Sampai Jumpa, Ken Arok! 3

Lurah prajurit menatap dengan tajam wajah Toh Kuning. “ Anak Muda, aku minta kalian dapat membantu kami yang sedang berusaha menjalankan tugas,” kata lurah prajurit. Ia merenung sejenak. Kemudian lanjutnya, ”Baiklah, kami akan mengantarkan kalian ke gardu penjagaan terdekat. Aku harap kalian tidak salah mengerti bahwa kami semata-mata hanya menjalankan tugas. Namun kami juga mempunyai perasaan maka dari itu kami akan mengawal kalian ke gardu jaga.”
Toh Kuning merenung sesaat.
Namun tiba-tiba orang bertubuh kurus berteriak memberi perintah pada kawan-kawannya untuk menyerang prajurit-prajurit Kediri. Seorang pengikut Ki Ranu Welang dengan cekatan melempar belati pendek dan mengenai dada seorang prajurit yang akan memukul kentongan kecil yang dibawanya. Ketika prajurit yang lain berusaha mengambil kentongan yang terjatuh untuk membunyikan tanda bahaya, maka seorang dari pengikut Ki Ranu Welang bergerak lebih cepat menghadangnya. Sekejap kemudian keduanya terlibat dalam perkelahian seru
Meskipun seorang prajurit telah roboh, pemimpin prajurit Kediri masih mencoba mencegah terjadinya pertempuran yang lebih luas. Ia berseru, “Jangan serang kami! Jangan coba menghalangi kami melakukan tugas!” Tetapi ia harus meloncat surut menghindari sabetan pedang yang menyambar keningnya. Dan kemudian para prajurit Kediri harus mengangkat senjata untuk mempertahankan diri.
“Hai orang-orang padesan! Berhentilah menyerang para prajurit,” teriak Toh Kuning yang menjadi gugup dengan peristiwa yang tiba-tiba terjadi. “Kalian benar-benar sialan!”
“Aku tidak peduli denganmu, Anak Muda. Kau datang untuk bermalam dengan kami, dan besok pagi kita akan merampas pedagang kaya seperti yang kau katakan pada pemimpin kami. Dan tentu saja Ki Ranu Welang tidak akan membiarkanmu hidup tenang jika kau membela para prajurit Kediri!” orang bertubuh kurus membalas seruan Toh Kuning.
“Benarkah itu?” seru lurah prajurit tidak percaya. Di tengah desing dan sambaran senjata, ia berkata, ”Aku menyesal telah mendengarkanmu, Anak Muda. Aku benar-benar terperdaya oleh sikap manismu, maka sebaiknya kau persiapkan diri untuk menghabiskan sisa waktu di tepi telaga ini!” Lurah prajurit itu lantas mengibaskan pedang pada Toh Kuning yang masih mencoba untuk menjelaskan persoalan.

Sebenarnya Toh Kuning enggan untuk bertempur melawan prajurit Kediri, namun ia teringat Ken Arok dan rencana yang telah mereka susun.
“Aku tidak mungkin menyimpang kesepakatan dengan Ki Ranu Welang. Aku tidak mungkin dapat mengecewakan Ken Arok,” pikir Toh Kuning lantas membalas serangan lurah prajurit dengan setengah hati.
Sambil berloncatan menyerang Toh Kuning, lurah prajurit itu terlihat benar-benar kesal lalu berkata lantang, ”Anak Muda, kau akan menyesali keputusanmu dengan membela orang-orang Ki Ranu Welang. Mahesa Wunelang pasti memberimu kesempatan jika kau mundur dari kekacauan ini!”
Lurah prajurit,sebelumnya, mempunyai kesimpulan sementara jika kedudukan pasukannya akan menjadi baik apabila ia dapat menghadapi orang bertubuh kurus, kini ia ragu-ragu karena Toh Kuning selalu menghalangi pergerakannya mendekati prajurit lain. Pada saat itu pengikut Ki Ranu Welang berkelahi dengan garang sambil mengeluarkan kata-kata kasar. Benturan itu membuka mata prajurit Kediri bahwa kawanan yang mereka hadapi ternyata mampu menggunakan senjata dengan baik. Bahkan lurah prajurit itu sendiri kagum dengan keteraturan kawanan Ki Ranu Welang saat menerapkan siasat yang diteriakkan oleh orang bertubuh kurus.
Meskipun jumlah prajurit Kediri lebih sedikit daripada lawannya, tetapi mereka adalah orang-orang yang setiap hari selalu berlatih perang dengan berbagai siasat dan susunan gelar. Dengan begitu, sekalipun kawanan penyamun mampu bertempur berpasangan namun prajurit Kediri dapat mengimbanginya dengan gelar perang yang terus menerus berubah sesuai perintah pimpinan mereka.

Perkelahian semakin sengit. Orang-orang yang berada di dalam lingkaran maut mulai bersimbah darah, meski belum ada yang tumbang.
Setiap orang mempunyai tujuan yang berbeda walaupun mereka terikat pada satu kelompok yang sama. Ada prajurit yang bertempur mati-matian untuk kenaikan pangkat dan nama baik, ada pula yang berkelahi karena ingin mempertahankan hidup, ada pula yang mengangkat senjatanya demi keamanan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *