Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 2 Penolakan di Kaki Merbabu

Penolakan di Kaki Merbabu 3

Bhatara Pajang merasa tidak lagi perlu menambahkan atau mengungkapkan pikirannya, lalu katanya pada pelayan, ”Baiklah, sampaikan kepada Ki Nagapati bahwa aku akan menemuinya menjelang tengah malam nanti.” Pelayan khusus itu kemudian meminta diri dan bergegas keluar dari istana.

Sepeninggal pelayan khusus itu, Ki Ragapadma bangkit berdiri lalu berkata dengan nada tersamar, ”Sri Bhatara, kita tidak dapat begitu saja menerima seorang pengecut seperti Ki Nagapati di tlatah Pajang. Ia dengan sombong telah berani menentang keputusan Sri Kertarajasa Jayawardhana. Kemudian dengan angkuh ia mengepung istana Sri Jayanegara. Sekarang ia berada di wilayah Pajang. Jika bukan untuk menduduki kota ini, apakah ada kemungkinan lain yang sekiranya dapat diterima dengan nalar?”

“Ki Ragapadma, saya mempunyai penalaran yang sama dengan Anda. Namun saya tidak dapat berbuat lebih jauh mengingat Ki Nagapati juga mempunyai jasa besar dalam membantu Sri Kertarajasa Jayawardhana.”

“Bukan Ki Nagapati. Saya tidak berkata dengan sebuah nama sebagai acuan. Tuanku! Lembu Sora tidak dapat dihubungkan dengan Ki Nagapati.” Raut wajah Ki Ragapadma sedikit mengeras. Rona merah yang melintas di wajahnya sedikit disamarkan dengan keadaan di dalam ruangan yang tidak begitu terang. Dengan begitu, Bhre Pajang tidak mengetahui perubahan wajah yang terjadi pada salah satu tumenggung terkuat di Pajang.

“Dan aku tidak dapat begitu saja menganggapnya akan menyerang Pajang, Ki Tumenggung. Sementara ini aku akan menemuinya,” ucap Bhatara Pajang sambil bangkit dari tempat duduknya lalu beranjak masuk ke bagian belakang istana. Demikianlah ketika Bhre Pajang meninggalkan ruangan, Ki Ragapadma bergegas menuju satu bangunan yang tempatnya bekerja. Bangunan itu berukuran tidak terlalu besar dan terletak di luar dinding halaman istana.

Tanpa setahu Ki Ragapadma, Bhre Pajang memanggil seorang pelayan khusus. “Perintahkan Ki Banyak Abang agar segera menemuiku di dalam bilik. Jika engkau tidak dapat menemukannya, kau harus laporkan  kepadaku sebelum matahari tenggelam.”

“Baik, Sri Bhatara.”

Pelayan khusus itu segera pergi mengambil kudanya lantas membedal kuda ke arah selatan.

“Apa yang sebenarnya menjadi tujuan Ki Nagapati datang ke Pajang dengan begitu banyak pengikut? Aku mengetahui bahwa permintaannya telah ditolak oleh Kakang Jayanegara. Apakah mungkin dia akan mengajakku bergabung dengannya dan menduduki kotaraja?” desis Bhre Pajang dalam hati. Sejenak ia menimbang peran serta orang asing ketika Ra Dyan Wijaya memulai pergerakan. Pada waktu itu, di lingkungan istana telah hadir dua orang asing yang berasal dari daratan Tiongkok.

Terdengar derit pintu yang perlahan didorong dari luar. Seorang perempuan setengah baya memasuki bilik sambil menuangkan wedang sere sejenak sebelum ia duduk tak jauh dari Bhre Pajang.

“Kakang, serba sedikit saya mendengar kedatangan sepasukan besar dari kotaraja. Bahaya apalagi yang akan mengancam wilayah ini?” tanya perempuan yang rambutnya tergelung rapi ke belakang. Sepasang konde terselip diantara gelungan rambutnya. Alis mata-nya yang tipis semakin memberi kesan ketajaman nalar yang dimi-likinya.

“Ki Nagapati!” jawab Bhre Pajang pendek.

“Ki Nagapati? Untuk apa ia datang dengan kuda-kuda yang sangat banyak?” desah perlahan Nyi Humalang yang sepertinya hanya dapat ia dengar sendiri. Sambil menarik napas panjang, ia berkata, ”Kakang, apakah tak sebaiknya Kakang mengirim petugas sandi ke perkemahan mereka?”

“Aku telah memanggil Ki Banyak Abang. Sebelum malam tiba, ia akan memasuki ruangan ini. Nyi Humalang, bukankah kau telah menjadi istriku sejak lama?”

“Apa yang sedang Anda pikirkan, Kakang?” bertanya Nyi Humalang kemudian bangkit berdiri mendekati suaminya.

“Duduklah,” berkata Bhre Pajang lalu, ”aku ingin bertemu dengan Resi Gajahyana. Agaknya aku membutuhkan keluasan wawasan dan ketajaman panggraita yang tertanam dalam dirinya.”

“Tentang Ki Nagapati?”

“Kedatangannya dari kotaraja tidak membuatku khawatir jika ia akan menyerangku. Namun jika ia memaksa agar terjadi perang, sudah barang tentu kau tahu kesiapan prajurit-prajurit Pajang. Sebenarnya aku merisaukan kedatangan dua orang asing dari negeri seberang. Aku masih mengira kedatangan mereka adalah suatu kebetulan. Namun mereka juga membawa pertanda bahwa mereka adalah duta dari rajanya. Kau tahu maksudku?”

Related posts

Penolakan di Kaki Merbabu 9

kibanjarasman

Penolakan di Kaki Merbabu 8

kibanjarasman

Penolakan di Kaki Merbabu 7

kibanjarasman

Penolakan di Kaki Merbabu 6

kibanjarasman

Leave a Comment