”Ingat baik-baik semua pesan Resi Gajahyana, Ngger,” berkata Ki Swandanu ketika tubuh Bondan telah tergantung. Melihat Bondan dan Ki Swandanu menunjukkan kesiapan, lantas dua perondan...
Empat orang penunggang kuda itu berjalan beriringan dan berpasangan. Bondan tampak di depan bersama Ki Swandanu, di belakang mereka teriring Ki Hanggapati beserta Ken Banawa....
”Kita salah memasuki tempat,” sahut Liem Go Song sambil menggandakan tenaga melindungi jalur pendengarannya. Sedangkan Feng Kong Li bersiap menyerang Ki Wisanggeni meski lebih banyak...
”Bukankah teman kamj telah melewati pendadaran itu? Kau lihat sendiri bahwa anak Ki Demang tidak dapat melanjutkan pertarungan,” kata Tung Fat Ce. ”Apakah kau kira...
Sedangkan di tengah gulungan sinar kehijauan yang saling membelit, Toa Sien Ting tersentak bukan kepalang. Pada hari itu, untuk pertama kali, semenjak tiba di Tanah...
Ia tidak lagi melihat Siwagati sebagai perempuan muda yang cantik, tetapi wajah Siwagati seperti iblis yang sedang mengejek dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam memusatkan pikiran...
Siwagati akan mencoba dengan sebuah gerakan yang sudah dikuasai namun belum mendapat kesempatan sesungguhnya. Ia kembali menyusur tanah dengan langkah kecil lalu tiba-tiba tubuhnya melenting...
Ia menyadari perang tanding ini tidak akan berakhir dengan kematian, tetapi ia merasakan bahwa kehormatan ayahnya dan kademangan menjadi pertaruhan kali ini....
”Redakan gejolak kalian. Kita sedang merancang landasan di tanah ini,” desah Tung Fat Ce. Toa Sien Ting mendengus panjang, sedangkan Liem Go Song menumpahkan kekesalannya...
Ketika mendengar kehadiran orang-orang asing yang ingin bekerja untuk ayahnya, ia seperti merasa ada dorongan untuk menjajagi kemampuan lima orang itu....
error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.