Sampai Jumpa, Ken Arok! 5

“Saya tidak mempunyai pilihan lagi, Ki Lurah,” berkata pelan Toh Kuning.
Tiba-tiba ia menarik keris dari balik punggungnya kemudian berjungkir balik di atas kepala lurah prajurit. Toh Kuning telah keluar dari garis serang lurah prajurit. Dan kini keduanya kembali berhadapan dengan lutut sedikit menekuk dan mata Toh Kuning terlihat menyala-nyala.
Perasaan lurah prajurit tergetar hebat melihat perubahan yang terjadi pada diri Toh Kuning. Betapa seorang anak muda yang bermanis muka ketika berbicara dengannya, kini telah berubah lmenjadi pemangsa haus darah. Sekujur tubuh Toh Kuning yang basah oleh darah dan bercampur keringat di bawah timpa remang cahaya menimbulkan kengerian bagi orang yang melihatnya. Senyum ramah dan hangat dari Toh Kuning telah beralih menjadi seringai yang ganas, tatap mata itu mengandung hawa kematian.
Lurah prajurit tidak dapat membiarkan Toh Kuning mengem-bangkan olah geraknya, meskipun ia tahu bahwa pemuda ini berkelahi setengah hati pada mulanya tetapi lurah prajurit telah melihat keganasan pengikut Ki Ranu Welang. Dalam kesempatan itu lurah prajurit mendapat kesempatan untuk mengatur untuk meloncat mendahului Toh Kuning.
Senjata lurah prajurit itu merupakan senjata yang berbahaya. Senjatanya adalah sebatang pedang yang mempunyai gerigi tajam di bagian punggungnya sehingga pedang itu benar-benar mengerikan. Pedang lurah prajurit berputar dan terayun dengan dahsyat. Setiap sabetan pedang selalu diikuti desing angin yang mendengung keras sehingga dapat dibayangkan betapa besar tenaga lurah prajurit Kediri itu.
Namun lawan yang dihadapinya adalah Toh Kuning, seorang saudara seperguruan Ken Arok, yang mempunyai ilmu setingkat dengan Ken Arok dan telah mendapat pengakuan dari gurunya untuk memberi pelajaran pada cantrik-cantrik dengan tingkatan dibawahnya. Oleh karenanya Toh Kuning adalah lawan berat bagi lurah prajurit. Ia berkelahi dengan tangkas dan cekatan,. Keris ditangannya seperti mempunyai ribuan mata. Keris itu seperti mengetahui setiap lubang pada dinding pertahanan lurah prajurit.
Pertempuran keduanya menjadi semakin hebat dan dahsyat. Dengan cepat keduanya beranjak menuju puncak ilmu masing-masing sehingga mereka telah tenggelam dalam perhatian untuk mengembangkan arus serangan dan benteng untuk bertahan. Lurah prajurit tampaknya sudah tidak terpengaruh dengan keadaan kawan-kawannya. Betapa pun ia merasa sangat marah karena kekejaman lawan-lawannya tetapi ia menyadari bahwa kemarahannya tidak akan dapat menghidupkan prajurit yang telah terbunuh.
Oleh sebab itu, lurah prajurit menumpahkan seluruh perasaannya dalam olah gerak yang berbahaya dan mematikan. Ia tidak ingin hilang dalam keseimbangan meskipun akan berakhir dengan kematiannya. Maka kali ini ia menumpahkan segala yang tersisa dengan bertarung sepenuh tenaga dan kecepatan. Toh Kuning sejauh ini masih dapat mengimbangi lurah prajurit. Ia adalah pemuda yang lincah dan tangkas serta mempunyai kelebihan nalar. Seringkali Toh Kuning menambahkan sendiri gerakan yang tidak diajarkan oleh gurunya dalam bagian-bagian tertentu dari ilmu perguruan Purna Bidaran. Berkali-kali lurah prajurit mengeluarkan seruan tertahan karena ia terkejut dengan olah gerak Toh Kuning yang dirasanya sangat aneh dan membingungkan. Anak muda yang lincah dan cekatan. Geraknya kadang-kadang terlihat aneh dan membingungkan.

“Kau tidak akan lama bertahan!” kata lurah prajurit sambil menjulurkan pedang ke bagian leher Toh Kuning.
Toh Kuning mengayunkan tubuhnya ke samping, menghindar dari tusukan pedang yang tiba-tiba berubah arah dengan menebas menyilang. Toh Kuning memiringkan tubuhnya sekaligus melepaskan serangan balasan dengan keris yang menyusup lambung lurah prajurit yang terbuka. Namun lurah prajurit kemudian menjatuhkan diri dengan bergulingan lalu bangkit dan memutar pedangnya menyambar dada Toh Kuning.
Para pengikut Ki Ranu Welang bergerak mendekati lingkaran perkelahian Toh Kuning. Mereka berdiri mengelilingi mereka dan sesekali bersorak-sorak ketika lurah prajurit meloncat surut atau jatuh bergulingan.
Lurah prajurit memahami jika ia tidak akan dapat hidup sekalipun dari Toh Kuning. Ia meloncat jauh ke belakang dan menyusun ulang tata geraknya. Ia telah membuat keputusan terakhir. . Pedangnya telah dilambari tenaga inti dan tangan kirinya tampak mengeras. Tiba-tiba ia meloncat jauh menerjang Toh Kuning dengan sangat cepat. Sangat sulit bagi mata biasa untuk melihat kecepatan gerak lurah prajurit yang telah siap mengadu tenaga inti dengan Toh Kuning.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *