Padepokan Witasem
geger, alas krapyak, api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 6 Geger Alas Krapyak

Geger Alas Krapyak 88

Namun Raden Mas Rangsang tidak segera menjawab. Di dalam benaknya masih berputar-putar mengenai akar pengikut Raden Atmandaru. Mungkin sebagian dari pemimpin mereka adalah kerabat atau pengikut setia dua tumenggung Demak yang menjadi penggerak Pangeran Purbaya. “Tentu saja cukup sulit bila harus menelusuri lebih jauh dari yang didapatkan sekarang,” gumamnya dalam hati. Namun demikian ia sadar bahwa akan terjadi perimbangan siasat karena berasal dari satu jalur ilmu  perang yang sama. Melihat sedikit beberapa pekan silam sudah ada bukti bahwa ketangguhan serta kecakapan pengikut Raden Atmandaru dalam pertempuran. Atas pendapat dengan latar belakang itu, Raden Mas Rangsang menarik napas panjang bahwa ia tidak salah membuat keputusan dengan mengirim sejumlah petugas sandi yang berbeda jalur dengan ayahnya. Itu bukan karena tidak percaya  tapi sebagai persiapan jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan tugas orang-orang yang ditunjuk oleh ayahnya.

Pada sisi lain, Agung Sedayu mengatur jalan pernapasan. Ia dapat membuat gambaran kasar mengenai kemungkinan-kemungkinan yang tersirat dalam ucapan Panembahan Hanykrawati. “Ada batas-batas yang samar dan cukup sulit dibedakan. “Mereka telah menempati kedudukan di dalam hati beberapa prajurit, mungkin sudah melebar hingga gugus tempur. Ki Panji Secamerti adalah pemimpin  prajurit yang dapat menggerakkan pasukan secara mandiri dan tidak perlu mendapatkan izin pemimpinnya. Itu adalah wewenang yang sama dengan yang diberikan padaku sebagai pemimpin pasukan khusus. Ganjur pun demikian,” ucap Agung Sedayu dalam hati.

Sambil memperhatikan anaknya yang agak lama memberi tanggapan, Panembahan Hanykrawati memang sengaja memberi ruang lebih longgar pada Raden Mas Rangsang dalam mengambil langkah-langkah keamanan. Panembahan Hanykrawati akan mengikuti dan mengembangkan siasat berlandaskan rencana pangeran Mataram tersebut, maka hingga malam itu, satuan pengawal raja pun masih belum diberikan pesan-pesan rinci meski sejumlah senapati sudah mencoba memberanikan diri bertanya padanya.

Sedikit menegakkan duduknya, dalam balut kekhawatiran, Raden Mas Rangsang kemudian mengungkapkan ketajaman nalarnya melalui rencana yang diurai perlahan namun begitu jelas di depan ayahnya. “Ayah, permasalahan Mataram sudah tentu, meski saya tidak berpikir buruk, mungkin merambah pada arah yang tidak pernah kita inginkan. Kerusuhan demi kerusuhan mungkin tinggal menunggu waktu untuk memangsa ketenangan dan perdamaian yang terbina cukup lama. Akhir-akhir ini dan dalam waktu dekat, seperti laporan para petugas sandi, para pengikut Raden Atmandaru yang tertahan di Sangkal Putung dan Tanah Perdikan mulai meninggalkan tempat mereka semula. Mengalir pelan, berbaris satu per satu menuju Gunung Kendil atau lereng Pengarengan. Kita tidak dapat menganggap bahwa mereka sekedar berkumpul untuk menunggu hasil penyergapan. Maka dari itu, saya mengulang permohonan agar Ayah berkenan membatalkan rencana berburu di Alas Krapyak.”

loading...

Panembahan Hanykrawati lekat menatap wajah putranya namun bibirnya mengatup rapat.

Menunggu beberapa lama, Raden Mas Rangsang kemudian melanjutkan, “Tentu saya tidak akan bicara banyak mengenai kesehatan Ayah atau segala sesuatu yang berkaitan dengan itu. Bila Ayah berkeras untuk tetap mengadakan perburuan agar kebanyakan orang mendapatkan ketenangan dengan kegiatan itu, saya akan bicara tentang keamanan yang mengitari Panjenengan.”

