Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 62

Api perang di Gondang Wates belum cukup lama padam dan hantaman keras pengawal kademangan masih hangat di dalam ingatan. Oleh sebab itu, sebagian dari pengikut Ki Sambak Kaliangkrik pun terbayang oleh kegagalan. Dengan demikian, mereka pun bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bisa jadi mereka terbunuh di tepi hutan itu atau mereka dapat menyeret Sukra dan Ki Sura Pawira, lalu dijadikan tumbal yang pantas untuk kemenangan Raden Atmandaru.

Ketegangan merambat cepat menuju puncak. Wajah Agung Sedayu tegang menyaksikan pertempuran yang terbagi menjadi dua lingkaran. Dan perkembangan seakan menjadi buruk sewaktu Sukra terjerat perkelahian yang mampu menyempitkan pengepungan. “Ia memang berkembang pesat dan cukup jauh, serta begitu dahsyat, tetapi jika pemimpin lawan menghentak kemampuan sebenarnya, Sukra tentu berada di dalam kesulitan. Ketika hal itu terjadi, lurah Mataram sudah pasti kehabisan daya untuk menyelamatkan Sukra,” kata Agung Sedayu pada dirinya sendiri. Ia menyaksikan perkembangan perkelahian bersama Kinasih dari tempat yang memang sulit dijangkau oleh pandangan orang. Bahkan, orang-orang terlatih pun mungkin akan menemui kesukaran mencari bayangan Agung Sedayu beserta Kinasih.

Rancangan Ki Sambak Kaliangkrik memang tidak mengalami perubahan. Kepatuhan anak buahnya memang patut mendapat pujian. Semuanya berjalan sesuai yang direncanakan. Walau berhasil memisahkan Sukra dari Ki Sura Pawira, tapi tandang anak muda Menoreh itu benar-benar di luar dugaan. Mereka menduga bahwa kemampuan Sukra setara dengan kebanyakan pengawal Sangkal Putung. Tidak ada yang mengira bahwa arus serangan yang sangat ketat yang mereka gencarkan seakan menjadi jebakan bagi kawan sendiri.

Sukra memang kesulitan mendapatkan ruang untuk membalas serangan, tapi kecepatannya seakan-akan meningkat sangat tajam. Di bawah gempuran demi gempuran yang sangat deras dan sengit, Sukra tidak dapat berbuat lain selain mengelak, menghindar atau sekali-kali memukul lalu berloncatan tak tentu arah. Sekilas Sukra memang bergerak sangat kacau dan tampak akan sangat mudah dirobohkan, tapi pengawal yang pernah mendapatkan gemblengan Glagah Putih sebenarnya paham dengan yang sedang dilakukannya. Sukra melompat menyilang, berloncatan mundur. Sekali waktu, ia memotong lingkaran kepungan. Seluruhnya adalah usaha Sukra untuk memecah belah kepungan lalu membuka ruang agar ada kesempatan untuk menyerang balik.

loading...

Perkembangan di sisi lingkaran yang lain menarik perhatian Ki Sambak Kaliangkrik. Ia sekials mengamati perkelahian sengit itu barang sejenak. “Sepertinya aku salah perhitungan,” katanya dalam hati. Namun kesalahan yang dimaksudkannya tidak akibat buruk bagi pasukannya. Sementara orang yang menjadi mangsanya, Ki Sura Pawira, sepertinya lebih mudah untuk dijinakkan jika dibandingkan dengan Sukra yang bertempur sangat liar – menurut ukurannya. Dengan begitu, Ki Sambak Kaliangkrik bertukar kedudukan dengan salah seorang kepercayaannya. Perubahan siasat itu memunculkan harapan baru bahwa mereka akan dapat membekuk dua mangsanya.

Begitu pula yang terbit dalam pikiran  Ki Klowor Junwangi. Ia bertepuk dan bersorak di semua rongga hatinya. Terbersit kebanggaan bahwa keputusannya menyerang Sukra sudah tidak dipermasalahkan oleh pemimpin mereka. “Aku mendapatkan pembelaan tanpa perlu aku meminta pada Ki Sambak Kaliangkrik secara langsung,” desis Ki Klowor Junwangi pada dirinya sendiri.

