Padepokan Witasem
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok!

Sampai Jumpa, Ken Arok! 3

Jarak Jalur Banengan sebenarnya cukup jauh dari Alas Kawitan, tetapi Toh Kuning menempuh jalan pintas. Jika seseorang berkuda ketika matahari terbit dengan kencang tanpa henti, maka biasanya ia akan tiba di tepi Alas Kawitan saat sinar matahari mulai menggatalkan kulit. Tetapi lembah dan jurang yang memisahkan kedua tempat itu adalah daerah jelajah Toh Kuning, maka tanpa kesulitan Toh Kuning telah berada di dekat telaga. Ia memilih tempat itu karena tepi telaga adalah bagian wilayah yang sering dijadikan persinggahan  bagi para pedagang. Air yang bening dan sedikit rimbun dedaunan pohon-pohon yang tinggi menjadikan tempat itu begitu asri bagi mereka yang mengalami penat dan lelah.

Toh Kuning berjalan dengan hati-hati mendekati sekelompok orang yang telah saling berhadapan di dekat sebuah api unggun.

“Celaka!” desis Toh Kuning lalu merendahkan tubuhnya dan bersembunyi di balik rimbun semak.

“Siapakah Ki Sanak sekalian?” bertanya seorang prajurit yang berpangkat lebih tinggi dari yang lain.

“Kami serombongan orang yang akan pergi ke Jenggala,” jawab seorang bertubuh kurus dan berbibir tebal.

“Aku pernah melihat orang itu di rumah Ki Ranu Welang,” Toh Kuning berkata dalam hatinya ketika ia keluar dari tempatnya bersembunyi dan berusaha mendekati kerumunan orang di dekat  telaga. Ia memutuskan untuk menampilkan diri. Sedikit rasa percaya diri dan keyakinan pada ilmu yang dikuasainya telah mendorong Toh Kuning berbuat berani.

“Ki Sanak datang dari mana?” prajurit itu bertanya lagi.

“Kami berasal dari Tumapel.”

“Kalian bukan orang Tumapel,” potong prajurit itu.

Derai tawa terdengar dari kelompok Ki Ranu Welang. Orang kurus itu kemudian membuka bibirnya, “Apakah kepentingan kalian, Ki Sanak?”

“Kami adalah prajurit Kediri. Seharusnya kalian tahu jika Alas Kawitan adalah tempat terlarang untuk bermalam,” jawab prajurit itu. Kembali pengikut Ki Ranu Welang tertawa mendengar jawaban dari prajurit Kediri.

Para prajurit itu segera bersiap dan senjata mereka telah merunduk. Suasana tegang sangat terasa di dalam dua kerumunan itu.

Kemudian, lurah prajurit itu memberi perintah pada pengikut Ki Ranu Welang sambil menunjuk ke suatu tempat, ”Atas nama Raja Kediri, aku perintahkan kalian untuk meletakkan senjata dan mengumpulkannya di sebelah utara. Aku ingin kalian melakukannya tanpa bantahan.  Aku adalah wakil raja bagi kalian.”

Para pengikut Ki Ranu Welang menjadi geram dan jengkel dengan perintah lurah prajurit Kediri.

“Ia berpikir sebagai wakil raja? Mungkin kepala lurah itu harus segera dipisahkan agar ia cepat menjadi sadar diri.”

Pikir orang yang bertubuh kurus itu. Ia berjalan mendekat dan mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah lurah prajurit.

Bentaknya, ”Kami tidak takut pada prajurit Kediri dan kalian tidak bekerja untuk memberi kami rasa takut. Bahkan seorang raja pun tidak mempunyai arti yang begitu penting bagi kami. Kertajaya tidak pernah peduli pada kami. Kertajaya tidak mengerti rasa sakit yang kami alami. Lalu, bagaimana kami akan menyatakan tunduk padanya? Apa kepentingan Kertajaya yang sebenarnya?”

“Aku ulangi kata-kataku sekali lagi, Ki Sanak! Alas Kawitan adalah tempat terlarang untuk bermalam. Ki Sanak sekalian tidak boleh bermalam di tempat ini,” lurah prajurit menegaskan. Dengan pandang mata yang awas, ia memberi perintah pada teman-temannya untuk bersiap. Gelegak jiwanya makin kuat. Dorongan hati untuk segera memberi pelajaran pada kawanan Ranu Welang merambat lebih jauh untuk menguasai hatinya.

Setengah berteriak ia berkata, “Kalian harus patuhi aturan kerajaan. Kalian harus mengemasi semua barang-barang kalian dan pergi dari sini. Jika kalian membangkang perintah kami, pasukanku akan datang dan menghukum kalian!”

“Tunggu!” lantang suara tiba-tiba menerobos ketegangan. “Ki Lurah, saya mohon untuk menahan senjata,” terdengar orang berkata-kata dan tiba-tiba muncul Toh Kuning dari kegelapan.

Ia berkata dengan tenang, ”Kami mengira jika kami meneruskan perjalanan maka kawanan begal akan menghabisi nyawa kami semua. Dan pemimpin kelompok kami…” Toh Kuning menghentikan ucapannya lalu menunjuk orang bertubuh kurus itu lalu ia meneruskan,”… memilih tempat ini untuk bermalam agar kami aman dari kejahatan yang mungkin telah mengintai kami sejak dari Tumapel.”

Related posts

Sampai Jumpa, Ken Arok! 9

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 8

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 7

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 6

kibanjarasman

Leave a Comment