“Itulah yang memaksaku tetap bertahan pada perburuan. Berburu, dari sisi pandang orang-orang yang hidup di sekitar kita, adalah tanda bahwa aku sedang baik-baik saja. Berburu bukan sekedar pemuasan bagiku. Bukan kegiatan untuk mengumandangkan keagungan seorang raja tapi juga kemakmuran bagi negeri yang dipimpinnya. Bila aku baik, maka Mataram pun baik. Banyak orang yang menggunakan masa perburuan sebagai dasar pandangan mengenai Mataram pada tahun berjalan. Mungkin sedikit terdengar aneh tetapi itu adalah kenyataan meski hanya pada segelintir orang saja.

“Anakmas Rangsang dan engkau, Agung Sedayu, marilah kita sama-sama berpikir mengenai pendapat orang bila aku membatalkan rencana. Mereka dapat segera menerima berita bahwa aku sedang sakit, bahwa aku sudah ditinggalkan oleh orang-orang terpercaya dan sebagainya. Lalu, ke mana sesuatu yang bernama ketenangan itu pergi? Bila sesuatu yang buruk menimpaku dalam kegiatan itu, sesepuh Mataram dan juga orang-orang yang berdiam di dalamnya akan bersandar pada keyakinan yang lebih teguh. Pasti. Pasti mereka akan menerima sebagai kenyataan yang telah ditentukan Yang Maha Agung. Keteguhan dan keyakinan itu akan menjadi penopang bagimu dan juga saudaramu, Anakmas Wuryah. Mereka selamanya tetap percaya bahwa Mataram adalah negeri di bawah lindungan Yang Maha Tinggi, negeri gemah ripah, loh jinawi, nandur sing dipangan, mangan sing ditandur.”

Menerima ucapan yang seolah terdengar sebagai petuah akhir lalu memahatnya cukup dalam pada dinding hati, Raden Mas Rangsang lantas memalingkan pandangan pada Agung Sedayu. “Aku kira engkau cukup jelas mendengar dan mengerti, Kakang Sedayu. Bulat keinginan Ayah untuk berburu.”

“Saya, Pangeran,” ucap Agung Sedayu.

Panembahan Hanykrawati perlahan bangkit, lalu berkata, “Siapkan segala sesuatunya dalam dua hari mendatang.” Kemudian ia mengakhiri pertemuan dengan pesan-pesan yang sepertinya sengaja dikhususkan bagi putranya dan Agung Sedayu. Sebelum meninggalkan ruangan, Panembahan Hanykrawati berucap lirih, “Aku tinggalkan negeri ini pada kalian dengan kepercayaan.”

Agung Sedayu tetap duduk merendah. Ketika mencoba menatap wajah Panembahan Hanykrawati yang berjarak lebih dekat lagi, Agung Sedayu benar-benar tak sanggup. “Keagungan wibawakah yang mengitari beliau?” bertanya Agung Sedayu pada dirinya. Sambil memandang ke dalam ruang hatinya, Agung Sedayu segera mendapat jawaban, “Ketika seseorang merendah, maka Pemilik Alam akan meninggikannya. Ketika seseorang sadar kelemahannya, Pemilik Alam akan menguatkannya.”

Agung Sedayu kemudian berada di dalam seorang diri, tapi ternyata tidak lama karena langkah kaki Raden Mas Rangsang terdengar mendekati ruangan.

“Beginilah yang aku alami setiap berbincang dengan ayah,” ucap Raden Mas Rangsang.

Agung Sedayu hanya membekukan diri saat mendengarnya.

“Baiklah,” kata Raden Mas Rangsang kemudian, “kita ke pokok persoalan. Permasalahan yang utama.”

Agung Sedayu mengangguk. “Saya, Pangeran.”

“Kita tidak lagi mempunyai jalan lain selain berjalan di belakang Panembahan,” ucap Raden Mas Rangsang. “Tentang pengawalan atau pengamanan Panembahan Hanykrawati, apakah Kakang mempunyai pertimbangan lain?”

Pemimpin pasukan khusus Mataram tidak lantas menjawab. Ia membutuhkan waktu barang sejenak. “Pertentangan di dalam tubuh keprajuritan sudah semakin tajam meski belum tampak di permukaan, Pangeran. Bila saya cermati dari laporan-laporan yang telah diketahui Ki Patih Mandaraka, hampir seluruh perwira penentang tidak saja berasal dari wilayah yang secara nyata pernah membangkan Panembahan Senapati. Ini berarti, menurut saya, pengaruh Raden Atmandaru benar-benar luar biasa walau jumlah prajurit yang tidak setia memang sedikit jumlahnya.”

