Dalam pertempuran itu, Ki Sanden Merti harus berjuang mati-matian mempertahankan kedudukan agar tetap seimbang. Meski belum ada lecet pada kulit atau memar pada bagian tubuh...
Ketenangan Bhatara Pajang pun memaksa Bondan menyerah pada keinginannya. Sebenarnya Bondan tidak ingin mengatakan itu di hadapan pamannya. Apalagi tidak ada desakan dari Bhre Pajang,...
Debar jantung orang-orang semakin kuat memukul rongga dada masing-masing. Mereka tertegun dan terguncang ketika menyaksikan tubuh Panembahan Hanykrawati bersandar lemas pada dada Ki Anjangsana. Meski...
Apakah Ki Kebo Saloka benar-benar masih menyimpan kekuatan di dalam dirinya? Ia terpental, terdorong mundur hingga beberapa langkah namun kemudian kembali berdiri tegak. Tidak ada...
Bhre Pajang tersenyum dengan sedikit rasa geli dengan jawaban dari keponakannya. “Kamu selalu mempunyai cara untuk mengalihkan perhatian paman dan itu nyaris berhasil.” Derai tawa...
Belasan langkah di belakang Bondan adalah Bhre Pajang. Pemimpin Pajang ini sengaja mengikuti jejak Bondan. “Aku yakin dia mampu melakukannya. Dan sebaiknya memang aku tidak...
Hanya saja keseimbangan itu yang harus diraih dengan luka-luka dan darah. Belati kecil yang terikat pada ujung cambuk Ki Kebo Saloka mampu mematuk dan menyengat...
Resi Gajahyana, sepeninggal tiga orang yang telah diajaknya bicara, tengah duduk bersila. Mata hatinya memandang lautan yang bebas dari jangkauan. Ia mengarungi kembali sebuah kenangan....
Meski demikian, Ki Sanden Merti yang termasuk orang yang mampu melihat diri jauh ke dalam sehingga tata gerak asing yang diperagakan Agung Sedayu pun menjadi...
error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.