Padepokan Witasem
cerita silat jawa, bara di borobudur, cerita silat majapahit, cerita silat bondan, cerita silat kolosal
Bab 6 Mengguncang Pajang

Mengguncang Pajang 4

“Siapa yang menjadi pemimpin kalian setelah Ki Nagapati? Aku, Ki Banyak Abang, datang tidak untuk berperang,” suara keras Ki Banyak Abang memecah keheningan permukiman. Beberapa orang prajurit Ki Nagapati saling bertukar pandang melihat Ki Banyak Abang yang mengangkat tangan dan tidak membawa senjata.

“Apakah orang ini telah menjadi gila?” bertanya seorang prajurit pada kawannya.

“Mungkin saja. Mungkin dia telah menjadi gila karena keberadaan kita di Pajang,” jawab kawannya itu denga sekenanya.

“Baiklah, aku akan melangkah lagi lebih dekat,” seru Ki Banyak Abang yang tidak kehilangan kewaspadaan saat memandang dinding kayu yang menjadi benteng permukiman. “Luar biasa! Mereka telah benar-benar siap dalam waktu singkat untuk sebuah pertempuran,” desisnya dalam hati. Sapuan mata Ki Banyak Abang berkeliling menilai keadaan, lantas bergumam, ”Beberapa orang telah berada di tempat yang tepat untuk menghabisi pasukanku, begitu mudah seandainya mereka inginkan itu terjadi.”

loading...

“Berhenti!” tiba-tiba terdengar suara parau membentak keras dari balik pintu benteng.

Ki Banyak Abang menghentikan langkah. Dia mencoba menilai kekuatan orang yang berada di balik dinding kayu. Ki Banyak Abang tegak mematung, matanya menatap lurus pada sumber suara yang tidak terlihat karena terhalang  dinding benteng. Rambut panjang Ki Banyak Abang melambai-lambai tertiup angin kencang yang datang dari lereng Merbabu. Tiba-tiba dia merasakan udara panas datang dari arah depan. Namun demikian, dia memutuskan untuk tidak mengelak. Maka, Ki Banyak Abang segera melindungi tubuhnya dengan meningkatkan daya tahan untuk menepis angin panas yang keluar dari sela-sela dinding kayu.

“Aku berhadapan dengan orang berilmu tinggi, namun agaknya dia tidak ingin segera menunjukkan diri terlebih dahulu. Mustahil jika dia seorang pengecut,” berkata Ki Banyak Abang dalam hatinya. Tetapi dia tidak memandang rendah orang yang mendorongkan angin panas padanya.

Sebaliknya, Ra Suketi mempunyai anggapan yang berbeda dengan Ki Banyak Abang. Agaknya ia merasa senang dengan Ki Banyak Abang yang masih tegar berdiri di tempatnya tanpa melakukan gerakan sedikit pun.

“Agaknya Bhre Pajang mempunyai seorang senapati yang dapat diandalkan keteguhan hati dengan olah kanuragannya sudah berada di angkasa,” Rakryan Rangga Ra Suketi memuji Ki Banyak Abang dalam hatinya.

Tiba-tiba pendengaran Ki Banyak Abang menangkap getaran udara ketika beberapa anak panah meluncur sangat cepat membelah malam yang gelap. Sepasang tangan Ki Banyak Abang berputar,  dan dalam sekejap tiga atau empat anak panah telah berada dalam genggamannya. Sambil menahan geram di dalam hati, Ki Banyak Abang mencari alasan mengenai serangan gelap yang terlontar dari arah pasukan Ki Nagapati. Meski demikian, dia dapat menahan diri karena meyakini bahwa Ki Nagapati tidak akan mengajarkan sifat pengecut pada anak buahnya.

Dari balik benteng kayu, senyum Ra Suketi mengembang, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu benteng.

“Bukalah!” perintah Rakryan  Rangga Ra Suketi. Seorang prajurit segera membuka satu daun pintu baginya. Kemudian Ra Suketi berjalan tenang menuju tempat Ki Banyak Abang berdiri.

“Pajang mempunyai dinding yang setegar batu cadas Merbabu. Dan sudah barang tentu Bhre Pajang selalu merasa aman dengan kepercayaan yang diberikannya padamu,” berkata Rakryan Rangga Ra Suketi ketika sudah berada di dekat Ki Banyak Abang. Dia memberi hormat pada orang kepercayaan Bhre Pajang dengan senyum yang tidak dibuat-buat.

Ki Banyak Abang sedikit terkejut dengan orang bersuara parau yang ternyata mungkin berusia tidak jauh dengannya,, lantas membalas penghormatan itu sambil berkata, ”Orang setangguh Ki Sanak memang pantas untuk selalu berada di sebelah seorang panglima perang yang hebat dan tangguh.”

Untuk sejenak mereka saling beradu pandang. Saling mengenalkan diri sambil mencoba menilai dengan sorot mata yang menggetarkan dada. Tetapi keduanya adalah orang yang mungkin berada dalam tataran yang sama sehingga tak lama kemudian Ki Rangga Ra Suketi kembali mengembangkan senyum dan bertanya, ”Ki Sanak, apakah Bhre Pajang mengirim Ki Sanak untuk memberi kabar kematian Ki Nagapati?”

Luar biasa, pikir Ki Banyak Abang. Dia pun bertanya dalam hatinya, ”Bagaimana mungkin dia bertanya tentang berita buruk  dengan sorot mata yang begitu tenang dan dalam?”

“Sebaliknya, Ki Sanak,” jawab Ki Banyak Abang. Lalu katanya lagi, ”Kedatangan saya justru agar Anda sekalian dapat menjadi tenang dari kegelisahan yang mungkin saja menjangkiti hati. Pada saat seperti ini, Bhre Pajang sedang berbicara dengan Ki Nagapati tanpa ada orang ketiga.”

“Baiklah, saya percaya dengan keterangan yang Ki Sanak katakan. Saya da[at melihat sekelompok prajurit di belakang Ki Sanak dalam keadaan tenang,” berkata Ra Suketi. “Hanya saja, saya tidak dapat mengizinkan pasukan Anda masuk ke dalam. Dalam keadaan serba tidak jelas seperti sekarang ini, kehadiran Anda sekalian di dalam permukiman mungkin akan dapat menjadi bahaya bagi kita berdua.”

“Saya sependapat. Ratusan orang dengan senjata di tangan akan terbakar seperti rumput kering jika ada satu orang yang kehilangan pengamatan diri,” kata Ki Banyak Abang.

Wedaran Terkait

Mengguncang Pajang 8

kibanjarasman

Mengguncang Pajang 7

kibanjarasman

Mengguncang Pajang 6

kibanjarasman

Mengguncang Pajang 5

kibanjarasman

Mengguncang Pajang 3

kibanjarasman

Mengguncang Pajang 2

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.