Padepokan Witasem
Bab 5 Siasat Ken Arok

Siasat Ken Arok 2

Gandrik!” seruan kaget terdengar dari para pemimpin kelompok Ki Arumpaka. Sejenak kemudian mereka tertawa dan memuji kecemerlangan nalar Ken Arok.

“Tentu saja ia tidak akan menduga,” kata mereka bergantian membayangkan tanggapan Tunggul Ametung.

Ken Arok mengangguk kemudian berkata, ”Kalian harus mampu melakukan penyamaran saat berada di dalam. Sebagian dari kalian harus berada di luar lingkungan istana, mereka ini akan menjadi penghubung dan petugas sandi bagi yang berada di lingkungan istana. Kita tidak boleh melepas mata dan telinga dari pergerakan orang-orang Kediri.”

Kemudian mereka berbicara mengenai pembagian-pembagian yang akan disepakati. Pada malam itu juga Ken Arok membeberkan rencananya. Ia berkata, ”Ki Arumpaka, aku akan memilih seseorang dan ia bukan berasal dari kelompok kalian. Ia adalah seseorang yang berilmu tinggi dan menguasai dasar-dasar keprajuritan. Aku harap tidak ada keberatan di antara kalian, kecuali kalian dapat mengalahkannya bila bertemu dengannya.”

Ki Arumpaka kemudian berkata, ”Aku dapat mengerti maksudmu. Tetapi memang lebih baik kita mengadakan perkenalan terlebih dahulu. Aku ingin tahu desa lahir dan perguruannya. Keyakinan dan kepercayaan tidak dapat jatuh dari tangan para dewa tanpa sebab. Menjadikannya sebagai pemimpin itu berarti menitipkan selembar nyawa dan keluarga kami padanya.”

Ken Arok berdiam diri ketika Ki Arumpaka selesai berkata-kata. Ia tidak begitu yakin dengan orang yang ia maksudkan. Meski ia mengenalnya dengan sangat baik namun perjalanan hidup seseorang akan dapat merubah sudut pandang.

Ken Arok masih melihat dalam gelap dan meraba sebuah bayangan. Ia belum mendapat kepastian tentang itu. namun kemudian ia berkata, ”Aku akan menahan Kebo Ijo agar tidak memunculkan kematian seorang empu ke permukaan di luar istana.

“Meski aku sedang menunggu perkembangan yang mungkin terjadi karena dua peristiwa masih menjadi teka-teki bagi Tumapel dan Kediri. Aku yakin kedua peristiwa ini akan membuka jalan untuk mengungkap tabir yang seringkali ditutup rapat oleh Kediri.”

“Apakah itu termasuk beban yang harus dibayar rakyat Kediri?” bertanya Ki Arumpaka.

“Banyak hal yang semestinya dapat diungkap. Aku belum mendapatkan bahan yang cukup untuk membuat satu kesimpulan. Satu dua perkara samar masih membutuhkan waktu untuk dite-rangkan dengan jelas,” jawab Ken Arok.

“Apakah kau menuntut satu balas dendam?” tanya orang lainnya.

“Tidak,” jawab Ken Arok. ”Tetapi ini sebuah pembebasan.”

“Aku masih belum paham dengan tujuan serta rencanamu, Ken Arok,” kata Ki Arumpaka.

Namun sebelum ia bertanya lagi, Ken Arok berdiri kemudian berkata, ”Aku tidak dapat terlalu lama berada di sini. Aku harus segera kembali berada dalam istana sebelum fajar.”

Ki Arumpaka dan dua pimpinan kelompoknya dapat menerima alasan Ken Arok meski terpaksa. Ken Arok melangkah lebar meninggalkan mereka, lalu dalam sekejap ia melayang melewati dinding pekarangan, kemudian  berlari sangat cepat membelah ma-lam menuju istana Tumapel.

Toh Kuning sangat cermat membuat perhitungan. Ia dapat membedakan langkah kaki empat orang yang berjalan menuju pintu. Dalam waktu itu  ada satu langkah kaki yang sangat ringan dan nyaris tidak dapat ditangkap oleh pendengarannya. Ia telah menduga orangnya.

Maka, ketika pemilik langkah kaki yang sangat ringan itu sudah tidak terdengar jejak kakinya, seketika itu pula Toh Kuning melesat melebihi anak panah kembali ke tempatnya semula.

Satu perhitungan yang tepat.

Ken Arok adalah orang berkepandaian tinggi, namun ia tidak peduli dengan gemerisik ringan yang didengarnya jika ia tengah mengerahkan ilmu sejenisnya. Sehingga desir angin yang timbul karena gerakan Toh Kuning tidak dipedulikan olehnya.

Related posts

Leave a Comment