Penaklukan Panarukan -7

“Kanjeng Adipati, memang Kanjeng Sultan secara khusus menyampaikan pesan agar Kanjeng Adipati berkenan menghadap Kanjeng Sultan,” Ki Tumenggung Suradilaga merasakan gemuruh dalam dadanya. Ia merasa kebingungan untuk mengatakan jika sebenarnya Sultan Trenggana memintanya untuk bertukar pendapat dengan Adipati Hadiwijaya. Adipati Hadiwijaya menatap tajam Ki Tumenggung Suradilaga seolah mengerti keadaan batin utusan dari Demak itu. Lantas […]

Penaklukan Panarukan 5

Waktu telah beranjak setapak demi setapak menuju fajar, Ki Tumenggung Suradilaga kencang memacu kuda melintasi lorong-lorong jalan yang menyimpang dari jalan utama. Ia telah berulang kali mendapatkan tugas khusus dari Sultan Trenggana, namun ia sekarang didera kegelisahan yang cukup mendalam. Betapa ia harus menemui Adipati Pajang dengan membawa sebilah piandel yang cukup disegani oleh orang-orang […]

Panembahan Tanpa Bayangan 5

Setapak Ki Jagabaya berkisar maju, ia mengacungkan telunjuk ke arah Sarjiwa. Lalu,” anak muda. Lihat serangan !” Ketika dilihatnya Ki Jagabaya bersiap meluncurkan serangan, Ki Winatra akhirnya membuka suara. Katanya,”Ki Jagabaya. Kami tidak mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi padamu. Lalu kau tiba – tiba berkata kematianmu akan menjadi musibah bagi pedukuhan. Sebenarnya kami tidak […]

Panembahan Tanpa Bayangan 4

Delapan orang pengawal pedukuhan yang dipimpin ki jagabaya berjalan membelah malam. Mereka menyisir jalan – jalan yang lengang dan sesekali menyibak pekarangan tetangga untuk mengambil jalan pintas. Tak memakan waktu sepenginang sirih mereka telah mencapai dinding batu di luar pedukuhan induk. Sawah yang lama tidak terawat membentang di depan mereka. Ki jagabaya menarik nafas dalam […]

Panembahan Tanpa Bayangan 2

“Marilah kita pergi dari sini sebelum orang-orang menaruh kecurigaan,” kata Ki Winatra, kemudian ia melanjutkan,” sebaiknya kita melihat-lihat tempat yang lan.” “Pasar,” Sarjiwa berkata. Nyi Winatra tersenyum mendengarnya, Sarjiwa yang menoleh ke arahnya kemudian,” kita belum makan sejak malam hampir berakhir.” Ketiganya lantas meghentak lambung kuda dan Ki Winatra memberi tanda untuk berbelok arah kiri. […]