“Para prajurit itu hanya mengikuti perintah atasannya. Mereka mungkin sama sekali tidak tahu tujuan-tujuan yang tersembunyi di balik setiap perintah,” tukas Raden Mas Rangsang. Lebih jauh, kemudian ia mengatakan, “Sebenarnya yang menjadi beban tersulit bagi kita adalah memisahkan antara barisan yang setia pada Mataram dengan para pembangkang. Itu bukan pekerjaan mudah. Aku tidak ingin ada kekeliruan yang mengotori tangan kita ketika sudah berhadapan secara langsung di medan perang atau Alas Krapyak. Bisa jadi, ada prajurit terbaik Mataram yang akhirnya mengalami nasib buruk karena tipu daya seseorang.” Usai berkata demikian, Raden Mas Rangsang menarik sebatang senjata yang terselip di bagian pinggang lalu memandanginya beberapa lama.

Agung Sedayu turut melihat senjata dan sepertinya ia tidak asing dengan bentuk serta selongsong yang menutupinya. “Kiai Plered,” desisnya.

Sambil meletakkan dengan hati-hati di atas meja, Raden Mas Rangsang kemudian berkata, “Aku membawanya namun tidak dengan tujuan menghadapi keris Kiai Nagasasra Sabuk Inten. Bila terjadi benturan kekuatan antar pusaka, aku serahkan padamu untuk meladeni mereka.” Pangeran Mataram tersebut menarik napas panjang, lalu berkata lagi, “Bukan berarti aku menjadikanmu sebagai tameng hidup, tetapi jika dua pusaka berhadapan, maka kebanyakan orang akan dapat memahami tempat mereka berpihak.”

“Benar-benar tidak mudah karena pengakuan Raden Atmandaru sebagai keturunan Panembahan Senapati telah menyebar dan diyakini sebagai kebenaran yang disembunyikan,” ucap Agung Sedayu perlahan.

“Mereka bukan prajurit, aku maksudkan adalah tidak semua orang di Mataram adalah prajurit. Mereka juga tidak seluruhnya mengetahui jalur keturunan Eyang Panembahan Senapati dan mereka terperangkap ucapan orang itu,” kata Raden Mas Rangsang. Kemudian dengan nada tegas dan sorot mata tajam, pangeran Mataram tersebut berkata, “Aku akan menjadi panglima tinggi dan tertinggi bila pecah kekerasan di Alas Krapyak atau di lereng Gunung Sindara.” Kegeraman tidak lagi disembunyikan oleh Raden Mas Rangsang. Dalam pandangannya, Mataram telah berada di persimpangan. Walau demikian- pikirnya – itu bukan keadaan yang sama dengan yang terjadi pada akhir kesultanan Pajang

Sedikit lama menghabiskan waktu untuk bercakap tentang cabang dari persoalan, Raden Mas Rangsang lantas menjelaskan pada Agung Sedayu mengenai gelar keamanan yang akan diputuskannya. Kadang-kadang dengan kening berkerut, Agung Sedayu berusaha mengartikan siasat yang rumit itu agar mudah dipahami oleh orang-orang yang bakal berada di bawah perintah mereka berdua.

Sekejap kemudian, coretan dan lambang-lambang alam serta keprajuritan yang tergelar di lantai berpindah-pindah seolah sedang menjadi pertunjukkan permainan nalar yang tangkas. Ketika Agung Sedayu menawarkan gelar Gedong Minep yang disesuaikan dengan jumlah pengawal, Raden Mas Rangsang mementahkannya dengan Supit Urang dengan jumlah orang yang sama. Demikianlah mereka saling mengalahkan dengan pikiran yang berjalan cepat. Raden Mas Rangsang mengagumi wawasan luas Agung Sedayu dalam pertempuran. Sementara Agung Sedayu menyimpan pujian atas kecerdasan Raden Mas Rangsang dalam penguasaan gelar-gelar perang serta kemungkinan yang muncul bila terjadi benturan. Keadaan itu berlangsung hingga fajar menjelang.

Wedaran Terkait

Geger Alas Krapyak 90

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 9

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 89

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 87

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 86

kibanjarasman

Geger Alas Krapyak 85

kibanjarasman

1 comment

c2p 26/01/2024 at 14:52

sudah kangen lanjutannyaaaa…..
serasa setaon nunggunya…
ayo AS… ayo RMR….
hancurkan pemberontak2 itu….

Reply

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.