Sampai Jumpa, Ken Arok! 4

Begitu pula yang terjadi di dalam kelompok Ki Ranu Welang. Meskipun mereka semua adalah orang-orang yang seringkali berbuat jahat, namun tindakan mereka juga diawali dengan tujuan yang berbeda. Di antara mereka, ada yang berbuat jahat karena menginginkan kemuliaan. Ia mengukur keberhasilan berdasarkan hasil yang diperoleh. Ada juga yang berbuat jahat karena ia tidak memiliki keterampilan lain selain merampas dan membunuh.
Maka, dengan demikian, perkelahian orang-orang itu mempunyai tujuan akhir yang berbeda satu sama lain. Mereka berhadapan untuk saling mengalahkan. Memperjuangkan kepentingan masing-masing dan keyakinan yang mereka sebagai kebenaran tertinggi
Sementara itu, Toh Kuning berkelahi menghadapi lurah prajurit dengan perasaan gamang. Pada dasarnya ia telah yakin dan percaya jika para prajurit itu bukanlah musuh sebenarnya, selain itu Toh Kuning juga tidak ingin membunuh walau terpaksa. Tetapi kenyataan yang ia hadapi pada malam itu membuatnya harus segera mengambil keputusan berat.
“Oh, andai saja perkelahian ini dapat dihindari,” keluh Toh Kuning dalam hatinya. Kegamangan yang melanda hati Toh Kuning membuatnya lengah hingga pada satu kesempatan ia harus berkelahi dengan lambung yang tergores pedang.
“Mengapa kau menjadi ragu-ragu?” lurah prajurit itu bertanya.
“Kalian bukanlah orang-orang yang pantas untuk dibunuh!” Toh Kuning menjatuhkan tubuhnya dan bergulingan menjauh dari kejaran pedang lurah prajurit. “Dasar kalian! Cupat pikiran!” Umpatan Toh Kuning ditujukan pada pengikut Ki Ranu Welang. Ia benar-benar geram pada mereka.
“Sudahlah. Keluarkanlah senjatamu atau kau akan ditinggalkan sebagai mayat tidak dikenal di hutan ini.” Lurah prajurit menutup bibirnya dan mencecar Toh Kuning dengan ujung pedang yang seolah berjumlah belasan. Satu rangkaian gerak yang sangat cepat dan benar-benar merepotkan saudara seperguruan Ken Arok ini.
Menyadari keadaannya yang kian terdesak, Toh Kuning menambah kecepatan selapis demi selapis mengimbangi lurah prajurit yang semakin kuat dan cepat.
Namun dalam waktu yang sama, lurah prajurit ini semakin dekat membawa kematian bagi Toh Kuning. Tubuh lurah prajurit telah terbungkus rapat oleh gulungan pedang. Ia harus secepatnya mengakhiri perlawanan Toh Kuning yang sekali-kali melancarkan serangan balasan. Lurah prajurit beberapa kali melirik kawan-kawannya dan ia mulai gelisah karena para pengikut Ki Ranu Welang secara meyakinkan mampu menguasai keadaan.
Meskipun prajurit Kediri cukup lincah dan cekatan dalam menempatkan diri untuk bertempur berpasangan namun tekanan demi tekanan terus menerus dilakukan pengikut Ki Ranu Welang. Sehingga sedikit demi sedikit pertahanan prajurit Kediri menjadi mengendur dan terbuka, berulang kali lurah prajurit meneriakkan perintah untuk mengubah cara bertempur namun lawannya selalu dapat mengurung mereka.
Pertempuran itu telah kehilangan keseimbangan, dentang senjata beradu mulai melemah seiring dengan tumbangnya prajurit Kediri satu demi satu.
“Aku kira tidak boleh ada satu orang prajurit pun yang terlihat hidup,” lirih Toh Kuning berkata. Ia merubah keputusan dan harus membunuh perasaannya sendiri.
Jika pada pertemuan awal, Toh Kuning merasa berat dengan adanya kematian, tetapi kini ia melihat sebuah balasan yang tersembunyi. Satu kematian prajurit Kediri akan menjadi sebab turunnya sebagian besar pengawal keamanan ke setiap jengkal wilayah kerajaan. Dan itu berarti membuat sempit ruang geraknya. Leher Toh Kuning akan menjadi hadiah besar!
Kemudian ia berkata lantang, ”Bunuh semua prajurit Kediri!” Perintah Toh Kuning membuat pengikut Ki Ranu Welang lebih ganas mengayunkan senjata. Setiap prajurit yang roboh pasti akan diikuti oleh seruan kemenangan. Hasrat yang sangat besar untuk dapat keluar dari himpitan perasaan seolah terpuaskan ketika mereka mampu mengakhiri hidup lawan-lawannya.
Beberapa di antara mereka bahkan melakukan perbuatan di luar batas kemanusiaan. Tubuh-tubuh prajurit yang sudah tidak bernyawa pun masih belum lepas dari goresan ujung senjata mereka. Benar-benar kekejaman yang jauh di luar batas kewajaran!
“Biadab!” lurah prajurit membentak nyaring. Ia melihat perlakuan yang diterima oleh jasad kawan-kawannya. Mereka telah mati, lalu kepuasan apa yang dicari orang-orang ini? Pikirnya.
Darahnya mengalir lebih cepat, jantungnya berdentam lebih kuat. Ia sangat marah dan ingin keluar dari arena pertempuran. Bukan karena takut disiksa atau menerima perlakuan kejam, lurah prajurt tidak sampai hati melihat kawan-kawannya yang nyaris tidak utuh lagi jasadnya.
Walaupun ia seorang diri yang tersisa, akan tetapi ia adalah seorang prajurit Kediri yang dilantik oleh Sri Baginda Raja Kertajaya ketika sang raja ingin membentuk kesatuan khusus untuk mendukung rencana Ki Lurah Gubah Baleman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *