Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 4 Tapak Ngliman

Tapak Ngliman 8

“Ki Swandanu, agaknya rombongan ini bukan sekedar rombongan saudagar kebanyakan,” bisik Ken Banawa.

Ki Swandanu beringsut mendekati pedati yang ditunjukkan kepadanya. Seperti halnya Ken Banawa, sekarang Ki Swandanu terbelalak tak percaya melihat banyak sekali benda-benda yang lebih tepat disebut sebagai hadiah atau upeti. Ia terdiam untuk sesaat, lalu berkata sambil menoleh Ken Banawa, “Apakah mungkin rombongan ini adalah kelompok prajurit Pajang yang sedang dalam penyamaran?” Mendapat pertanyaan itu, Ken Banawa menggelengkan kepala lalu menutup kembali pedati seperti semula, lantas memberi tanda untuk bergerak mundur ke tempat mereka mengintai.

“Saya tidak tahu, Ki Swandanu,” kata Ken Banawa sambil melihat keadaan di banjar.

“Oh,” desah Ki Swandanu membenahi letak duduknya. Katanya kemudian, “Bagaimana keadaan Ki Hanggapati dan Bondan sekarang? Seharusnya mereka telah tiba di sekitar banjar.”

“Kita percayakan pada mereka. Mungkin mereka telah ada di sekitar kita, tetapi keadaan yang terjadi di depan kita menjadi hambatan keduanya untuk mendekat kemari,” kata Ken Banawa mendengar ucapan Ki Swandanu yang seperti bergumam sendiri. Ki Banawa dapat memaklumi kegelisahan Ki Swandanu yang terikat dengan pesan Resi Gajahyana.

Pendengaran tajam Ken Banawa mendengar desir langkah mendekat. Seketika ia berbalik dengan pedang terhunus.

“Paman, ini aku, Bondan,” desis orang yang mendekati mereka.

Malam yang telah mencapai kedalaman telah menjadi gelap, tiada bulan dan bintang yang redup sinarnya tidak dapat menembus celah-celah daun yang cukup rapat. Ken Banawa merasa lega ternyata Bondan berada di dekat mereka. Bondan lantas menunjuk ke tempat persembunyian Ki Hanggapati dengan isyarat tangan. Ki Swandanu menarik napas lega dan dadanya terasa longgar.

“Keadaan sedikit menjadi lebih terang untuk saat ini. Paman, mungkin akan lebih baik kita kembali ke gua sekarang. Sementara aku dan paman Hanggapati akan mengambil kuda-kuda kita di tepi hutan,” Bondan berkata.

“Tidak, Ngger. Kita semua ke tepi hutan untuk mengambil kuda, dan besok kita kembali memasuki pedukuhan seperti orang-orang yang lain,” kata Ki Swandanu sambil menoleh ke arah Ki Banawa seakan-akan meminta persetujuan. Sepanjang perjalanan mereka semenjak beranjak meninggalkan kotaraja, Ki Swandanu memang memandang Ki Rangga Ken Banawa adalah orang yang paling pantas untuk memimpin dalam keadaan yang terhitung gawat seperti malam ini.

Ken Banawa termenung dengan alis berkerut, sejenak kemudian ucapnya, “Kita ikuti saran dari pamanmu ini, Ngger. Kembalilah ke Ki Hanggapati. Kita bertemu di tepi hutan.”

Bondan menganggukkan kepala kepada kedua orang yang dianggapnya seperti paman sendiri.  Sejenak ia menghela napas panjang, memutar tubuh lalu berkelebat cepat hilang dalam kegelapan. Kedua orang yang ia tinggalkan pun segera beringsut meninggalkan halaman banjar. Tetapi dalam hati keduanya tidak dapat mengingkari kenyataan, terutama Ki Ken Banawa, bahwa Bondan mengalami kemajuan selapis sejak menjalani lelaku tapa kalong beberapa waktu yang lalu.

Sebagaimana ketika ia meninggalkan Ki Hanggapati begitu pula saat ia kembali ke tempat semula. Bondan melakukan semuanya tanpa menimbulkan suara atau cara yang menarik perhatian orang-orang di banjar. Ki Hanggapati mendengarkan Bondan menyampaikan saran dari Ki Swandanu, lantas mengangguk setuju. Sejurus kemudian mereka bergegas membalikkan tubuh, melangkah menuju tempat kuda-kuda ditinggalkan.

Seiring dengan waktu yang mengarungi malam, empat orang dari kotaraja itu berada di tepi hutan tempat mereka meninggalkan kuda. Tidak ada percakapan di antara mereka. Atas saran Ki Hanggapati, mereka mengarahkan kuda menyisir bagian luar hutan menuju ke arah timur. Ketika di depan mereka terbentang parit dengan lebar satu tombak, tiba-tiba Bondan mendengar sayup-sayup orang berjalan di jarak yang agak jauh dari mereka.  Ia membelokkan kudanya menuruni tebing kecil dan menyusuri parit. Ki Swandanu tanpa sadar akan menggerakkan bibirnya untuk bertanya, tetapi Ki Hanggapati cepat menggamit punggungnya dan memintanya untuk mengurungkan niat. Dengan alis berkerut penuh tanda tanya dalam hatinya, Ki Swandanu pun mengikuti Ki Hanggapati dan Ki Ken Banawa yang telah berada di belakang Bondan. Tubuh mereka merapat pada punggung kuda. Kuda-kuda mereka melangkah perlahan dan gemericik aliran parit yang sedikit deras dapat menyamarkan kecipak air yang ditimbulkan oleh derap kaki kuda.

Beberapa puluh langkah kemudian Bondan memimpin rombongannya menaiki tebing parit. Dua pohon beringin besar yang berjajar telah terlihat oleh Bondan dan kini mereka menuju ke arah timur. Setelah mengambil arah kiri dari simpang tiga, Bondan menarik tali kudanya kemudian melompat turun. “Apakah tempat ini cocok untuk menjadi awal kita memasuki pedukuhan, Paman?”  Bondan menoleh pada Ki Ken Banawa.

Sejenak pandangan Ki Ken Banawa mengitari tempat itu dalam kegelapan. “Aku tidak dapat  mengatakannya. Suasana sangat gelap bagiku. Tetapi karena jarak kita dengan kedua pohon itu tidak cukup jauh, aku kira tempat ini cukup layak menjadi titik berangkat kita pagi ini.” Senapati ini melihat ke arah dua temannya yang lain. Agaknya tempat itu memang akan menjadi tempat mereka mengawali pagi hari, Ki Swandanu dan Ki Hanggapati telah mengikat kuda mereka dan duduk bersandar pada sebuah batu yang agak besar. Pemandangan yang membuat Bondan tersenyum lalu ia berbaring di atas rumput yang basah karena embun.

Ayam hutan telah berkokok untuk kedua kali.

Empat orang itu adalah orang-orang yang mempunyai ilmu cukup tinggi, sedikit waktu untuk memejamkan mata telah menjadikan tubuh mereka kembali bugar. Dalam waktu yang cukup singkat itu, Bondan mengatur jalan pernapasannya lantas melatih diri untuk mengenali watak dan sifat ilmunya yang baru.

Related posts

Tapak Ngliman 9

kibanjarasman

Tapak Ngliman 7

kibanjarasman

Tapak Ngliman 6

kibanjarasman

Tapak Ngliman 5

kibanjarasman

Leave a Comment