Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 4 Tapak Ngliman

Tapak Ngliman 1

Empat orang penunggang kuda itu berjalan beriringan dan berpasangan. Bondan tampak di depan bersama Ki Swandanu, di belakang mereka teriring Ki Hanggapati beserta Ken Banawa. Tugu batas kotaraja telah jauh mereka lewati. Sementara itu Bondan lebih banyak diam mendengarkan pesan yang dibawa Ki Swandanu. Sesekali ia membalas sapa orang yang mengenalinya. Kebanyakan mereka adalah para prajurit yang sering bertugas bersama Bondan. Meskipun Bondan bukan seorang prajurit, tetapi sebagai bagian keluarga istana, ia tidak dapat berdiam diri ketika gangguan datang. Bondan mempunyai pergaulan luas di kalangan prajurit. Selain kemampuan dalam olah kanuragan dan penguasaan gelar perang, Bondan juga dikenal sebagai orang yang ringan tangan.

Perjalanan panjang yang akan ditempuh membuat mereka tidak memacu kuda dengan cepat. Tatkala matahari telah kokoh di tengah langit, mereka baru saja melintasi pedukuhan yang kedua.

”Di mana kita akan bermalam, Paman?” tanya Bondan menoleh Ken Banawa.

”Bila kau akan mulai menjalankan perintah gurumu, bermalam di tepi hutan akan menjadikanmu leluasa bergerak,” Ki Banawa berkata.

”Apakah kau akan melakukannya malam ini, Ngger?” bertanya Ki Hanggapati.

”Saya kira akan mulai nanti malam. Untuk itu, saya pikir lebih baik kita bermalam di banjar. Saya mengenal baik jagabaya dari pedukuhan yang sudah tampak dari sini,” kata Bondan dengan ujung jari menunjuk ke arah barat.

”Baiklah,” sahut tiga orang lainnya hampir serempak.

Mereka memasuki gerbang pedukuhan saat bayangan tubuh lebih panjang. Seorang yang kulit wajahnya sedikit berkerut lari menghampiri rombongan dari kotaraja.

”Bukankah kau yang bernama Bondan?” ia bertanya dengan nada gembira.

”Benar.”

”Ah, benarlah mata tua ini,” seru orang itu sambil berusaha meraih tangan Bondan.

Dengan sigap Bondan melompat turun dari kuda diikuti ketiga orang yang menyertainya.

”Ah, Paman Karna.” Bondan teringat wajah ramah yang memegang kedua lengannya. Mereka lantas berpelukan. Orang-orang yang berada di belakangnya melihat sambil tersenyum. Ki Karna adalah pamomong yang sempat tinggal dengan keluarga Bondan di Pajang.

”Paman bertiga, beliau ini dulu ikut menyertai keberangkatan ibu ke Pajang. Agaknya Paman Karna ini memang tajam ingatan,” kata Bondan mengenalkan Ki Karna kepada yang lain.

Tiga orang itu membungkuk hormat kepada Ki Karna. Ken Banawa kemudian mendekat dan memeluk Ki Karna. ”Kakang, lama kita tidak berjumpa. Aku yang muda mohon pangestu padamu,” kata Ki Ken Banawa.

”Ah, sudahlah. Yang penting bagiku adalah kalian semua sejahtera dan selalu saling berharap yang baik bagi yang lain.” Lantas ia berjalan mengiringkan rombongan kecil itu menyusur jalan utama pedukuhan.

”Akan ke manakah kalian bepergian, Ngger?” bertanya Ki Karna.

”Kami akan ke Pajang, Paman.”

”Begitu cepat kau tinggalkan kotaraja, Ngger.”

Bondan tersenyum mendengarnya, lalu katanya, ”Eyang meminta saya pulang, Paman.”

” Ya. Memang seperti itulah kalau orang seperti eyangmu. Mereka tidak akan mencarimu kalau kau berada di dekat mereka. Tetapi sehari kau tidak terlihat olehnya, ke ujung langit pun ia akan mencari sekalipun berjalan kaki.” Tawa kecil menghiasi bibir Ki Karna. Bondan tertawa lepas mendengarnya, sedangkan tiga pamannya menahan tawa sambil menutup mulut.

”Siapa yang akan kau temui di pedukuhan ini? Bermalamlah semalam dua malam, nanti aku antar kalian ke rumah Ki Jagabaya.”

”Kami memang akan bermalam di banjar pedukuhan ini. Sekarang kami akan meminta kerelaannya untuk sedikit lantai banjar, kakang,” berkata Ki Benawa.

”Ah, janganlah berkata seperti itu. Setiap jengkal tanah pedukuhan ini sudah berbesar hati jika kalian berbaring di atasnya. Nah, kita sudah dekat dengan rumah Ki Jagabaya.”

Sejurus kemudian mereka telah duduk di pringgitan bersama Ki Jagabaya. Ki Banawa mewakili rombongan kecil itu untuk menyampaikan keperluannya. Ki Jagabaya sendiri tidak mempunyai keberatan jika mereka bermalam cukup lama di banjar. Percakapan kecil di antara mereka membuka kenyataan, bahwa jagabaya pedukuhan itu dahulu adalah seorang prajurit di kesatuan Ra Pawagal. Ia segera meminta penjaga banjar untuk membantu rombongan kecil itu sebaik mungkin. Ki Karna menyediakan makan untuk mereka selama bermalam di banjar.

Saat penduduk pedukuhan mulai menyalakan pelita-pelita di rumah mereka, para peronda telah berlalu lalang di jalan. Mereka kemudian mengisi gardu-gardu jaga yang tersebar di pedukuhan. Obor-obor kecil berbahan minyak buah jarak mulai memberi terang di beberapa bagian jalan.

Ketika malam semakin tenggelam di kedalaman, Bondan bangkit dari tempatnya berbaring. Sesuai petunjuk Ki Jagabaya, ia menyusur jalan menuju sebuah pohon preh yang sangat besar. Ki Swandanu berjalan mengiringi langkah Bondan. Agaknya ia telah menata budi dan rasa sejak tiba di banjar. Para peronda yang bertemu dengannya tidak memberi kesulitan. Ki Jagabaya telah memberikan penjelasan tentang jati diri tamu yang bermalam di banjar. Bahkan dua orang di antara mereka menawarkan diri untuk menjaga daerah sekitar pohon preh.

”Terima kasih, Kakang. Aku tidak ingin membuat Kakang berdua menjadi repot,” jawab Bondan ramah.

”Tidak mengapa, Bondan. Kalau Ki Jagabaya percaya padamu berarti kami harus menjagamu,” kata seorang yang usianya lebih tua dari Bondan. Karena desakan perondan, maka Ki Swandanu memberi tanda bagi Bondan agar membiarkan perondan turut serta.

”Baiklah, Kakang. Kewajiban Kakang berdua adalah menjaga saya dari gigitan nyamuk yang agaknya akan kelaparan melihat saya nantinya,” gurau Bondan yang disambut tawa perondan.

Sesampainya di bawah pohon preh, dua perondan membantu Bondan mengikat tali dari sabut kelapa pada dahan yang besar. Setelah itu, Ki Swandanu mulai mengikat erat kedua kaki Bondan yang duduk selonjor. Perlahan tubuh Bondan dikerek naik dengan kepala berada di bawah.

Related posts

Tapak Ngliman 9

kibanjarasman

Tapak Ngliman 8

kibanjarasman

Tapak Ngliman 7

kibanjarasman

Tapak Ngliman 6

kibanjarasman

Leave a Comment