Padepokan Witasem
Bab 5 Siasat Ken Arok

Siasat Ken Arok 3

“Bagaimana, Toh Kuning?” Jerabang bertanya tidak sabar ketika mendapati Toh Kuning tiba-tiba telah berada di sebelahnya.

“Kau harus menemukan kawan-kawan kita. Katakan pada mereka bahwa dalam satu pekan ini kita berkumpul di alun-alun Tumapel. Aku akan menunggu kalian di dekat pohon beringin putih,” jawab Toh Kuning. Ia menengadahkan wajah dengan mata terpejam rapat. Jerabang dapat memaklumi keadaan Toh Kuning yang telah dikenalnya dengan baik.

“Tentu ada persoalan yang menguras pikirannya,” kata Jerabang dalam hatinya.

“Ambil kudamu dan pergilah sekarang,” perintah Toh Kuning, ”patahkan sebatang ranting pohon turi dan letakkan di tambatan kuda. Ki Sunu akan mengerti jika salah satu dari kita telah pergi. Ia  mengenalku sangat baik.”

“Baik, Ki Lurah!” tegas Pamekas menjawab.

Toh Kuning tersenyum memandangnya. Lalu ia bertanya, ”Bukankah kita sedang menyamar?”

“Tidak lagi, karena aku akan keluar dari Tumapel,” jawab Pamekas lalu ia minta diri untuk mencari dan menemukan kawan-kawannya yang tersebar di tempat-tempat yang telah direncanakan oleh Toh Kuning.

Sepeninggal Pamekas, Toh Kuning pun segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh lalu berlari cepat menuju pusat kota Tumapel.

“Aku harus dapat menemui Ken Arok dalam satu dua hari ini,” tekad Toh Kuning dalam hati. Ia tanpa henti berlari cepat menyusuri ngarai, mendaki tanah yang berbukit-bukit dan sesekali melompati sungai yang tidak begitu lebar. Kedua kaki Toh Kuning seakan tidak menyentuh tanah. Bila ada orang yang melihatnya maka tampaklah Toh Kuning seperti terbang di atas rerumputan.

Lalu ia tiba di gerbang kota Tumapel pada saat fajar masih jauh membayang. Ia berhenti sejenak lalu membaca keadaan. Setelah melakukan perhitungan singkat, tubuh Toh Kuning kembali melesat sangat cepat seperti percikan api dari sebuah ledakan dahsyat.

Tembok kota yang tinggi pun ia lewati seolah sebuah benda yang pendek. Kini ia berada di sisi selatan alun-alun kota Tumapel. Ia melihat keadaan yang lengang dan sunyi. Ia dapat mendengar langkah kaki para peronda yang masih jauh darinya. Segera Toh Kuning meluncur ke sebuah lorong sempit yang menjadi batas dua pekarangan yang luas.

“Di mana aku harus mencari Ken Arok?” pertanyaan itu muncul dalam benak Toh Kuning. Sekalipun ia dapat menduga jika Ken Arok pasti berada di dalam lingkungan istana Tumapel, namun ia belum dapat memastikan kebiasaan Ken Arok setiap harinya.

“Ah,” seru tertahan Toh Kuning dan malu pada keadaan dirinya sendiri. “Bukankah aku seorang prajurit Kediri?” Lalu ia mengusap-usap wajahnya dan tersenyum sendiri.

Ia berbenah diri dan mencari penginapan yang berada di tengah kota Tumapel. Ia mendapati penjaga penginapan dalam keadaan menahan kantuk. Tanpa banyak pertanyaan, penjaga itu mengantarkan Toh Kuning ke sebuah bilik yang terletak di ujung lorong. Penjaga itu berkata seperlunya tentang kebiasaan penginapan di pagi hari.

“Kalau Ki Sanak terlambat bangun pagi, wedang jahe dan air kacang hijau yang direbus akan menjadi kering di atas meja,” kata penjaga itu sambil berlalu dari hadapan Toh Kuning.

Toh Kuning membaringkan tubuhnya dan angan-angannya melayang pada Ken Arok. Ia tidak menyangka jika Ken Arok ternyata dapat berbuat sejauh itu. Toh Kuning sebelumnya hanya menduga apabila Ken Arok akan mengambil jalan seperti dirinya. Sebuah jalan sederhana untuk memberikan yang terbaik bagi cita-cita dan harapan gurunya.

Related posts

Siasat Ken Arok 6

kibanjarasman

Siasat Ken Arok 5

kibanjarasman

Siasat Ken Arok 4

kibanjarasman

Siasat Ken Arok 2

kibanjarasman

Leave a Comment