian pesannya pada Kinasih, “Tetaplah berbuat sesuai dengan pesan-pesan Nyai, kemudian, perhatikan dan amati keadaan Ki Rangga. Engkau dapat membuat tanda atau coretan bila sesuatu menghalangi perawatanmu.”

“Saya, Nyai.”

Sekejap waktu pun berlalu, Kinasih memandang punggung gurunya sampai menjadi titik terkecil dalam pandangannya. Pikirnya kemudian, ia akan disibukkan oleh gangguan yang terjadi pada bagian dalam tubuh Agung Sedayu. Kinasih mengerutkan kening sewaktu meraba kulit lengan Agung Sedayu yang tiba-tiba sedingin udara di Puncak Merbabu. Padahal, sebelum fajar menjelang, tubuh Agung Sedayu memancarkan udara panas yang luar biasa. Meski begitu, ia mengingat bahwa gurunya pun hanya menyentuh dahi senapati itu tanpa melakukan sesuatu. “Apa yang sedang Anda hadapi dalam ketidaksadaran ini, Ki Rangga?”  lirih Kinasih bertanya. Ia bandingkan dengan keadaannya beberapa waktu lalu, Kinasih sedikit mengerti karena ia mengalami peristiwa yang nyaris serupa. Kabut yang berasal dari sela-sela bibir gurunya mendatangkan hawa dingin, tetapi ketika berada di dalam tubuhnya, hawa dingin itu berubah menjadi sangat panas secara tiba-tiba!

Sehari penuh guru Kinasih menempuh perjalanan panjang menuju kotaraja. Regol Kepatihan tampak di ujung penglihatannya. Gardu yang berada di sisi depan regol tampak berisi dua prajurit jaga. Empat langkah di sebelah selatan gardu tampak ada sebuah bangunan kecil. “Mungkin baru dibangun. Aku tidak pernah lagi menengok Kepatihan satu atau dua tahun terakhir ini,” bisik guru Kinasih dalam hati. Bila ia menuruti kehendak hati, maka ia akan berjalan lalu bertanya pada prajruit jaga. Keterangan lengkap pasti akan didapatnya, tetapi guru Kinasih sadar bahwa setiap dinding mempunyai mata dan telinga. Dengan pemikiran itu, ia membawa kudanya sedikit ke bagian tepi jalan yang telah dipadatkan dengan batu-batu  yang tertanam rapi dan rata.

Belasan langkah dari gardu jaga, guru Kinasih berhenti di bawah pohon ketapang yang cukup tinggi dan berpokok besar.  Meski ia menjalani hidup jauh dari pusat keramaian Mataram dan Sangkal Putung, tetapi perkembangan yang dimunculkan oleh Raden Atmandaru tidak dapat lepas dari pengamatannya. Maka, perempuan luar biasa itu sangat berhati-hati menentukan langkah, meskipun tidak akan ada orang yang mengenalnya, kecuali orang itu berusia di atas tiga puluhan tahun. Ia tidak ingin gegabah dan salah langkah karena kerumitan dan kehalusan siasat Raden Atmandaru telah dikenalinya sangat baik.

Ia memutuskan untuk mengamati sekeliling Istana Kepatihan dengan cara memutari lingkungan, kemudian beralih ke tempat Panembahan Hanykrawati berkedudukan. Ia tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang setia pada kerabatnya. “Keadaan ini menjadi sangat sulit. Benar, aku sungguh tidak tahu, apakah sebagian tumenggung telah membelot atau setia padanya? Aku pikir lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk memasuki kediaman Ki Patih atau Panembahan Hanykrawati. Hanya satu tempat, hanya satu waktu.” Demikian yang berada di dalam pikirannya.

Hari memasuki senja ketika bayangan yang dikenalnya keluar melewati pintu kediaman Panembahan Hanykrawati lalu menaiki anak tangga kereta kuda.

“Mengapa dalam keadaan genting Ki Patih tidak menggunakan banyak pengawal?” Terlintas pendapat itu dalam benaknya sewaktu kereta kuda yang membawa Ki Patih Mandaraka melintas di bawah pandangan matanya. “Apakah Ki Patih belum mengetahui keberadaan orang-orang yang bakal mengambil tempat yang berseberangan dengan beliau?” Pertanyaan bernada cemas muncul dalam hatinya. Ketika seseoran gtelah menjadi tidak sabar dalam peralihan kekuasaan, maka cara keji pun dapat dilakukannya. Menyadari kemungkinan buruk yang dapat menimpa Ki Patih Mandaraka setiap waktu, guru Kinasih menyiapkan diri untuk pertarungan yang mungkin saja terjadi.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Merebut Mataram 6

kibanjarasman

Leave a Comment