Padepokan Witasem
api di bukit menoreh, mataram, kiai gringsing, kiai plered, panembahan hanykrawati, agung sedayu
Bab 5 Merebut Mataram

Merebut Mataram 41

Hingga waktu perbincangan itu, Swandaru tidak berpikir bahwa sesungguhnya ia sedang  mempertaruhkan segala hal yang terhubung dengan kehidupannya : keluarga dan masa depan, rakyat kademangan dan penghidupan, tatanan dan keselarasan.

“Dengan orang-orang yang lebih mengutamakan kepentingan masing-masing, sudah barang tentu kehidupan Sangkal Putung akan berubah. Segalanya akan menjadi berbeda,” Ki Demang berkata.

“Setiap perubahan akan membuat sebuah perkembangan, dan tentu saja itu akan mengubah banyak hal, Ayah.” Swandaru menegaskan keyakinannya.

“Ya, dan salah satu yang berubah adalah hilangnya mbokayu Pandan Wangi, ayah dan segalanya dari kehidupan Kakang. Siapa yang sudi hidup bersama pembangkang? Lalu, apakah Kakang dapat menduga perasaan seorang anak bila ia mendengar kisah ayahnya? Kisah seorang lelaki yang sengaja mengucilkan keluarganya dan mungkin akan ada tambahan-tambahan yang akan menjadikan Kakang lebih buruk dalam pandangannya. Siapa yang dapat menjaga itu semua?”

“Aku kira waktuku telah tiba. Seberkas cahaya menerangi jalanku,” kata Swandaru. Sambil memandang Sekar Mirah, katanya, “Mirah.  Peluang tidak pernah lagi menjemput seseorang. Sekali ia pergi, ia tidak akan kembali. Sebaiknya kalian berkemas, lalu menetap untuk sementara waktu di Randulanang.  Pedukuhan induk akan aku serahkan pada Raden Atmandaru sebentar lagi.”

“Swandaru!” bentak Ki Demang dengan suara bergetar. Ketegangan tampak dari raut wajahnya. Lekat memandang Swandaru dengan tatapan mata seekor elang yang sedang berburu. Isi benak Ki Demang tak berhenti dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menganggu. Bagaimana ia dapat percaya dengan yang baru diucapkan Swandaru? Menyerahkan pedukuhan induk? Sepasang lengan Ki Demang bergerak-gerak sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu namun bahasa tubuhnya lebih cepat dari bibirnya. Sejenak kemudian, setelah dapat menguasai perasaan, Ki Demang berkata, “Baiklah. Kita coba duduk bersama, katakanlah jika aku percaya padamu dan aku yakin dengan keberhasilanmu. Lalu bagaimana dengan angger Sedayu? Apakah beliau akan tenang dan duduk seperti tidak terjadi sesuatu pada keluarganya?”

Sekar Mirah segera merengkuh putrinya yang tersentak dengan suara Ki Demang Sangkal Putung. Bayi perempuan yang cantik itu pun kembali berpeluk lelap. Meski hatinya berguncang hebat, tetapi ia harus cepat mengendapkan diri. Kemudian kata Sekar Mirah, “Aku pikir, baiklah, aku mendukung usaha Kakang. Pada saat Kakang Agung Sedayu mengetahui semuanya, lantas akankah anak ini, kemenakan Kakang ini harus berpisah dengan ayahnya?”

Tidak terpikir oleh Swandaru tentang tanggapan yang didengarnya dari ayah dan adiknya. Sebelumnya, ia sangat yakin bahwa mereka akan mendukung sepenuh hati. “Ah, mengapa kalian berpikir serumit itu? Mengapa memberiku gambaran dan bayangan yang belum tentu terjadi? Apakah Kakang Agung Sedayu akan diam saja? Ya, semestinya memang begitu. Sebagai kakak seperguruan dan pengganti guru, Kakang Agung Sedayu seharusnya berada di belakangku dengan segenap perhatian dan pertimbangan matang. Bukan bersikap seperti seseorang yang ingin menjadi pahlawan seperti di masa lalu.” Ucapan Swandaru terlontar begitu tenang dan percaya diri. Penentangan dari Ki Demang Sangkal Putng dan Sekar Mirah seolah tidak sanggup membuat bekas di hatinya. “Aku akan menyelesaikan segala permasalahan peralihan di Sangkal Putung dengan baik. Tidak akan ada orang yang kecewa. Semua orang akan bahagia.”

“Peralihan? Kakang menganggap penyerahan kademangan sebagai peralihan? Begitu saja?”

“Apa yang mesti dibicarakan? Hanya sedikit hasil olah kekayaan Sangkal Putung yang berpindah ke Raden Atmandaru, dan dalam keadaan itu, aku telah menjadi orang yang akan diperhitungkan di dalam lingkarannya.”

