Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 61

Tanpa didahului teriakan atau lengking nyaring yang biasa dilakukan orang sebelum berkelahi, Ki Hariman menyerang KI Patih Mandaraka dengan sabetan mendatar, berusaha memisahkan sesepuh Mataram itu dari Sukra beserta yang lain. Itu memberi ruang bagi Ki Panji Secamerti untuk menyelesaikan tanggung jawab yang diembannya dari Raden Atmandaru : habisi atau tidak sama sekali!

Namun, kali ini, Nyi Ageng Banyak Patra sepertinya akan turun tangan mencampuri pertarungan yang hampir meledak di sisinya. Serangkum tenaga diayunkannya dengan kecepatan penuh, membetot Ki Panji Secamerti agar berada di dalam lingkaran perang tandingnya melawan Ki Manikmaya. Tubuh Ki Panji menggeliat, mencoba menolak kekuatan yang menghisapnya dengan sabetan kerisnya yang bernama Kiai Cumpat Semangka. Tetapi ia gagal melepaskan diri, kedudukannya bergeser surut, mengarah pada Nyi Banyak Patra sejengkal demi sejengkal. Seketika Ki Panji membuat perubahan mencolok. Sedikit ia mengendurkan perlawanan, menghitung waktu lalu mengendap. Sekejap kemudian, ia mampu mengubah arah, Ki Panji mengapung, melesat secepat kelebat elang yang terjun dari tebing tegak lurus, menebas silang bawah ke atas dan menyerang guru Kinasih seolah tanpa kendali.

Pikir Ki Panji Secamerti secara singkat ; walaupun ia menghancurkan Ki Plaosan dan dua orang kawannya, itu belum menjadi jaminan kendali pertempuran dapat berada dalam genggamnya. Satu hal yang belum jelas adalah kesanggupan Ki Hariman melibas Ki Patih Mandaraka. Keadaan lain yang membuatnya harus membantu Ki Manikmaya adalah semakin cepat perempuan berusia senja itu diminggirkan, segalanya akan lebih mudah untuk selanjutnya. Demikianlah Ki Panji membuat keputusan.

“Perempuan, engkau tidak akan dapat kembali!” geram Ki Panji ketika ia telah berhadapan langsung dengan Nyi Ageng Banyak Patra.

“Jangan terlalu yakin, meski itu menjadi hakmu untuk mempunyai kepercayaan diri tinggi,” sahut Nyi Banyak Patra. “Aku tidak pernah bermimpi untuk pulang, tetapi ucapanmu itu, membuatku yakin bahwa keadaan akan berlaku sebaliknya. Kita akan selesaikan semua dengan perkelahian dan perkelahian. Marilah, Ki Panji. Benarkah engkau seorang panji? Kasihan. Terlalu buruk wajahmu bila disandingkan dengan demit-demit penunggu alas di semua lereng Merapi dan Merbabu. Tak pantas, sungguh, tak pantas.” Serangan kata-kata yang dilontarkan Nyi Banyak Patra cukup telak memukul benteng jiwani Ki Panji Secamerti.

Dalam waktu itu, sebenarnya kehadiran Ki Panji Secamerti yang dipaksa hadir di tengah perang tanding antara dirinya dan Nyi Ageng Banyak Patra membuat gejolak dalam hati Ki Manikmaya. Sepanjang waktu pertarungan, ia mengira bahwa musuhnya – Nyi Banyak Patra –  telah berada pada lapisan yang setara dengannya. Meski demikian, keraguan juga sempat muncul dalam hatinya ; mengapa perempuan senja itu belum terlihat kepayahan, sedangkan ia sudah mengerahkan segenap kekuatan? Lantas, apakah dengan bertambahnya lawan, itu berarti Nyi Ageng Banyak Patra masih menyimpan kejutan? Namun ia tidak dapat membuat perkiraan lebih jauh karena gelegar perkelahian Ki Patih Mandaraka dengan Ki Hariman telah meledak sangat hebat. Benar-benar mengagetkan!

Orang-orang di sekitar gelanggang Ki Patih dapat melihat betapa hebat Ki Hariman yang bertarung seperti badai di atas lautan. Alam seolah-olah marah dengan segala akibat yang timbul dari perkelahian sebelumnya. Sejumlah pohon berukuran sedang berderak-derak seakan akarnya tak sanggup menahan pusaran tenaga yang berada tak jauh dari baris tak rapi pepohonan.

Beberapa tahanan berteriak-teriak agar Sukra menjauhkan mereka dari gelanggang.Begitu hebat kibasan tenaga yang terlontar, begitu dahsyat angin yang berputar sehingga debu-debu terasa seperti ujung belati yang menusuk berulang-ulang kulit yang menerima terpaan tenaga. Bahkan Sukra, Ki Plaosan serta Ki Demang Brumbung pun merasakan kepala mereka berdenyut selagi berusaha mengikuti pertarungan dua orang berkemampuan tinggi tersebut. Atas saran Ki Lurah Plaosan, mereka menuruti kemauan tahanan agar menyingkir sedikit jauh.

Dalam waktu itu, Ki Patih Mandaraka bertanya dalam hatinya, bagaimana orang itu dapat menguasai bagian puncak dari kitab Kiai Gringsing? Patih Mataram itu mengerti bahwa membutuhkan waktu belasan atau puluhan tahun untuk dapat mencapai puncak ilmu Kiai Gringsing. Untuk orang-orang yang mengandalkan kekuatan wadag, maka mereka memerlukan waktu lebih singkat dari yang tidak mempunyai dasar olah kanuragan. “Bila demikian, barangkali orang ini sudah menguasai dasar yang sangat kuat atau mungkin ia berasal dari perguruan dengan jalur yang sama dengan Kiai Gringsing,” ucap Ki Patih di dalam bilik hatinya.

