Padepokan Witasem
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok!

Sampai Jumpa, Ken Arok! 13

“Dengan senang hati aku katakan padamu, Orang Tua. Aku akan menyongsong kematianku dengan rasa bangga dan penuh kehormatan. Pada siang ini aku akan mati dengan kebahagiaan sepasang pengantin baru! Dan engkau akan menyesal!” Ken Arok menggeram lalu menghentakkan tenaga intinya dan menggebrak lebih kuat. Secepat kilat ia menerjang dengan kecepatan tertinggi yang dimilikinya. Keris Ken Arok menyambar bagian leher Ki Gading Seta. Melihat serangan berbahaya yang langsung mengancam hidupnya, Ki Gading Seta menyambut ujung keris Ken Arok dengan bola besinya. Ken Arok terkejut bukan main karena ia menyangka Ki Ga ding Seta akan meloncat surut, namun yang terjadi justru sama sekali di luar dugaan Ken Arok. Benturan kedua senjata itu telah membalikkan tenaga inti Ken Arok hingga memukul balik rongga dadanya.

Benturan itu tidak mempengaruhi keadaan Ken Arok. Bahkan, ia dapat melihat sebuah kesempatan justru ketika ia berada di bawah tekanan. Terhuyung mundur beberapa langkah, Ken Arok mendapat keleluasaan untuk membuka telapak kirinya dan melepaskan tenaga inti dari jarak jauh.

Tiba-tiba kaki kanan Ki Gading Seta terangkat ke atas dan menyentuh pergelangan tangan Ken Arok. Kecepatan gerak lawan Ken Arok ini tidak terpantau dengan baik oleh saudara seperguruan Toh Kuning. Ini  kehebatan lain Ki Gading Seta! Ia telah memancing perhatian Ken Arok semasa ia telah berencana bergerak menyamping atau sedikit melingkar seperti busur. Sehingga yang terjadi kemudian adalah pukulan jarak jauh Ken Arok tidak mengenai sasaran! Ia terpental surut oleh tenaga intinya yang memukul balik padanya.

Tubuh Ken Arok terguling-guling di atas tanah yang penuh bebatuan kecil. Untuk sesaat tubuh Ken Arok tertelungkup, tak bergerak, kemudian tampak jika Ken Arok berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun upaya keras Ken Arok ternyata sia-sia, ia bahkan tidak mampu menggerakkan tangan untuk menopang tubuhnya. Ki Gading Seta melangkah maju menghampiri Ken Arok, lalu duduk di sampingnya sambil berkata, ”Gurumu tidak akan melatihmu dengan ilmu kanuragan sedemikian tinggi jika ia berharap kau hanya menjadi penjahat. Aku menghormati gurumu karena ia tidak akan pernah mau berdampingan dengan pecundang. Dan aku akan membiarkanmu hidup agar kau dapat belajar tentang kejadian hari ini yang nyaris merenggut nyawamu.”

Ki Gading Seta memeriksa keadaan Ken Arok, ia meletakkan telapak tangannya di atas dada Ken Arok kemudian Ki Gading Seta mengurut beberapa bagian tubuhnya. Ki Gading Seta lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Ken Arok. Beberapa pengawal Mahendra bergegas menghampiri Ken Arok untuk mengikatnya namun Ki Gading Seta melarang mereka. Ia mengajak para pengawal meninggalkan Ken Arok yang telah bernapas sangat halus.

Ken Arok yang hanya mampu mengedipkan mata kemudian merasakan tulang-tulangnya seperti terlepas satu demi satu. Dan ia tidak dapat mengerti ketinggian ilmu Ki Gading Seta. Kebodohan telah menjadi jalan terbaik yang ditempuhnya, pikirnya pada sat itu. Betapa ia telah menganggap rendah tingkat ilmu lawannya yang sama sekali tidak memberi kesan sebagai seorang yang diandalkan Mahendra sebagai pemimpin pengawal. Walau sebelumnya ia sangat yakin bahwa kemampuannya telah cukup untuk dijadikan landasan untuk sesuatu yang dianggapnya sebagai perjuangan. Bahkan ia merasa tidak terburu untuk menghadang rombongan Mahendara. Tetapi rencana dan angan Ken Arok tidak selamanya dapat berjalan serasi dengan kenyataan. Waktu itu, dengan rasa sakit yang luar biasa dan tubuhnya serasa lumpuh, Ken Arok mulai melihat kunang-kunang beredar di sekitar matanya kemudian keadaan menjadi gelap gulita baginya. Ia telungkup tanpa daya.

Di tempat lain.

Toh Kuning yang telah meningkatkan berlapis-lapis tingkatan ilmunya masih membentur tembok pertahanan Mahendra. Saat itu ia berdiri dengan kaki sedikit rendah dan merenggang menghadapi Mahendra, saudara angkat Mahesa Wunelang.

Ia mengangkat kedua tangannya lalu menerjang Mahendra dengan sepenuh tenaga. Mahendra mengelak dengan memiringkan tubuh lalu sebuah tendangan kaki kirinya menyambar cepat dan nyaris menghantam dada Toh Kuning.

Related posts

Leave a Comment