Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 60

Sikap tubuh Ki Panji Secamerti seolah tidak mengalami guncangan yang berarti walau tidak demikian. Suasana jiwani senapati Mataram yang berbalik arah itu mengalami guncangan , hanya saja ia mampu menyamarkan melalui air muka yang terlihat datar dan tenang. Rasa khawatir bahwa usahanya akan mengalami kebuntuan benar-benar menguasai ruang jantungnya, namun demikian, baginya sudah terlambat untuk memperbaiki keadaan. Kecemasan akan nasib keluarganya telah dihempaskannya sangat jauh. Dalam waktu itu, keyakinannya pada Raden Atmandaru yang telah memastikan keselamatan keluarganya telah menjadi pegangan yang begitu kuar. Tabu bagi Ki Secamerti untuk mengakui kesalahan dengan keputusannya memihak Panembahan Tanpa Bayangan.

Sementara lawannya, Ki Plaosan, telah bermandi darah karena sayatan keris Ki Secamerti mampu menembus pertahanannya walau masih berjarak sejengkal. Memang Ki Plaosan tidak bertarung dalam keadaan yang imbang dibandingkan musuhnya. Perkelahian di Slumpring dan ikut serta dalam penjagaan di Kepatihan perlahan namun pasti mengikis daya tahannya. Luar dalam Ki Lurah Plaosan nyaris sama dengan yang terjadi di permukaan jalan yang menjadi gelanggang perkelahian mereka. Retakan kecil memanjang banyak tergurat di atasnya. Sulur-sulur yang agak besar seolah menjadi jalan-jalan air yang kering di musim kemarau.

Di belakang Ki Demang Brumbung, Sukra hanya menyaksikan orang-orang di sekitarnya seperti laron yang terbang cepat mendekati nyala api. Benaknya disinggahi pertanyaan tentang caranya berkelahi. Ini sebuah keajaiban, pikirnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba bayang wajah Agung Sedayu melekat pada kelopak matanya. “Bagaimana dengan keadaan Ki Lurah sekarang?” Kemudian ia bertanya pula pada hatinya tentang seorang perempuan senja yang sedang berkelahi sangat hebat di bagian lain. Perempuan luar biasa yang mengingatkannya pada Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Dua nama yang menghiasi dan memenuhi hati Sukra dengan pengalaman-pengalaman yang akhirnya menjadi temannya berkembang. “Adik perempuan itu…” desah Sukra lirih. Ia berpaling pada Ki Patih Mandaraka, bergantian ia memandang selanjutnya pada Ki Plaosan. Sukra bungkam, mengurungkan diri untuk bertanya setelah suasana merambat tegang.

Keadaan serasa begitu sepi ketika deru perkelahian Nyi Ageng Banyak Patra dan Ki Manikmaya  berlangsung sunyi. Kesunyian yang sanggup menipu penglihatan seseorang yang abai dengan kewaspadaan. Bagaimana dapat terjadi? Tidak terdengar ledakan-ledakan hebat dari gelanggang mereka. Gemuruh angin pun tidak sedahsyat pertarungan Ki Lurah Plaosan, walaupun demikian, jilat udara yang berganti-ganti watak terus menjilati bagian luar lingkaran. Hawa dingin dan panas bergantian memancar dan berhamburan, dan bila sebongkah batu terhantam gelombang tenaga maka perubahan mencolok akan terjadi padanya. Selain itu, sepintas kadang terlihat serangkaian benda-benda berwarna hitam berukuran kecil melesat, menyambar keluar lalu luruh seperti menabrak dinding yang tidak terlihat. Lesatan benda-benda kecil-kecil itu mampu memotong atau menembus tebing cadas Merapi.

Meski tidak lagi terdengar gemuruh ata desau angina bertiup, tetapi dedaunan tetap bergetar, ranting-ranting masih berayun dan melambai, lalu di atas mereka, burung malam dan kelelawar tidak sanggup melintas secara langsung. Sayap-sayap malam harus mengambil jalan memutar atau terpaksa jatuh karena tulang-tulang yang remuk terhimpit kubah tenaga yang tidak terlihat.

Gelepar pertarungan mereka merayap cepat, menyambar isi dada orang-orang yang berdiri di dekat daerah pertarungan.

Gejolak kemenangan Ki Panji Secamerti tertunda karena dua orang datang mendekat lalu memasang badan, melindungi Ki Lurah Plaosan yang bertumpu pada satu lutut dengan keris terulur hingga menyentuh tanah. Masih memainkan irama yang mampu membakar jerami, Ki Secamerti bertanya ulang, “Bagaimana? Apakah kalian sepakat untuk mengeroyokku?”

Suasana lebih beku dengan tatap mata Ki Patih Mandaraka yang berubah menjadi sangat dingin. “Apakah benar engkau ingin mengubah garis tangan Panembahan Hanykrawati menjadi budak?”

“Apakah engkau keberatan jika aku mengatakan bahwa itu benar?” Ki Panji balik bertanya sambil mengubah caranya berdiri.

“Di mana nilai ketika seseorang justru bertanya ketika ia harus menjawab sebuah pertanyaan?” lagi-lagi Ki Patih Mandaraka bertanya dengan sikap yang mentereng, sangat mentereng.

“Langit sangat luas, Ki Juru. Ia tidak akan berubah walau begitu banyak kotoran dijatuhkan oleh burung-burung pemakan bangkai. Langit juga tidak meninggalkan kekurangan meski harus berulang-ulang menggelar gerhana. Seharusnya, ya seharusnya seperti itulah Raden Mas Jolang ketika menggenggam Mataram. Tetapi, lihatlah! Seekor pemakan bangkai justru menjadi penguasa di kaki langit. Ini tidak semestinya terjadi. Maka, aku pikir, sebaiknya Raden Mas Jolang bertemu dan bicara baik-baik supaya perpindahan kekuasaan tidak mengguncang Mataram secara keseluruhan.”

“Ketika angin telah membawa badai dan mendung hitam mulai berputar di atas bumi Mataram, bersyukurlah bahwa engkau masih dapat berbicara lancar, Ki Panji. Atas nama wayah Panembahan Hanykrawati, aku tawarkan padamu : menyerah agar keadaan berubah menjadi lebih baik atau bertempur dalam keadaan terpaksa.”

“Menyerah adalah pilihan bagi orang-orang kalah. Ki Patih, aku belum dalam keadaan yang memungkinkan untuk menyerahkan diri. Dan aku bertanya padamu, apakah ada ruang dan waktu bagiku untuk membela diri?”

Cerdas, puji Ki Patih dalam hatinya tentang tanggapan Ki Panji Secamerti. Hukuman mati bagi pemberontak adalah keniscayaan di Mataram, lalu ia bicara tentang pengampunan? Kemudian kata Ki Patih Mandaraka, “Aku yakin engkau tidak sedang berpikir dengan cara yang susah dimengerti. Bila ada dua hal yang kau inginkan, itu dapat kau gunakan untuk menolong semua keluarga dan kerabatmu. Namun ketika itu terjadi, aku bukan orang yang dapat engkau andalkan di depan Panembahan Hanykrawati.”

“Anjing gila tua Mataram yang pandai bertengkar lidah,” kata Ki Panji Secamerti lalu tertawa keras. Usai  mengeluarkan isi hati dengan tawa yang penuh arti, Ki Panji melanjutkan, “Tidakkah engkau berpikir atau berkeinginan untuk bersikap baik padaku sekali saja untuk sisa hidupmu?”

Tanpa ada perasaan yang goyah, Ki Patih Mandaraka menyahut, “Pikirkan terlebih dulu. Aku tidak akan mengulangi yang telah terucap karena aku tahu yang aku katakan.”

“Sungguh benar yang dikata orang-orang bahwa engkau memang memendam rasa tidak suka padaku. Ki Juru, boleh jadi dan mungkin sudah menjadi kenyataan yang tidak aku ketahui bahwa aku adalah panji yang terhambat untuk waktu yang lama. Satu-satunya panji yang disingkirkan agar tidak menjadi tumenggung. Ah, kiranya aku memang bernasib baik bila dapat menemukan jawaban setelah membuatmu bermandi darah seperti seekor anjing penjagamu,“ kata Ki Panji Secamerti sambil menunjuk arah pada Ki Lurah Plaosan yang bersandar pada sisi lengan Sukra.

Mendengar ucapan Ki Secameerti yang dianggapnya menghina Ki Plaosan, Sukra menjadi geram. Sekujur tubuhnya gemetar dan nyaris meledak. Namun sebuah isyarat dilepaskan leh Ki Patih agar tiga utusannya tetap menahan diri.

Satu, dua, tiga, empat langkah Ki Patih mendekati Ki Panji Secamerti dengan sikap yang memancarkan keagungan wibawanya. “Ki Panji, jawablah : Mengapa engkau berbalik arah dengan memusuhi Mataram? Engkau adalah orang yang cerdas dan berwawasan luas, tentu ada alasan yang sangat kuat dan itu pasti bukan karena sakit hati karena keterlambatan pengangkatanmu sebagai tumenggung.”

“Untuk apa kau mencari jawaban dariku, Ki Juru? Untuk apa orang setua usiamu ingin mendengarnya dari orang yang pasti akan mati oleh kemarahan pemakan bangkai? Untuk apa, Ki Juru? Kalau kau mau bergabung dengan kami, pasti aku akan menyambutmu dan memberi penghormatan seperti masa lalu. Kami akan memelukmu dengan senang hati.”