“Berhentilah untuk bicara penyerahan itu, Swandaru. Aku ingin kau dapat menjawab bila Angger Sedayu menanyakan perkembangan yang engkau sebabkan.” Suara Ki Demang masih bergetar, dan sepertinya sulit baginya untuk bertahan agar tetap tenang.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai sikap Kakang Agung Sedayu. Aku kira tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya lagi. Dengan sifat dan watak Kakang Agung Sedayu yang lemah dan mudah melunak, keberhasilanku dapat tertunda. Aku tidak menyalahkannya atau kecewa dengan segala yang ada padanya, aku hanya ingin menenangkan diri lalu mewujudkan cita-citaku. Itu saja.”

“Kakang masih terlalu tinggi menilai kemampuan diri. Terlalu jauh menilai seseorang dari harapan dan mimpinya. Dengan sikap Kakang yang mencoba meniadakan keberadaan ayah dari anakku ini, aku pikir Kakang sangat terburu-buru ingin menang. Perkataan Kakang tentang ketenangan hanya usaha menjauh dari kenyataan, bahwa Kakang Swandaru begitu gentar menghadapi Mataram. Ya, Kakang masih menyimpan ketakutan bila harus berhadapan dengan Kakang Agung Sedayu. Selain itu, apakah Kakang sudah benar-benar mempersiapkan diri dengan jawaban-jawaban yang masuk akal ketika Mbokayu Pandan Wangi berada di dalam bilik ini? Kakang sudah siapkan jawaban? Jangan terlampau yakin dan tenang bila Kakang ingin membunuh diri sendiri.”

“Oh, apakah ia akan datang?” tanya Swandaru.

Sekar Mirah menggeleng pelan. Ia berkata dengan nada getir dan mencibir, “Apakah ilmu dan kemampuan Kakang sudah setara dengan Mbokayu Pandan Wangi? Apakah Kakang memang benar bersiap membunuh Mbokayu bila berhadapan dan harus beradu laga?”

Barangkali memang bukan Swandaru yang berhadap-hadapan dengan Sekar Mirah dan Ki Demang. Katanya, “Peperangan bukan saja melibatkan seorang demi seorang, tetapi ratusan, bahkan ribuan. Aku adalah pengecut bila meninggalkan gelanggang ketika harus berhadapan dengan Pandan Wangi. Bagaimanapun, ia masih seorang istri dari lelaki yang bernama Swandaru Geni. Ia wajib mengikuti dan mematuhi pilihan suaminya. Dengan atau tanpa rencana, dengan atau tanpa harapan, peperangan pasti terjadi. Kalian dapat pergi jauh dan sangat jauh bila waktunya hampir tiba.”

Swandaru menarik diri sejenak dari perbincangan yang hampir mengerucut. Gumamnya, “Aku akan melakukan segala apa yang telah aku katakan. Aku akan menjadikan hati dan semangatku sebagai perisai dan senjata yang melindungiku dari jari-jemari yang menyesatkan. Hatiku adalah rumah terbaik bagi kalian, Pandan Wangi dan anakku. Semangatku adalah cahaya penuntun bagi seorang Agung Sedayu. Sejak Tohpati mengepung Sangkal Putung, aku tidak pernah berhenti untuk mengingat keadaan itu. Aku tidak kelelahan untuk menjaga mimpi sebagai pemimpin Mataram. Aku hidup di antara sinar matahari dan tumbuh-tumbuhan. Aku berada di dalam kesejukan sepanjang masa.”

“Dan aku akan mengingatimu sebagai seorang pengecut. Mungkin aku akan menyesali kedatangan Kakang pada malam ini,” berkata Sekar Mirah dengan berani.

“Waktu akan berganti. Malam akan beranjak pergi. Aku tidak ingin terlambat untuk melakukan penyerahan ini.”

“Swandaru, Swandaru. Hentikan kegilaan ini,” kata Ki Demang Sangkal Putung. Dalam hatinya, ia besar berharap datang pertolongan. Bila bukan Pandan Wangi, Ki Gede Menoreh adalah salah seorang yang sangat diharapkannya. “Bila ayah dan anak itu juga diabaikan olehnya, semoga Gusti mengampunimu, Ngger. Semoga,” hati Ki Demang mengiba. Welas dan asih Yang Maha Agung adalah pintu yang dilewatinya dengan waswas. Dalam waktu itu, Ki Demang beranjak bangkit lalu menggenggam erat tangan Sekar Mirah dengan mata berkaca-kaca.

Related posts

Merebut Mataram 9

kibanjarasman

Merebut Mataram 8

kibanjarasman

Merebut Mataram 70

kibanjarasman

Merebut Mataram 7

kibanjarasman

Leave a Comment