“Sangat menarik bila berhadapan denganmu seorang diri,” kata Ki Sambak Kaliangkrik.

“Bukan sebuah kebetulan. Aku sudah menunggumu,” tukas Sukra dengan nada sengit.

Ki Sambak Kaliangkrik memandang lekat Sukra, lalu tergelak. “Keberanianmu sangat menantang. Dari mana engkau berasal?”

“Tidak penting untuk kau ketahui.”

Ki Sambak Kaliangkrik menggeram lalu menerkam dengan kekuatan penuh. Gebrakan pertama meledak begitu dahsyat. Meski pengalaman Sukra tidak dapat dibandingkan dengan Ki Sambak Kaliangkrik, tapi anak muda ini mempunyai perhitungan cerdas. Serangan Ki Sambak Kaliangkri pun berturut-turut  datang sangat deras. Sukra memanfaatkan anak buah sebagai benteng perlindungan. Dalam benaknya, Sukra menganggap bahwa seluruh lawannya adalah batang pohon yang dapat dimanfaatkannya untuk berlindung.

“Setan!” umpat Ki Sambak Kaliangkrik di dalam hatinya. Ia mengerutkan kening ketika menyadari siasat Sukra benar-benar mengacaukan kepungan anak buahnya. Perhitungannya keliru. Ada kemampuan yang terpendam di dalam diri anak muda yang diincarnya dan itu sangat jauh dari pengamatan sepintas lalu. Ia memperkirakan kemudian, meski anak buahnya sudah mengerahkan seluruh kemampuan, Sukra tidak akan berubah menjadi kambing yang tidak bertulang. Justru Sukra menyimpan kemungkinan untuk meledakkan segenap kekuatan pada saat yang dianggapnya tepat untuk memungkasi perkelahian. Namun, sebagai petarung yang banyak menjalani perkelahian-perkelahian sengit serta pekerjaan yang kerap menempatkan nyawa di ujung tanduk, Ki Sambak Kaliangkrik tetap pada tujuan yang tidak disampaikan terbuka di depan anak buahnya.

Keutamaan Bulan Rajab

Berawal dengan suitan yang melengking tajam, Ki Sambak Kaliangkrik memberi tanda agar anak buahnya menempati kedudukan tertentu yang telah diatur sebelumnya, hanya Ki Klowor Junwangi yang kebingungan dengan perubahan mendadak itu.

Perkembangan yang terjadi dengan tiba-tiba, tanpa dinyana, ternyata membuka ruang bagi Sukra untuk menyerang Ki Klowor Junwangi yang masih termangu-mangu. Sukra tidak membuang peluang. Serangan kilat dilakukan dalam sekejap dengan sepenuh kecepatan dan olah gerak yang disadapnya dari Nyi Ageng Banyak Patra.

Ki Klowor Junwangi terpental dengan dada remuk.

“Mundur!” perintah Ki Sambak Kaliangkrik pada anak buahnya. Dan melalui perintah itu, orang dapat mengetahui bahwa anak buah Ki Sambak Kaliangkrik adalah sekumpulan orang-orang yang terlatih dan mempunyai perasaan yang keras. Dengan demikian, ketika anak buahnya mendengar perintah, mereka pun segera mundur dari gelanggang pertarungan. Mereka tidak berlari terpisah tetapi tetap dalam jalinan barisan yang mudah untuk menyusun kerja sama apabila diperlukan kemudian. Meski terkejut dengan kejadian buruk yang menimpa Ki Klowor Junwangi, tetapi mereka tegar menjalankan perintah lalu meninggalkan tubuh tak bernyawa kawannya yang menyimpang itu.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 92

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 91

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 88

kibanjarasman

3 comments

Edo padang 05/02/2023 at 07:33

menunggu lanjutan yg seru

Reply
kibanjarasman 06/02/2023 at 09:47

siap, ki.. matur nuwun..

Reply
bayu 10/03/2023 at 16:59

mantap..matur nuwun ki Roni

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.