Padepokan Witasem
Pajang, Gajahyana, majapahit, Lembu Sora, bara di borodubur, cerita silat jawa, padepokan witasem, tapak ngliman
Bab 4 Tapak Ngliman

Tapak Ngliman 15

Dengan kecepatan tinggi, Ki Swandanu melayang jungkir balik dan kerisnya sangat cepat menggores cukup dalam leher seorang lawannya. Dan ketika seorang lagi memutar tubuh berhadapan dengannya, keris Ki Swandanu telah menyentuh dada lawannya hingga seperempat bagian kerisnya berada ke dalam.

Keduanya bergegas memungut senjata empat lawannya yang tergolek tanpa nyawa kemudian mengejar kelompok Ki Gancar Sengon.

Semasa kelompok yang baru datang telah menyatukan diri dengan kelompok Ki Kalong Pitu, Ki Sukarta dan kelompoknya sedang berjibaku mempertahankan keseimbangan. Jalutama melihat keadaan sulit akan menimpa para pengawalnya. Ia memutar otak cepat agar segera keluar dari tekanan demi tekanan yang semakin cepat menghampiri mereka. Jumlah lawan yang jauh lebih banyak benar-benar memaksa para pengawal Sima Menoreh seperti berdiri di atas bara api.

”Kang Wardi! Buka gelar Glatik Ngulandara!” perintahnya pada pemimpin pengawal. Kang Wardi yang sedang menghadapi seorang lawan segera melepas lawannya, meloncat mundur, memutar tubuhnya sambil meneriakkan sejumlah aba-aba. Serentak para pengawal Menoreh melakukan perubahan gerak yang tidak dimengerti lawan-lawannya, sekejap saja mereka telah terhimpun dalam dua barisan gelar khusus itu. Bahkan Ki Sukarta pun akhirnya harus meloncat jauh agar dapat bergabung dalam gelar.

loading...

Sebagian besar orang Menoreh berada di depan dipimpin Jalutama, sedangkan Kang Wardi berada di tengah gelar. Sejumlah kecil lainnya dan Ki Sukarta berada di belakang Kang Wardi.

Tugas Jalutama dan para pengawal di sebelahnya sebagai pemukul lawan. Sedangkan barisan belakang akan menahan kemungkinan serangan yang datang dari sisi yang berbeda. Kang Wardi mempunyai tugas berat yaitu sebagai penghubung sekaligus penutup celah kosong yang ditinggal pengawal untuk maju selangkah dua langkah. Ia harus terus menerus mengamati dua barisan yang saling memunggungi.

Gelar ini secara khusus diciptakan oleh kakeknya untuk para pengawal Sima Menoreh, lalu dikembangkan oleh ayahnya. Setiap pengawal Menoreh yang selama setahun atau lebih berlatih oleh kanuragan, maka ia akan dituntut untuk menguasai gelar ini. Oleh karenanya, mereka pun bergerak dalam gelar seolah-olah aliran sungai yang lancar mengalir dan tanpa paksaan. Jika gerakan itu dilihat akan tampak seperti sekawanan burung glatik yang terbang berduyun-duyun seolah tanpa arah. Tetapi justru itulah letak kekuatan sesunguhnya dari gelar ini. Pemimpin barisan harus dapat menilai kemampuan lawannya dan harus dapat melumpuhkan yang terkuat terlebih dahulu.

”Ah, akhirnya gelar ini dibuka juga,” kata seorang pengawal yang tersenyum mengembang meski dada dan kakinya telah meneteskan darah. Ia berkeyakinan gelar ini akan mampu mengatasi keadaan. Sementara kawan-kawannya menyambut dengan teriakan penuh semangat. Mereka sepenuhnya yakin dan percaya pada kemampuan kawannya yang lain. Untuk sesaat mereka melupakan rasa pedih akibat goresan senjata lawan-lawannya. Kekurangan dari segi jumlah akan dapat segera teratasi dengan gelar Glatik Ngulandara.

Bondan melompat jauh dan meninggalkan Ki Kalong Pitu. Ia sejenak  mengalihkan perhatiannya karena cemas dengan kesulitan orang-orang Menoreh.

”Bondan, percayakan pada kami! Selesaikan lawanmu dan kami akan berbuat sama denganmu,” Jalutama berteriak lantang. Bondan mengangkat tangannya dan mengacungkan jempol, dan pada saat yang sama ia menjadi lebih lega ketika dua sosok yang sangat dikenalnya berkelebat memasuki halaman banjar.

Ki Swandanu berseru, ”Angger Jalutama, kami berdua ikut bersamamu!” Lalu tubuhnya melayang jungkir balik melintasi barisan pengepung yang masih kebingungan dengan perubahan orang-orang Menoreh. Dua senjata segera ia serahkan pada pengawal lalu terjun bertempur di dalam gelar bersama-sama pengawal Sima Menoreh.

Ken Banawa cepat melempar senjata pada orang dari Menoreh. Kemudian meluncur deras menerjang Ki Gancar Sengon sambil mengayunkan tangan kirinya menyambit lawan-lawannya dengan anak panah. Desakan pedang Ken Banawa sekaligus menjadi pertahanannya yang terbaik telah datang menyerang bertubi-tubi. Usia yang beranjak senja tidak mengurangi  gerakannya yang mantap dan penuh perhitungan.

Ki Gancar Sengon berusaha keluar dari gelombang serangan Ken Banawa yang mengalir deras. Satu gerakan cepat yang sukar diikuti pandangan mata dilakukan Ken Banawa. Tiba-tiba ia membuat gerakan seolah akan menusuk lambungnya, Ki Gancar Sengon sempat mengira lawannya akan bunuh diri. Tetapi tidak disangka-sangka ternyata Ken Banawa dengan cepat menjepit batang pedang dengan dua jari tangan kirinya lalu memutar bagian ujungnya mengarah ke perut Ki Gancar Sengon.

Ki Gancar Sengon membelalakkan mata tidak percaya dengan kecepatan dan kekuatan jemari Ken Banawa. Ia terhuyung beberapa langkah ke belakang sambil memegang bagian atas pusarnya yang tembus oleh pedang lawannya. Ken Banawa sejenak memandangi tubuh lawannya yang membujur terlentang, Ken Banawa melesat memasuki lingkaran pertempuran yang lain dengan pedang yang masih dibasahi darah

Ki Kalong Pitu merasa sedikit longgar ketika Bondan menjauhinya. Ia menelan sebutir ramuan padat untuk mengurangi nyeri pundaknya. Tubuhnya kembali terbungkus putaran rantai besi ketika melompat jauh menerkam lawannya  saat Bondan memalingkan muka untuk melihat gelar Glatik Ngulandara.

Wedaran Terkait

Tapak Ngliman 9

kibanjarasman

Tapak Ngliman 8

kibanjarasman

Tapak Ngliman 7

kibanjarasman

Tapak Ngliman 6

kibanjarasman

Tapak Ngliman 5

kibanjarasman

Tapak Ngliman 4

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.