“Jangan bersikap seperti lagak orang-orang yang tolol, Ki Panji,” ucap Ki Patih sedikit tegas sambil menempatkan sepasang lengan di balik punggungnya.

“Aku mengerti, Ki Juru.”

Sejenak Ki Patih menggerakkan bibirnya berisi pesan yang ditujukan pada Sukra, tetapi tidak ada satu orang pun yang sanggup mencuri dengar suara jarak jauh Ki Patih. “Pastikan semua tawanan telah tertahan dengan baik. Bawalah Ki Plaosan menjauh, ajaklah Ki Demang Brumbung turut denganmu. Engkau mengerti?“

Sukra mengangguk perlahan tanpa suara berkecipak dari bibirnya. Sejurus kemudian ia meraih lengan Ki Demang Brumbung, lalu mereka bergeser, menjaga anak buah Raden Atmandaru yang telah terikat sangat kuat.

Lalu Ki Patih berucap yang ditujukan pada Ki Panji Secamerti, “Semua orang Mataram tahu dan mengenalmu sebagai seorang panji yang telah banyak berjasa pada Mataram. Pada masa mendiang Panembahan Senapati, kau mengambil ruang begitu luas untuk berkiprah di Pegunungan Kendeng, Madiun dan tempat-tempat yang teralu banyak aku sebutkan. Apakah kau tidak merasa kehilangan semuanya dengan membaurkan diri pada kelompok makar?”

“Akhirnya kau pun mengatakan itu, walau terlambat,” kata Ki Panji Secamerti sambil mengumbar senyum kemenangan. “Mari, Ki Juru. Kita bermain sebentar untuk meregangkan sendi.”Keris Ki Secamerti kembali menggeleparkan kekuatan yang belum berkurang.

Di balik punggungnya, Ki Patih telah bersiap dengan Kiai Plered yang belum ditempatkan kembali di bangsal pusaka kerajaan.

Udara seolah terbelah oleh kekuatan asing yang tak tampak mata.

Tiba-tiba dentuman halus menggelegar, diikuti selarik sinar berwarna kebiru-biruan, menghantam lurus dada Ki Patih Mandaraka!

“Aku pernah melihat ilmu serupa dengan ini. Siapa orangnya? Sedangkan Agung Sedayu tidak akan berbuat seperti ini!” desis Ki Patih sambil memutar Kiai Plered, menghalau serangan kilat yang sangat sunyi namun mematikan!

“Apakah seorang patih memang telah turun harga dirinya dengan meladeni seorang panji?” kata Ki Hariman dengan seuntai cambuk yang terjulur di atas permukaan tanah.

“Inikah orang yang melarikan kitab Kiai Gringsing dari rumah Swandaru!” Terkejut Ki Patih Mandaraka dengan kehadiran Ki Hariman yang tiba-tiba berada di lapis tertinggi ilmu yang tertulis dalam kitab Kiai Gringsing. Ki Patih Mandaraka telah mendengar uraian singkat dari Agung Sedayu sewaktu mereka berjalan keluar dari Sangkal Putung.

Benturan yang sangat dahsyat terjadi ketika hawa teanaga Kiai Plered membendung terjangan sinar biru yang berasal dari cambuk Ki Hariman. Bahkan, karena begitu hebat hingga pancaran tenaga benturan sanggup menggoyang kubah tenaga yang membungkus perkelahian Nyi Ageng Banyak Patra. Guru Kinasih itu sangat tersentak hingga ia harus meloncat surut lalu memberi sedikit perhatian pada hamburan tenaga yang luar biasa kuat. Dalam waktu itu, Ki Manikmaya sampai terdorong surut lalu mengira bahwa pancaran tenaga asing itu berasal dari musuhnya.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

2 comments

Bagus pengalasan 19/11/2021 at 08:56

Begitu mudahnya menyerap ilmu orang bercambuk baru dicuri kemarin sudah bisa menerapkan dalam perkelahian…kitab kiai gringsing nampak seperti mobil begiru dikendarai bisa langsung tancap gas..terlalu mudah

Reply
kibanjarasman 19/11/2021 at 09:09

kalau yang mempelajari sudah mempunyai dasar kuat seperti sarjana fisika maka mempelajari quantum lebih mudah dibandingkan insinyur teknik sipil, kurang lebih seperti itu analoginya.. cukup pada bagian inti dan yang diinginkan.. kitab kiai gringsing (berdasarkan ADBM juga berisi cara pengobatan). Dan satu hal, pertarungan belum usai..

Reply

Leave a Comment