Padepokan Witasem
Bab 2 Sampai Jumpa, Ken Arok!

Sampai Jumpa, Ken Arok! 16

 Toh Kuning berkeinginan sangat kuat. Ia memilih padepokan terbaik dengan guru terbaik dan Toh Kuning adalah murid terbaik Begawan Purna Bidaran. Dalam pikiran awalnya, mengajak Ken Arok lalu menggunakan pengaruh Ranu Welang adalah jalan yang paling mudah dilakukannya. Dan ia berhasil mewujudkannya sebagai langkah pertama, bahkan ia telah menunjukkan kemampuan untuk memadukan kemampuan Ken Arok dengan kekuatan yang dimiliki Ranu Welang.  

 

Mahesa Wunelang memiringkan badan menghindari sabetan keris Toh Kuning. Dengan sisa tenaga yang ada, Toh Kuning masih berupaya untuk tetap bertarung pada batas tertinggi ilmunya. Keduanya saling melibat dan saling menggulung dengan sepenuh tenaga. Keadaan sekeliling mereka telah senyap dari pertempuran.

Penglihatan tajam Mahesa Wunelang telah membaca gelagat yang dialami Toh Kuning, namun ia tidak ingin berlaku ceroboh karena keris Toh Kuning masih sangat berbahaya. Ketika Mahesa Wunelang menggeser langkah ke samping, keris Toh Kuning menggelepar cepat dan berputar lalu tiba-tiba menusuk dadanya. Namun Mahesa Wunelang cepat meloncat surut dan menggandakan kekuatannya membalas serangan Toh Kuning.

Malang bagi Toh Kuning yang tiba-tiba merasa berat untuk melanjutkan perang tanding  atau beralih ke rencana lain : menyerahkan kemenangan. Ia menghimpun tekad menghadapi Mahesa Wunelang hingga batas terakhir. melangkah mundur. Pada saat itu, ia merasa akan kehilangan ruang gerak apabila tidak bergeser surut. Lalu ia memutuskan untuk menjatuhkan diri dan bergulingan menjauh. Sementara Mahesa Wunelang terus mencecar tubuh  Toh Kuning dengan ujung tombaknya yang tiada henti mematuk. Ia menderaskan serangan sederas luap air yang menuruni tebing curam. Ia mengerti bahwasanya benar-benar telah kehilangan ruang gerak.

Tetapi Toh Kuning melihat sebuah kesempatan untuk melepaskan diri dari kejaran senjata Maesa Wunelang.

Toh Kuning memutar tubuh dengan menggunakan punggung sebagai landasan sementara kedua kakinya berputar cepat menyusup  celah pertahanan Mahesa Wunelang. Oleh karena itu, Mahesa Wunelang mengubah olah gerak. Ia tiba-tiba menjadi seperti elang yang menyambar dari langit. Tubuhnya berjumpalitan, melayang lalu menukik tajam. Benturan demi benturan akhirnya membuat Toh Kuning semakin lemah dan bagian dalam dadanya seperti terhimpit sebongkah batu gunung. Tangan dan kakinya selalu tergetar hebat tatkala terjadi benturan yang melibatkan tenaga inti, walaupun demikian, ia belum berniat untuk menyerah. Setetes demi setetes darah keluar dari sela-sela bibirnya. Satu gerakan dahsyat Mahesa Wunelang datang menggebrak, Toh Kuning terpental, terjungkal, lalu terkapar.

“Meski aku berkesempatan meninggalkan gelanggang, tetapi itu bukan Toh Kuning,” gumamnya sambil berusaha menghimpun kekuatannya yang tercerai-berai. Napasnya tersengal. Sepanjang dua lengannya bergetar. Ia belum menyerah. Tidak ada keinginan itu dalam hatinya! Toh Kuning adalah pemuda yang cerdik dan berakal panjang. Melarikan diri adalah usaha untuk meraih kemenangan di waktu yang lain, itu pemikiran Toh Kuning sebelum mengawali pertemuan dengan iring-iringan Mahendara.. Tetapi pada waktu itu, pada saat berhadapan dengan Mahesa Wunelang, Toh Kuning seolah meninggalkan landasan berpikirnya. Hidup adalah kemenangan.

Untuk sekejap, Mahesa Wunelang melirik Mahendra yang kemudian menganggukkan kepala lalu meloncat surut. Sejenak Mahesa Wunelang memandang ke atas dan dilihatnya matahari telah condong ke barat. Puncak Arjuna yang menjulang tinggi ke angkasa telah berselimut gelap pada sebagian lerengnya. Ia menatap tajam Toh Kuning yang masih berbaring namun telapak tangannya mengembang dan bergetar menghimpun tenaga inti. Tahulah ia bahwa Toh Kuning mencoba menjebaknya dengan sikap tidak berdaya.

Toh Kuning sebenarnya merasa tubuhnya tidak lagi mempunyai daya untuk melepaskan tenaga inti dalam himpunan penuh. Karena itu ia tetap berbaring untuk menutupi kelemahan sambil menunggu lawannya mendekat.

Mahesa Wunelang mengambil keputusan dengan cepat. Ia akan menyerang dalam satu gebrakan mematikan. Mengakhiri perjalanan Toh Kuning menjadi pilihan utamanya. Bagi Mahesa Wunelang, bila Ken Arok dan Toh Kuning dapat bergabung lagi maka itu pertanda buruk. Maka salah satui dari mereka harus mati! Ia menekuk kedua lututnya dan kakinya merenggang. Dengan telapak kiri terbuka lebar, ia mendorong puncak tenaga inti melalui kedua tangannya ke depan. Toh Kuning yang cermat mengamati perkembangan kemudian menyambutnya dengan ayunan telapak tangan kanan yang terbuka.

Dua pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga inti berkekuatan dahsyat menyambar keluar dari dua orang yang berkepandaian tinggi ini. Mahesa Wunelang sangat terkejut dengan dorongan tenaga inti yang keluar dari telapak tangan Toh Kuning. Sementara Toh Kuning telah bersiap menyambut kematian dengan mata terbuka.

Related posts

Sampai Jumpa, Ken Arok! 9

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 8

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 7

kibanjarasman

Sampai Jumpa, Ken Arok! 6

kibanjarasman

Leave a Comment