Semasa berhubungan akrab dengan Kiai Gringsing dan melalui pengamatannya pada setiap perkembangan ilmu Agung Sedayu, Ki Patih Mandaraka membuat kesimpulan sementara bahwa penguasaan Ki Hariman atas isi kitab Kiai Gringsing tidak akan sebaik Agung Sedayu atau Swandaru.  Meski demikian, ia tetap mengakui bahwa lontaran tenaga yang bersumber dari kitab Kiai Gringsing mampu menutup hampir semua kekurangan Ki Hariman.

“Sesingkat ini ia membutuhkan waktu untuk mendalami bagian-bagian penting kitab Kiai Gringsing,” ucap Ki Patih dalam hati. Melalui ketenangan yang luar biasa, Ki Patih Mandaraka meladeni serangan demi serangan, hentakan demi hentakan Ki Hariman yang dapat diibaratkan seperti amuk badai di tengah belantara yang rapat pepohonan!  Perkelahian hebat Ki Patih dan Ki Hariman belum meningkat begitu banyak, tetapi patih Mataram itu mulai melihat celah dalam banyak unsur gerakan lawan.

Ki Demang Brumbung dan Ki Plaosan, yang memiliki kemampuan nyaris setara, bertukar pandang sesaat. Masing-masing mengatakan dengan lirih, bahwa sangat sulit mengikuti pergerakan Ki Patih Mandaraka dan Ki Hariman yang berkelebat sangat cepat di dalam malam yang semakin pekat. Pandang mata mereka mulai kabur walau sudah mengetrapkan ilmu sejenis dengan Sapta Pandulu. Bahkan, Ki Demang megungkapkan bahwa ia sering kehilangan titik pandang. Seperti demikianlah prahara yang terjadi di bawah pandangan mata mereka berdua. Dalam waktu itu, Sukra sekali-kali bertanya tentang keadaan Ki Patih. Raut wajah Sukra terus menerus mengalami perubahan bila mendengar penuturan Ki Demang atau Ki Plaosan bila menyatakan Ki Patih sedang terdesak atau di atas angin.

Kehadiran Ki Hariman di tengah gelanggang pertempuran memang berada di luar dugaan Ki Panji Secamerti. Itu terjadi karena Ki Hariman mendapatkan tugas khusus dari Panembahan Tanpa Bayangan untuk mengawasi perkembangan usaha pembunuhan Ki Patih Mandaraka. Bila laskar yang bertugas khusus itu gagal menghabisi patih Mataram, maka Ki Hariman wajib membenamkan mereka selamanya. Tetapi yang terjadi justru berada di luar perhitungan banyak orang. Untuk itulah, Ki Hariman menguatkan kemauan untuk mengambil alih tugas Ki Panji agar tahap selanjutnya dapat berjalan tanpa banyak hambatan.

Hari demi hari selama di kotaraja, Raden Atmandaru dan satuan kecilnya terus mengadakan pertemuan dan pertemuan. Mengamati kebiasaan dan sikap harian Panembahan Hanykrawati. Orang-orang berkemampuan khusus pun telah siap untuk menyelinap di bawah alas tempat tidur. Perhitungan dan siasat yang rinci juga diuji dalam setiap kesempatan. Mereka akan keluar dari gerbang sesuai waktu yang sedang diuji atau diperhitungkan. Satuan kecil Raden Atmandaru sedang memanjat dinding waktu, mengintai, lalu membidik sasaran pada bidang yang tepat!

Namun bahaya besar sedang mengintip dan mungkin akan mengguncang ketenangan Bhumi Mataram. Seluruh susunan akan mengalami perubahan yang mencolok apabila Rakai Panangkaran tidak mendapatkan peringatan

Nir Wuk Tanpa Jalu

Namun, sebelum waktu itu tiba, mereka berupaya sangat keras mempersempit ruang dan gerakan Ki Patih Mandaraka. Pada malam itu, tanpa memberi ruang ampunan, Ki Hariman bertekad kuat dan daya juang sangat hebat agar Ki Patih dapat segera disingkirkan selamanya. Ki Patih Mandaraka akan diabadikan tanpa perlu lebih lama berjalan lenggang di permukaan bumi Mataram. Kubur dalam-dalam!

Lambat laun dan penuh kepastian, perkelahian Ki Patih Mandaraka meningkat selapis demi selapis tipis. Namun demikian kedahsyatan pertempuran sama sekali jauh dari kata tidak menggetarkan. Yang terdengar dan masih terus terdengar adalah ledakan yang serupa dengan lecut cambuk Swandaru dengan daya hancur yang lebih mengerikan!

Prahara seolah tidak dapat lagi mengekang diri. Ia terus mengamuk dan menggila! Nyaris tidak lagi dapat dibedakan antara udara yang terhempas karena tenaga atau imbas dari gerakan-gerakan yang sangat cepat melesat. Sulit untuk menyimpulkan sebelum menyediakan diri sebagai korban! Setiap dari dua orang tersebut, Ki Patih dan Ki Hariman, seolah telah berubah menjadi pusat badai yang mengamuk, seolah menjadi pusat dari segala kemarahan yang tumpah, seolah tidak akan ada yang tersisa lagi esok hari. Segalanya seakan menemui kebinasaan sebelum pagi tiba. Bagaimana tidak? Setiap orang merasa bahwa mereka seakan terhisap masuk lalu terjebak ke dalam pusat lingkaran perkelahian Ki Patih Mandaraka. Bila mereka berpaling pada pertempuran hebat yang tidak seimbang jumlah, maka mereka pun berpikir sama. Apakah mereka dapat selamat bila terseret pusaran angin perkelahian Nyi Ageng Banyak Patra?

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Leave a Comment